Cerita Kakek Cerdas Kepada Cucunya Yang Bertanya Tentang Bidah, Begini Seharusnya Menjaga Generasi Dari Bahaya Bidah ( hanya simulasi..)

Stop Mewariskan Ajaran Bid’ah , Bukan Malah Mengajarkan Pada Anak Turunannya.

Beginilah Seharusnya Bagaimana Seorang Mbah Mengajari Cucunya

Simulasi : Seorang cucu bertanya ttg bid’ah pada mbahnya..

Cucu :Bid’ah itu apa sih mbah ?? Kok rame orang pada ngomongin bid’ah ??

Mbah :Bid’ah itu amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam..

Cucu :Contohnya apa amalan yang gak ada tuntunannya itu mbah ??

Mbah : Contohnya buanyak, semisal tahlilan, maulidan, nariyahan, dzikir jama’ah an, dll..

Cucu :Waaah ??? Itu semua kan banyak yang mengamalkannya mbah.. Emang bid’ah itu hukumnya bagaimana ??

Mbah : Bid’ah itu.. Kalau dibilang MUBAH –> Imam 4 Madzhab tidak ada yang mengamalkannya.. Kalau dibilang SUNNAH –> Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam tidak pernah mencontohkannya.. Kalau dibilang WAJIB –> Allah Azza wa Jalla tidak pernah memerintahkannya..

Cucu :Ooo.. Jadi bid’ah itu : Mubah bukan, sunnah bukan, apalagi wajib, tambah bukan.. Gitu ya mbah ??

Mbah : Seratus buat kamu !!

Cucu :Trus, orang2 yang ngamalkan bid’ah itu siapa yang nyuruh ; kalo ternyata gak ada perintah dari Allah dan Rasul mbah ??

Mbah : Setau mbah.. Kebanyakan mereka cuma ikut2an, coba aja kamu tanya langsung pada mereka, paling banter jawabnya : Disuruh kyainya, gurunya, mbahnya, atau menjawab : Karna ikut2an sama tetangga2nya..

Cucu :Trus, kalo bid’ah itu bukan sunnah bukan wajib ; apakah pengamalnya akan dapat pahala dari amalannya itu mbah ??

Mbah : Jangankan pahala, Nabi shallallahu alaihi wa sallam saja sudah mengingatkan bahwa amalan ibadah yang gak ada tuntunannya itu tertolak !!

Bahkan justru bisa mendapat dosa ; Karena mereka berani menambah dan merubah agama (ibadah) yang telah sempurna..

Mereka berani menciptakan dan membela Bid’ah yang dibungkus atas nama Ibadah yang seolah Indah..

Ibadah itu seharusnya mencontoh Rasulullah dan para shahabat..

Ingat : Nabi juga bersabda bahwa bid’ah itu adalah seburuk2 perkara..

Bahkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu pernah sampai membubarkan sebuah (perbuatan bid’ah) halaqah dzikir jama’ah..

Ini manandakan ; para shahabat tidak hanya mengajarkan agar menjauhi bid’ah, tapi juga mencontohkan agar mentahdzir perbuatan bid’ah..

[Para pecinta sunnah pasti pada bergumam : “Ini dia niy baru Mbah yang keren” ^_^]

Namun sayangnya dialog tsb hanyalah simulasi, dan andaikan mmg benar2 ada atau bahkan banyak mbah2 yang spt dalam dialog, tentu akan terputus regenerasi para bid’ah lovers..

Namun sayang sungguh sayang, kenyataan justru kebalikan, para “mbah2” justru banyak yang mewariskan segala macam kejahilan ; mulai khurafat, bid’ah, bahkan kesyirikan.. Dan para “cucu” pun bak gayung bersambut, mereka justru melestarikan “warisan” tsb dari mbah moyang nya..

Saudaraku sekalian, beragama dengan dalil”apakata orang tua, apa kata mbah, dst ”, bukan lah hujjah ilmiyah seorang muslim yang mencari dan mendambakan kebenaran. Apalagi masalah ini menyangkut baik buruknya aqidah seseorang. Maka, permasalahan ini harus didudukkan dengan timbangan AL-QUR’AN AS-SUNNAH AS SHAHIHAH.

Sikap mengekor kepada pendahulu dan mbah moyang dengan tanpa memperdulikan dalil-dalil syar’i merupakan perbuatan yang keliru, karena sikap tersebut menyerupai orang-orang quraysy, ketika diseru oleh Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Apa jawab mereka ??? Silahkan baca al-qur’an surat Az-zuhruf ayat 22 & Asy-syu’ara ayat 74.

“bahkan mereka berkata, ’sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa) dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka”(Qs. Az Zuhruf,22).

Jawaban seperti ini serupa dengan apa yang dikatakan kaum Nabi Ibrahim, ketika mereka diajak meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Mereka mengatakan,” kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala).”(QS.Asy Syu’ara,74).

wa-idzaaqiila lahumu ittabi’uu maa anzalallaahu qaaluu bal nattabi’u maalfaynaa ‘alayhiaabaa anaaawa law kaanaa abaauhum laaya’qiluuna syay an walaayahtaduun..

“Dan apabila dikatakan kepada mereka ,”ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab ,”(tidak) kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukan-nya).”padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah :170)

Saudaraku.. Marilah masing-masing kita selalu berbenah dan memperbaiki diri. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita dan seluruh kaum muslimin. Aamiin..

sumber : http://khansa.heck.in/category/topik-utama-1/2.xhtml

Tambahan admin blog aslibumiayu :
Beragama dengan cara mengikuti nenek moyang, itu adalah jalan menuju kebinasaan,

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Selasa, 4 Pebruari 2014/3 Rabiul Akhir 1435H

Print Friendly