Mahdiyah (3)

Pemikiran dan Keyakinan

1- Orang-orang bergabung dengan gerakan al-Mahdiyah, karena mereka melihat jalan keluar padanya dan pada gerakannya, hal ini karena kepribadian al-Mahdi yang kuat, keyakinan agama yang diserukannya, kebencian umum terhadap penguasa yang menerapkan pajak-pajak yang mencekik, mewabahnya suap dan kezhaliman, kekuasaan Inggris dan Turki, ini merupakan keadaan dan pendorong umum bagi orang-orang untuk bergabung dengan gerakan al-Mahdi.

2- Al-Mahdi menyerukan kembali kepada al-Qur`an dan sunnah secara langsung dan meninggalkan buku-buku selain kecuanya, karena menurutnya buku-buku tersebut semakin menjauhkan pemahaman seorang muslim.

3- Tidak mengakui pengamalan terhadap madzhab-madzhab fikih, melarang menyibukkan diri dengan ilmu kalam, membuka pintu ijtihad dalam agama. Mengakui keberadaan kita Kasyful Ghummah karya asy-Sya’rani, Ruhul Bayan karya al-Baidhawi dan Tafsir al-Jalalain.

4- Membuang seluruh tarekat sufi dan membatalkans eluruh wirid, mengajak semua pihak untuk membuang perselisihan dan bergabung kepada al-Mahdiyah dengan membuat wirid sendiri yang mereka baca sehari-hari, dari sini al-Mahdi telah terjebak ke dalam terekat sufi bikinannya sendiri setelah sebelumnya menolak tarekat-tarekat yang ada.

5- Saat pemerintah Sudan hendak memerangi al-Mahdiyah di Jiziyah Aba, al-Mahdi mengibarkan lima panji dengan syiar La ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Dia nama empat kutub (poros) dalam dunia sufi menulis di empat panji darinya: Jaelani, Rifa’i, Dasuqi dan Badawi, sedangkan panji kelima dia menulis Muhammad al-mahdi khalifah Rasulullah. Dengan itu dia telah mengklaim sebagai al-Mahdi yang ditunggu-tunggu, penerus Rasulullah saw.

6- Al-Mahdi mengaku bahwa gerakannya tersebut didirikan atas perintah Rasulullah saw, dia pernah berkata, “Nabi saw datang kepadaku dalam keadaan aku terjaga, beliau bersama empat khulafa rasyidin, para quthub dan Khadir, beliau memegang tanganku dan menundudukkanku di kursinya dan bersabda, ‘Kamu adalah al-mahdi yang dinanti-nantikan, siapa yang meragukannya maka dia kafir.”

7- Menekankan sikap tawadhu’, tidak menyombongkan diri dan mengingkari dengan keras kehidupan mewah dan foya-foya, berusaha mendekatkan jarak di antara lapisan masyarakat. Al-Mahdi sendiri dan orang-orang yang mengikutinya hidup dengan jubah yang ditambal, namun setelahnya anak-anaknya hidup dalam kemewahan.

Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Sabtu,31 Juli 2010/19 Sya’ban 1431H

Print Friendly