Ketiga: Penghadapan (al-‘ardh) Dan Penghitung Amal (al-hisab)

Selanjutnya adalah dihadapkannya makhluk kepada Allah Subhaanahu Wata’ala, yaitu ada dua macam:

Penghadapan umum, yakni dihadapkannya seluruh makhluk di hadapan Rabb mereka dengan lembaran-lembaran catatan amal mereka sehingga tidak ada satu pun yang luput dari-Nya.

Penghadapan khusus, yakni penghadapan dosa-dosa maksiat orang-orang mukmin terhadap mereka dan pengakuan mereka akan hal tersebut, penutupan kemaksiatan mereka dan pengampunan untuk mereka.

Adapun hisab adalah munaqasyah, barangsiapa yang dipersulit hisabnya maka akan disiksa.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). “ (Al-Haqah: 18).

Dalam ayat lain disebutkan,

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 6-8).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُ اللهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانُ، يَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ.

“Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali Allah akan berbicara kepadanya, tidak ada perantara antara dirinya dengan-Nya. Ketika melihat ke sebelah kanan maka tidak ada yang dilihatnya kecuali apa yang telah ia lakukan, dan ketika melihat ke sebelah kiri maka tidak ada pula yang dilihatnya kecuali apa yang telah ia lakukan, dan ketika melihat ke depan maka tidak ada yang dilihatnya kecuali neraka di depan wajahnya. Maka takutlah kalian terhadap neraka (peliharalah diri kalian dari siksa neraka) walaupun hanya dengan sebelah korma.” (Muttafaq ‘Alaih)

Tentang dihadapkannya makhluk secara khusus kepada Rabb mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada hari kiamat seorang mukmin akan dekat dengan Rabbnya Subhaanahu Wata’ala sehingga diletakkan penutupnya, lalu Dia pun menetapkannya untuk mengakui dosa-dosanya, Rabb berkata, “Apakah engkau tahu?” Ia menjawab, “Wahai Rabb, aku tahu.” Rabb berkata, “Maka sesungguhnya Aku menutupinya terhadapmu di dunia, dan sesungguhnya sekarang aku mengampunimu.” Lalu diberikan kepadanya lembar catatan kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik akan dipanggil di hadapan para makhluk, bahwa mereka adalah orang-orang yang mendustakan Rabb mereka.” (Muttafaq ‘Alaih). Dalam riwayat lain, “orang-orang yang mendustakan Allah.”

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan perbedaan antara penghadapan makhluk kepada Rabb mereka dan hisab, “Tidak ada seorang pun yang dihisab pada hari Kiamat kecuali ia binasa.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah Subhaanahu Wata’ala telah berfirman, “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (Al-Insyiqaq: 7-8) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Itu adalah penghadapan (makhluk kepada Rabbnya), dan tidak ada seorang pun yang dihisab pada hari Kiamat kecuali ia disiksa.” (Muttafaq ‘Alaih).

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Senin, 8 Juni 2009/14 Jumadil Akhir 1430H

Print Friendly