Definisi Sahabat, Siapakah Mereka, Kenapa Mereka Menjadi Generasi Terbaik?

Pengertian Lebih Rinci Siapakah Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang layak dikenal dan diketahui sejarah oleh kaum muslimin. Karena merekalah yang membantu perjuangan Islam dan lewat mereka ilmu Islam berkembang dan berjaya.

Allah memuji mereka dalam firman-Nya

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia (para sahabat) adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Fath: 29).

Bahkan kita dilarang keras mencela para sahabat. Memang mereka punya kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka yang mengalahkan dan menutupi kesalahan yang kecil, bahkan mungkin yang mencela belum tentu punya sumbangsih untuk Islam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka itu tidak bisa menandingi satu mud infak sahabat, bahkan tidak pula separuhnya”[1]

Siapa itu sahabat?
Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata, “Siapa saja dari kalangan kaum muslimin, yang pernah menyertai dan melihat Rasulullah, maka ia terhitung sahabat nabi”. (Shahih Bukhari)

Ibnu Taimiyyah membawakan perkataan Imam Ahmad rahimahullah, (sahabat adalah) “Siapa saja yang menyertai Rasulullah setahun, sebulan, sehari, atau sesaat, atau melihat beliau, maka ia termasuk sahabat Nabi. Derajat masing-masing ditentukan menurut jangka waktunya menyertai Rasulullah”[2]

Termasuk sahabat walaupun sempat murtad kemudian masuk Islam lagi. ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Adapun yang murtad dari Islam sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , atau setelah ia bertemu beliau kemudian kembali masuk Islam dan bagus keislamannya, seperti al-‘Asyats bin Qais, ‘Amru bin Ma’dikarib dan selainnya, maka tanpa diragukan lagi, mereka masih termasuk sahabat, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ

Engkau telah masuk Islam dengan membawa kebaikan yang dahulu engkau kerjakan.”[3]

Perlu dicatat, sahabat tidak harus melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sahabat yang buta yaitu Ibnu Ummi Maktum radhiallahu anhu, mereka yang berkumpul dan beriman serta meninggal dalam keimanan.[4].

@Gedung Radiopoetro, FK UGM, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: 

Artikel 

sumber : http://muslimafiyah.com/pengertian-lebih-rinci-siapakah-sahabat-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

 

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Jumat, 5 Desember 2014/12 Safar 1436H

Print Friendly