Kedatangan Delegasi Bani Tamim Dan Turunnya Surat Al-hujuraat

“Setelah itu, delegasi-delegasi Arab berdatangan kepada Rasulullah SAW. Utharid bin Hajib bin Zurarah bin Udus At-Tamimi datang kepada Rasulullah bersama tokoh-tokoh Bani Tamim, di antaranya Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi, Az-Zibriqan bin Badr At-Tamimi salah seorang warga Bani Sa’ad, Amr bin Al-Ahtam, dan Al-Habhab bin Yazid.

“Di delegasi besar Bani Tamim juga terdapat Nu’aim bin Yazid, Qais bin Al-Harits, dan Qais bin Ashim saudara Bani Sa’ad”.

“Di delegasi Bani Tamim juga terdapat Uyainah bin Hishn bin Hu-dzaifah bin Badr Al-Fazari. Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra’ bin Habis ikut menghadiri penaklukkan Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif bersama Rasulullah. Ketika delegasi Bani Tamim menghadap Rasulullah, keduanya ikut bersama mereka.

Ketika delegasi Bani Tamim masuk ke masjid, mereka memanggil Rasulullah SAW dari belakang bilik beliau, ‘Hai Muhammad, keluarlah engkau kepada kami’. Rasulullah merasa terganggu dengan teriakan mereka, kemudian beliau keluar menemui mereka. Mereka berkata, ‘Hai Muhammad, kami datang kepadamu untuk menyaingimu, oleh karena itu, izinkan penyair dan orator kami untuk berbicara’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku memberi kepada orator kalian, jadi silakan ia berbicara’. Utharid bin Hajib berdiri dan menyampaikan orasi seperti di bawah ini, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami keutamaan dan ka-runia, karena Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia telah menjadikan kami sebagai raja-raja, menganugerahkan harta yang banyak sekali kepada kami kemudian kami berbuat baik dengan harta tersebut, menjadikan kami sebagai orang-orang timur yang paling kuat, paling banyak jumlah-nya, dan paling lengkap persenjataannya.

Siapakah di antara manusia yang bisa seperti kami? Bukankah kami adalah pemimpin-pemimpin manusia dan pemilik segala kelebihan mereka? Barangsiapa dapat menyaingi kami, silakan ia mengemukakan kele-bihan-kelebihannya seperti yang telah kami sebutkan. Jika kami mau, kami bisa berkata banyak, namun kami malu mengemukakan dengan panjang lebar apa saja yang diberikan kepada kami. Hal tersebut kami ketahui. Inilah yang kami katakan dan hendaklah kalian berkata seperti yang telah kami katakan dan bahkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah kami sebutkan’.

Usai berkata seperti itu, Utharid bin Hajib duduk.

Rasulullah SAW bersabda kepada Tsabit bin Qais bin As-Syammasy saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, ‘Hai Tsabit, berdirilah dan jawablah apa yang dikatakan orang tadi dalam orasinya’. Kemudian Tsabit bin Qais bin Asy-Syammasy menyampaikan orasinya seperti di bawah ini, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi. Dia memberikan keputusanNya di antara langit, ilmuNya meliputi kursiNya* dan tidak ada sesuatu apa pun melainkan berasal dari karu-niaNya. Dia menjadikan kami sebagai raja-raja dan memilih makhlukNya yang paling baik sebagai rasul yang paling mulia nasabnya, paling benar tutur katanya, paling baik anak keturunannya, Allah menurunkan Kitab-Nya kepada beliau, dan memberi beliau kepercayaan atas makhlukNya. Jadi, beliau adalah pilihan Allah dari alam semesta.

Kemudian beliau mengajak manusia kepada beriman kepada beliau, kemudian orang-orang yang beriman kepada Rasulullah SAW adalah kaum Muhajirin dari kaum beliau dan sanak kerabat beliau yang merupakan manusia yang paling mulia keturunannya, manusia paling tampan wajahnya, dan manusia yang paling baik amal perbuatannya.

Kemudian manusia yang pertama kali memenuhi panggilan Allah ketika mereka didakwahi Rasulullah SAW adalah kami. Kami adalah peno-long-penolong (Anshar) Allah dan pembela-pembela beliau. Kami me-merangi manusia hingga mereka beriman kepada Allah. Barangsiapa ber-iman kepada Allah dan RasulNya, darah dan hatinya terlindungi oleh kami. Barangsiapa kafir, kami memeranginya karena Allah selama-lamanya, karena pembunuhannya bagi kami adalah sesuatu yang sangat mudah. Ini yang aku katakan dan aku minta ampunan kepada Allah untukku, kaum Mukminin, dan kaum Mukminah. Wassalamu alaikum’.

Az-Zibriqan bin Badr berdiri kemudian berkata,
‘Kami adalah orang-orang mulia dan tidak ada orang hidup yang setara dengan kami
Raja-raja berasal dari kami dan gereja dibangun di tempat kami**
Sudah berapa banyak orang-orang yang telah kami paksa!
Di perang dan keutamaan kejayaan itu diikuti
Kami memberi makanan pada musim kemarau
Dengan daging rebus jika awan tidak menurunkan hujan
Anda lihat para pemberani datang kepada kami
Dari segala penjuru dengan cepat, kemudian kami menyediakan hidangan
Kami sembelih unta gemuk yang tidak berpenyakit untuk orang-orang yang singgah di tempat kami
Jika mereka singgah, mereka kenyang
Kemudian Anda tidak melihat kami pergi kepada suatu kaum untuk bersaing dengan mereka
Melainkan mereka menyerah dan mereka ibarat kepala yang siap dipotong
Barangsiapa menyaingi kami dalam hal ini, kami mengetahuinya
Hendaklah suatu kaum pulang, sedang informasi itu didengar orang
Sesungguhnya kami menolak dan tidak ada seorang pun yang menolak kami
Begitulah kami menang dalam persaingan’.”

Ibnu Hisyam berkata, “Diriwayatkan bahwa Az-Zibriqan bin Badr berkata, ‘Para raja berasal dari kami dan seperempat rampasan perang dibagikan kepada kami’.

“Ketika itu, Hassan bin Tsabit tidak berada di tempat, kemudian Rasulullah  mengutus seseorang untuk mencarinya. Hassan bin Tsabit berkata, ‘Ketika utusan Rasulullah tiba ditempatku, ia menjelaskan kepa-daku bahwa Rasulullah memanggilku agar aku menjawab syair penyair Bani Tamim. Aku pergi ke tempat Rasulullah sambil berkata,
Kami melindungi Rasulullah ketika beliau menetap di tengah-tengah kami
Dengan senang hati serangan Ma’ad dan Raghim
Kami melindungi beliau ketika beliau bertempat tinggal di antara rumah-rumah kami
Dengan pedang-pedang kami dari semua orang yang melewati batas dan zhalim
Di rumah yang istimewa kemuliaannya dan kekayaannya
Di Jabiyatu Al-Jaulan*** di tengah orang-orang non Arab
Kejayaan itu tidak lain adalah kemuliaan dan jabatan para raja serta mengerjakan hal-hal agung

Ketika aku tiba di tempat Rasulullah dan penyair Bani Tamim mengatakan syairnya, aku menjawab syairnya dan berkata seperti yang ia katakan’.

Ketika Az-Zibriqan bin Badr usai melantunkan syairnya, Rasulullah bersabda kepada Hassan bin Tsabit, ‘Hai Hassan, berdirilah dan jawablah penyair tadi atas apa yang ia ucapkan’. Hassan bin Tsabit berdiri, kemu-dian berkata,
‘Sesungguhnya para pemimpin dan saudara-saudara dari Fihr
Telah membangun sunnah untuk manusia, kemudian sunnah tersebut diikuti
Mereka pasti diridhai oleh setiap orang yang hatinya
Bertakwa kepada Allah dan menjalankan segala kebaikan
Mereka adalah suatu kaum yang jika memerangi, mereka merugikan musuh
Atau merubah sesuatu menjadi bermanfaat pada pengikut-pengikut mereka
Itulah sifat mereka sejak dahulu kala
Ketahuilah bahwa seburuk-buruk akhlak ialah bid’ah
Jika pada manusia terdapat orang-orang hebat sepeninggal mereka
Maka semua keunggulan itu milik orang yang paling rendah kedudukannya dari mereka
Manusia tidak bisa memperbaiki apa yang telah dirusak tangan-tangan mereka
Mereka tidak bisa menghancurkan apa yang telah mereka lakukan
Jika mereka berlomba dengan manusia pada suatu hari, mereka menang
Atau jika kejayaan mereka ditimbang, kejayaan mereka tetap unggul
Mereka orang-orang suci yang pantang mengemis dan kesucian mereka disebutkan dalam wahyu
Mereka tidak terkotori dan tidak dapat dikotori
Mereka tidak pelit dengan harta mereka terhadap tetangga mereka
Mereka tidak dikotori oleh sifat tamak
Jika kami memperlihatkan permusuhan kepada suatu kaum
Maka kami tidak merahasiakannya di hati kami
Sebagaimana anak sapi liar menyembunyikan diri dari binatang buas
Kami berjaya jika perang berkecamuk
Dan orang-orang kelas gembel pun tunduk
Kami tidak sombong jika kami berhasil mengalahkan musuh
Jika kami kalah, kami tidak pengecut dan tidak pula berkeluh kesah
Ketika kami berada di kancah perang dan kematian mengintip
Kami seperti singa-singa di Halyah di mana tangannya bengkok
Ambillah dari mereka apa yang telah datang jika mereka telah marah
Dan janganlah engkau menginginkan sesuatu yang mereka larang
Janganlah memusuhi mereka, karena memerangi mereka adalah keburukan
Racun dan pohon Sala’**** dimasukkan ke dalam perang tersebut
Alangkah mulianya suatu kaum yang menjadikan Rasulullah sebagai pemimpin mereka
Jika hawa nafsu dan kelompok berpecah belah
Aku hadiahkan pujianku untuk mereka dari hati yang tulus
Diiringi dengan ucapan lisan yang fasih
Mereka adalah manusia-manusia terbaik
Saat orang-orang merasa kesulitan atau saat bersenda gurau

Setelah itu, delegasi Bani Tamim masuk Islam dan Rasulullah SAW memberi mereka hadiah yang banyak sekali.

Ketika itu, Amr bin Al-Ahtam ditugaskan delegasi Bani Tamim untuk menjaga unta dan perbekalan, ia orang termuda dari mereka. Qais bin Ashim yang sentimen terhadap Amr bin Al-Ahtam berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia salah seorang dari kami dan ia orang termuda di antara kami. Qais bin Ashim menghina Amr bin Al-Ahtam, kemudian Rasulullah SAW memberi hadiah kepada Amr bin Al-Ahtam seperti beliau berikan kepada delegasi Bani Tamim lainnya. Amr bin Al-Ahtam berkata –ketika ia mendapat kabar bahwa Qais bin Ashim berkata seperti itu–,
‘Engkau duduk di belakang menghinaku di hadapan Rasul
Engkau bohong dan berkata tidak benar
Kami memimpin kalian sedang kepemimpinan kalian telah sirna
Gigi-gigi gerahamnya berada di ekor’.”

Ibnu Ishaq berkata, “Tentang delegasi Bani Tamim, turunlah firman Allah SWT, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar bilik kebanyakan mereka tidak mengerti’. (Al-Hujuraat: 4)”.

[bCATATAN KAKI:

* Kursi adalah yang meliputi langit dan bumi, sebagaimana yang ditafsirkan oleh As-Suheili di sini.

** Al-Biya’ adalah tempat peribadatan untuk kaum Nasrani, ada yang mengatakan untuk kaum Yahudi. Bentuk tunggalnya bii’ah.

*** Jabiyatul Jaulaan adalah negeri Syam, maksudnya kemuliaan mereka berhubungan erat dengan kemuliaan kerajaan Ghassan, raja Syam.

**** Yakni sejenis tanaman yang beracun


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,14 Agustus 2008/11 Sya’ban 1429H

Print Friendly