Kisah Qarun Bersama Nabi Musa ‘alaihissalam (bagian -2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ (55) نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَّا يَشْعُرُونَ (56)

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.”(QS. Al-Mu’minun: 55-56)

Bantahan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Qarun itu menunjukkan kebenaran pendapat kami tentang makna firman-Nya:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أ…..(78)

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku….”(QS. Al-Qashash: 78)

Sedangkan orang yang menyangka bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah bahwasanya Qarun adalah orang yang mengetahui proses kimia (pembuatan/pengubahan logam menjdi emas) atau dia menghafal sebuah nama yang agung (dari nama Allah) yang dia gunakan untuk mengumpulkan harta kekayaan. Yang demikian itu sama sekali tidak benar, karena proses kimia itu hanya sebatas khayalan semata dan bukan kenyataan, serta tidak menyerupai ciptaan sang Khaliq (Pencipta). Sedangkan nama yang agung tidak bisa menaikkan do’a orang yang kafir kepada-Nya. Qarun sendiri adalah orang yang kafir di batin dan munafik secara lahiriyah. Kemudian tidak dibenarkan jawaban Qarun terhadap kaumnya dengan jawaban ini (ayat di atas) menggunakan keterangan mereka (bahwa Qarun bisa proses kimia dll), dan tidak ada kaitan/hubungan antara kedua perkataan tersebut. Mengenai masalah ini sudah kami jelaskan dalam kitab Tafsir kami (Ibnu Katsir). Walillahi al-Hamd

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ….(79)

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya….”(QS. Al-Qashash: 79)

Banyak sekali tafsir yang menyebutkan bahwa dia keluar dengan penampilan dan dandanan yang luar biasa megahnya, yaitu mengenakan pakaian, mengendarai kendaraan, dan memabawa banyak pengawal. Ketika orang-orang yang memuja-muja keindahan kehidupan dunia itu melihatnya, mereka langsung berangan-angan seandainya saja mereka bisa seperti Qarun. Dan ketika ungkapan mereka itu didengar oleh para ulama yang mempunyai pemahaman benar lagi berakal, maka para ulama mempunyai pemahaman yang benar lagi berakal, maka para ulama itu berkata kepada mereka:

… وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً … (80)

“…Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh….”(QS. Al-Qashash: 80)

Maksudnya, pahala Allah di akhirat itu lebih baik dan abadi serta lebih besar dan tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ (80)

“…. Dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar.”(QS. Al-Qashash: 80)

Maksudnya, tidak ada yang mau menerima nasihat untuk mengutamakan alam akhirat itu ketika melihat keindahan kehidupan dunia kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, diberikan pertolongan, dikokohkan hatinya dan direalisasikan tujuannya oleh-Nya.

Sungguh indah apa yang diungkapkan oleh sebagian ulama Salaf:“Sesungguhnya, Allah menyukai pandangan yang jeli saat datangnya syubhat (kerancuan dalam agama), dan akal yang sempurna pada saat masuknya syahwat (hawa nafsu).”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ المُنتَصِرِينَ (81)

“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”(QS. Al-Qashash: 81)

Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan keluarnya Qarun dengan kemegahan dan kesombongannya dalam penampilan serta sikap membanggakan diri kepada kaumnya, Dia berfirman:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ … (81)

“Maka Kami benamkanQarun beserta rumahnya ke dalam bumi. ….”(QS. Al-Qashash: 81)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بينما رجل يجر إزاره خسف به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة.

“Ketika ada seorang lelaki yang menjulurkan pakaiannya, ditenggelamkan ke dalam bumi, dan dia berteriak seraya menjerit di dalam bumi sampai hari Kiamat terjadi.”

Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pernah juga diceritakan, dari Ibnu ‘Abbas dan as-Suddi, bahwa Qarun pernah memberi harta kepada wanita pelacur supaya dia mengatakan kepada Musa ‘alaihissalam, ketika di hadapan orang banyak:“Sesungguhnya engkau telah berbuat begini dan begitu terhadap diriku (berzina).” Musa ‘alaihissalam sangat terkejut terhadap tuduhan tersebut, lalu dia segera mengerjakan shalat dua raka’at. Setelah itu dia menemui wanita tersebut dan meminta wanita itu agar bersumpah atas tuduhan yang ditujukan kepadanya, dan menanyakan siapa yang menyuruhnya melakukan semuanya itu dan apa pula yang diperintahkan kepadanya?

Wanita itu mengatakan bahwa Qarun yang telah menyuruhnya melakukan hal itu. Lalu, wanita itu memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, pada saat itu pula, Musa ‘alaihissalam langsung tersungkur dan bersujud kemudian mendo’akan keburukan (melaknat) Qarun. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepadanya:“Sesungguhnya, Aku telah menyuruh bumi untuk mentaatimu dan membinasakan si Qarun itu.” Musa ‘alaihissalam langsung menyuruh bumi menelan Qarun dan tempat tinggalnya. Wallau a’lam

Adajuga yang menceritakan bahwa setelah Qarun keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang megah, dia berjalan dengan pasukan yang besar, kendaraan, dan pakaiannya yang mewah melewati majelis Musa ‘alaihissalam, yang ketika itu Musa ‘alaihissalam sedang memberi nasihat dan mengingatkan kaumnya. Ketika itu orang-orang melihat Qarun, banyak dari mereka mengalihkan pandangan ke arahnya (Qarun). Kemudian, Musa memanggil Qarun seraya bertanya:“Apa yang menyebabkan dirimu melakukan hal ini?” Dia menjawab:“Hai Musa, jika engkau telah diunggulkan kenabian, maka aku telah dimuliakan dengan harta kekayaan. Jika kamu mau, keluar dan berdo’alah memohon keburukan bagi diriku dan aku yang akan mendo’akan keburukan atas dirimu.” Musa berkata:“Siapa yang lebih dulu berdo’a, kamu atau aku?” Qarun menjawab:“Aku lebih dulu.” Kemudian, Qarun mendo’akan keburukan bagi Musa, tetapi do’anya sama sekali tidak dikabulkan. Kemudian, Musa bertanya:“Sekarang giliranku yang berdo’a?” “Ya” Jawab Qarun. Maka Musa berdo’a:“Ya Allah, perintahkanlah bumi untuk mentaatiku pada hari ini” Maka Allah mewahyukan kepadanya:“Sesungguhnya Aku telah melakukannya.” Kemudian Musa berkata:“Hai bumi, telanlah mereka.” Bumi langsung menelan mereka sampai pada lutut, kemudian, sampai pada pundaknya.

Selanjutnya Musa berkata:“Ambillah semua simpanan dan harta kekayaan mereka.” Bumi itu pun langsung menelannya sedang mereka dalam keadaan menyaksikannya. Setelah itu, Musa mengisyaratkan dengan tangannya seraya berkata:“Lenyapkanlah semua Bani.” Bumi itu pun langsung menenggelamkan mereka semua.

Diriwayatkan dari Qatadah rahimahullah, bahwasanya dia mengatakan:“Mereka ditenggelamkan ke dalam bumi satu persatu. Setiap hari satu orang sampai hari Kiamat kelak.” Dan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:” Mereka ditenggelamkan sampai lapisan bumi ketujuh.”

Mengenai hal ini, banyak ahli tafsir yang mengemukakan berbagai macam Israiliyyat. Ada sebagian yang kami kemukakan dan sebagian lainnya sengaja kami tinggalkan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

…فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ المُنتَصِرِينَ (81)

“… Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”(QS. Al-Qashash: 81)

Maksudnya, dia tidak dapat menolong dirinya sendiri maupun mendapat pertolongan dari orang lain. Yang demikian itu sama seperti apa yang difirmankan-Nya:

فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلا نَاصِرٍ (10)

“maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong.”(QS. Ath-Thariq: 10)

Setelah semuanya terjadi,yaitu tenggelamnya mereka ke dalam bumi, hilanglah harta benda, rusaklah rumah, jiwa, keluarga, dan barang-barang berharga, orang-orang yang pernah berharap menjadi seperti Qarun sebelumnya langsung menyesal dan malah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb yang mengatur hamba-hamba-Nya sekehendak-Nya dan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, mereka berkata:

… لَوْلَا أَن مَّنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (82)

“… Kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (ni’mat Allah) .”(QS. Al-Qashash: 82)

Mengenai kata waika-anna telah kami bicarakan dalam kitab Tafsir (Ibnu Katsir) Qatadah mengatakan:“Waika-anna itu berarti tidaklah engkau melihat.” Kalimat ini merupakan ungkapan yang baik dari segi makna. Wallahu a’lam. Bersambung, Insyaa Allah….

(Sumber: Kisah Shahih Para Nabi, Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah, edisi Indonesia. Pustaka Imam asy-Syafi’i hal 298-303 dengan sedikit gubahan. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat,30 November 1/24 -646H

Print Friendly