Keutamaan Merealisasikan Tauhid

Merealisasikan tauhid berarti mengandung arti membersihkan dan membebaskannya dari noda-noda syirik, bid’ah-bid’ah dan kemasiatan-kemaksiatan. Barangsiapa mampu demikian maka dia dijamin masuk surga tanpa hisab.

Dari Hushain bin Abdurrahman berkata, aku sedang berada di sisi Said bin Jubair, dia bertanya, “Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?” Aku menjawab, “Saya.” Aku meneruskan, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya malam itu aku sedang tidak melaksanakan shalat, akan tetapi aku disengat.” Said bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” Aku menjawab, “Meminta ruqyah.” Dia bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan itu?” Aku menjawab, “Sebuah hadits yang disampaikan oleh asy-Sya’bi kepada kami.” Said bertanya, “Apa yang dia sampaikan kepadamu?” Aku menjawab, “Dia menyampaikan kepada kami dari Buraidah bin al-Husahaib bahwa dia berkata, ‘Tidak ada ruqyah selain dari ‘ain atau sengatan.’ Said berkata, “Telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang dia dengar, akan tetapi Ibnu Abbas menyampaikan kepada kami dari Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Umat-umat ditampakkan kepadaku, maka aku melihat seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, seorang nabi yang diikuti satu atau dua orang dan seorang nabi yang tidak diikuti oleh seorang pun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekelompok manusia dalam jumlah besar, aku mengira mereka adalah umatku, maka dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dengan kaumnya.’ Lalu aku kembali melihat, aku melihat sekelompok manusia dalam jumlah besar, maka dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan diantara mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Kemudian Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bangkit dan pulang ke rumahnya, maka orang-orang memperbincangkan siapa mereka. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang menyertai Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam.” Sebagian yang lain berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan mereka tidak mempersekutukan sesuatu dengan Allah.” Mereka menyebutkan beberapa hal, lalu Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam keluar kepada mereka dan mereka mengabarkan apa yang mereka perbincangkan kepada beliau, beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta sakitnya ditempel besi panas, tidak bertathayyur dan kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal.

Lalu Ukkasyah bin Mihshan bangkit, dia berkata, “Ya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, mohonkan kepada Allah agar aku termasuk dari mereka.” Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kamu termasuk dari mereka.” Kemudian seorang laki-laki bangkit, dia berkata, “Mohonkan kepada Allah agar aku termasuk dari mereka.” Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari Muslim, lafazh ini adalah lafazh Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa`i.

Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan alu asy-Syaikh.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly