Apakah Keluar Mani Dengan Cara Onani Membatalkan Puasa? Tidak, Tapi Dia Berdosa

Onani Tidak Membatalkan Puasa

Tidak lama lagi bulan ramadhan akan menjelang tiba dan sedikit pembahasan dari saya mengenai sesuatu  permasalahan yang sering terjadi khilaf diantara para ulama.Yaitu permasalahan onani disiang bulan ramadhan tatkala puasa. Adapun jumhur ulama, diantaranya syaikh Muhammad bin Shalih al utsaimin mengatakan bahwasanya onani adalah sesuatu pembatal puasa.

Namun setelah kami telaah kembali bahwasanya onani tidaklah membatalkan puasa. Karena tidak adanya dalil shorih yg mengatakan hal tersebut. Tidak ada satu ayatpun dan hadits rasul yg menyatakan oanani membatalkan puasa. Namun perlu diketahui bahwasanya onani tetaplah haram dan mengundang dosa namun dia bukanlah pembatal puasa. Sebagaimana mencuri, mencuri adalah perkara haram dan mengundang dosa akan tetapi jika dilakukan disiang hari ramadhan tatkala puasa dia tidaklah membatalkan puasa seseorang. Tidak ada ulama manapun yang menyatakan bahwasanya mencuri adalah pembatal puasa, dengan beralasan seseorang melakukan keharaman tatkala puasa pada siang ramadhan. Maka dari itu telah datang suatu riwayat dari salaf

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ حَبِيبٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ هَرِمٍ، قَالَ: سُئِلَ جَابِرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ رَجُلٍ نَظَرَ إلَى امْرَأَتِهِ فِي رَمَضَانَ فَأَمْنَى مِنْ شَهْوَتِهَا هَلْ يُفْطِرُ؟ قَالَ: لَا وَيُتِمُّ صَوْمَهُ

Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Haaruun, dari Habiib, dari ‘Amru bin Harim, ia berkata : Jaabir bin Zaid pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang memandang istrinya di bulan Ramadhaan, lalu ia keluar mani akibat syahwatnya tersebut, apakah batal puasanya ?”.

Ia berkata : “Tidak, hendaknya ia sempurnakan puasanya”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dengan sanad hasan, Syaikh Al-Albani berkata dalam silsilah as-shahihah Isnadnya jayyid]

Dan inilah pendapatnya syaikh al albani dalam kitabnya tamamul minnah dalam mengomentari kitab fiqh sunnah, syaikh Al Albani berkata dalam kitabnya:

قوله: “الاستمناء إخراج المني سواء أكان سببه تقبيل الرجل لزوجته أو ضمها إليه أو كان باليد فهذا يبطل الصوم ويوجب القضاء”.

قلت: لا دليل على الإبطال بذلك وإلحاقه بالجماع غير ظاهر ولذلك قال الصنعاني “الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد”.

وإليه مال الشوكاني وهو مذهب ابن حزم فانظر “المحلى” 6 / 175 – 177 و205

“Perkataannya –syaikh sayyid sabiq- : adalah onani (mengeluarkan mani) sama saja baik sebabnya dikarenakan seorang lelaki mencium istrinya atau memeluknya ataupun dengan tangan, maka ini membatalkan puasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasa”.

Aku berkata -syaikh al albany- : Tidak ada dalil atas batalnya puasa karena onani dan menghubungkannya dengan jima’ tidaklah dzahir.

Maka dari itu, berkata Ash Shana’ani rahimahullah: Yang lebih jelas adalah bahwasanya istimna tidak perlu qadha ataupun kaffarah kecuali orang yang berjima’ dan menyambung-nyambungkan orang yang tidak jima’ dengan orang yang jima’ adalah sesuatu yang sangat jauh untuk disamakan”

Maka dari itu Asy Syaukani condong kepada pendapat ini dan inilah pendapat Ibnu Hazm, lihat Al Muhalla 6/175-177 dan 205” Tamam Al Minnah 408

>>>>>>>>

Adapun ulama yang mengatakan bahwasanya onani adalah pembatal puasa, dikarenakan mereka mengqiyaskan onani dengan jima dalam hal ladzzah / syahwat (keenakannya) dan dua-duanya sama-sama mengeluarkan mani.

Namun qiyas ini adalah qiyas faasid (rusak). Dikarenakan mengqiyaskan onani dengan jima dalam perkara laddzah (enak) tentulah berbeda. Dikarenakan enaknya seseorang yang melakuka onani dengan tangannya berbeda dengan enaknya seseorang yang berjima’ dengan istrinya. Jelas dan tentulah lebih enak dilakukan dengan jima untuk mengeluarkan maninya.

Adapun mengqiyaskan onani dengan jima bahwasanya dua-duanya adalah sama-sama mengeluarkan mani. Lantas bagaimana jika seseorang jima’ dengan istrinya namun tidak mengelkuarkan mani? Jika menurut qiyas seperti ini, maka jelaslah jika jima’ jika tidak mengeluarkan mani adalah sesuatu yang tidak membatalkan puasa.

Maka dari penjelasan diatas, maka onani tidak membatalkan puasa. Karena jima dengan istri baik dia mengeluarkan mani maupun tidak itu adalah pembatal puasa dan wajib membayar kaffarat.

Begitupula mereka berdalil untuk menyatakan bahwasanya onani adalah pembatal puasa dengan mengatakan onani adalah salah satu bentuk bentuk syahwat. Dan syahwat termasuk pembatal puasa dengan dalil:

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى

“Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku.” (HR. Ahmad, 2: 393, sanad shahih)atau (HR. Bukhari no. 7492)

Onani dan mengeluarkan mani dengan paksa termasuk bentuk syahwat. Mengeluarkan mani termasuk syahwat

Maka kami menjawab sanggahan mereka dengan mengatakan:

Dalil yang anda kemukakan, kurang tepat. Jika anda mengatakan onani adalah bentuk dari syahwat dan menyatakannya bahwasanya ia adalah pembatal puasa. Namun bagaimana anda menyikapi dengan bermesra mesraan dan bercumbu di bulan ramadhan? Jelas ini adalah bentuk dari syahwat. Kenapa anda tidak menyatakannya sebagai pembatal puasa?

Lihat lah Rasul bercumbu dan bermesraan dengan istrinya dibulan ramadhan.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: عَنْ شُعْبَةَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: ” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ “

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata : Dari Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bermesraan (dengan istrinya) ketika sedang berpuasa. Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan keinginannya (hawa nafsunya) di antara kalian” HR Bukhari

Bukankah mencium dan bercumbu adalah bagian dari syahwat?

Dan diantara dalil yang mengatakan bahwasanya onani tidak membatalkan puasa adalah

قول عائشة رضي الله عنها لمن سألها : ما يحل للرجل من امرأته صائما ؟ قالت : ” كل شئ إلا الجماع
أخرجه عبد الرزاق في ” مصنفه ” ( 4 / 190 / 8439 ) بسند صحيح كما قال الحافظ في ” الفتح

Perkataan aisyah Radhiyallahu anha untuk seseorang yang bertanya kepadanya: Apa yang diperbolehkan untuk lelaki dari istrinya tatkala puasa? maka Aisyah berkata: Semuanya boleh kecuali jima’” Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam mushannafnya (4/190/8439) dengan sanad yang shohih sebagaimana yang dikatakan oleh al hafidz Ibnu Hajar dalam fathul baari.

Dan ketahuilah, bukan berarti onani tidak membatalkan puasa berarti ia tidak termasuk perbuatan berdosa. Tidak. Akan tetapi onani tetaplah haram dan dosa akan tetapi tidak membatalkan puasa. Seperti berbohong ataupun berdusta, ia adalah perbuatan yang haram namun bukanlah pembatal puasa.

Allahu a’lam bis showaab.

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel:  
Sumber : http://www.alamiry.net/2013/06/onani-tidak-membatalkan-puasa_22.html

Tambahan,. Dampak negatif dari ONANI..

Akibat atau Efek dari Melakukan Onani

Sebagaimana penjelasan di atas bahwa onani adalah HARAM, ini adalah pendapat yang paling benar, dan kita wajib mengetahui bahwa setiap yang Allah  haramkan tentu memberikan bahaya bagi yang melakukannya.

Diantara bahaya onani terhadap jasmani dan rohani adalah:

  • PERTAMAMenyebabkan sakit pinggang dan pegal-pegal.
  • KEDUATidak teraturnya proses buang air kecil (kencing).
  • KETIGAMelemahkan urat-urat yang berada di sekitar penis hingga tertekan pada biji kemaluan.
  • KEEMPATMelatih penis dengan kekerasan sehingga ketika sudah melakukan jima’ dengan istrinya tidak merasa puas.
  • KELIMAMenyebabkan mata kabur (mengurangi daya penglihatan).
  • KEENAMMerusak hafalan (daya ingatan).
  • KETUJUHMenyebabkan rasa bosan dan malas, lebih-lebih dalam usaha mencari jodoh.
  • KEDELAPANMenghambur-hamburkan air mani.
  • KESEMBILAN: Mengakibatkan badan mengering hingga mengantarkan kepada kurusnya badan.

Bahaya dari onani juga bisa merusak katup air mani,

Bagaimana agar bisa keluar dari jeratan perbuatan yang merusak ini? Silahkan

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Minggu,19 Juni 2016/13 Ramadhan 1437H

Print Friendly