Dulu.. Saya Ikut Jamaah Tabligh,. Alhamdulillah Allah Memberikan Petunjuk Untuk Meniti Manhaj Salaf

Kisah Mantan Pengikut Jamaah Tabligh … Sebuah Kisah Nyata..

 Kalau boleh dibilang, saya adalah mantan Jamaah Tabligh karena dulu saya ikut jamaah ini selama kurang lebih 3 tahun, sejak kelas 2 sma sampai kuliah tahun ke-2. Saya khuruj 1 hari atau 3 hari dalam sebulan (karena masih pelajar), 1 minggu kalau pas libur agak panjang, juga pernah 40 hari. Waktu sma rajin ijtima di Payaman dan Krincing, karena domisili saya di Temanggung. Ketika kuliah saya selalu ikut ijtima’ di markaz Al-ittihad Jogja karena saya kuliah di Jogja. Makom saya dulu di masjid Nurul Iman Blimbingsari deket Fisipol UGM.

Awalnya saya tidak habis pikir ada orang-orang yang tidak suka dan menyesat-nyesatkan amalan dakwah tabligh. Terutama salafy, yang paling keras dalam mengkritik. Saya paling benci terhadap salafy. Tapi dibalik kebencian itu saya penasaran juga tentang salafy ini. Saya cari tahu apa sebenarnya pemahaman salafy ini, dan mengapa begitu semangatnya mengkiritik jamaah-jamaah selain salafy.

Saya cari-cari tahu, dan sedikit-sedikit mulai tahu ulama-ulama rujukan jamaah salafy. Saat itu mulai kenal nama-nama Syaikh bin Baz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Albani dan Syaikh Muqbil. Saya masih rajin datang ke Al-ittihad…

Kemudian saya baca karya -saya lupa dari mana buku itu bisa ada ditangan saya- saya cuma baca muqodimahnya, penjelasan tentang islam dan madzhab-madzhab yang ada didalamnya, dan bagaimana berislam sesuai pemahaman para sahabat dan salafus sholih… (bagi yang ingin memiliki bukunya, bisa pesan di web ini, caranya silahkan )

Bagaimana mensikapi ayat-ayat quran dan hadits.. dan sebagainya.. luar biasa…

Dari baca muqodimahnya saja bisa mengubah pandangan saya dari benci menjadi suka.. Saya jadi semakin penasaran tentang salafy ini…

Saya kemudian mulai mencari-mencari buku-buku yang ditulis oleh ulama-ulama salafy.. Dan saat itu saya masih aktif khuruj…

Meskipun kebimbangan terhadap Jamaah Tabligh mulai muncul… saya mulai membanding-bandingkan antara salafy dengan Jamaah Tabligh…

Tibalah saat itu pertengahan tahun 1996 kalau tdk salah bulan Juli, saatnya liburan semester. Saya berdoa ya Allah hilangkanlah kebimbangan ini..

Saya mantapkan untuk khuruj 40 hari dengan harapan dapat menemukan hakikat kerja dakwah dan tabligh, sebagaimana sering disampaikan oleh karkun senior bahwa untuk menemukan hakikat kerja dakwah harus sering berkurban untuk dakwah.

Saya pergi khuruj 40 hari bersama karkun-karkun Temanggung..

Berangkat dari Payaman Magelang. Tempat khuruj kami di pulau Madura.

Sebelum ke Madura, jamaah kami mampir ke Temboro. Salah satu markaz tabligh besar di jawa timur. Semalam kami menginap di Temboro dan melanjutkan khuruj di ujung timur pulau madura, di Sumenep. Di penghujung mendekati 40 hari kami ditarik ke Krincing untuk mengikuti ijtima’ jawa tengah yang kebetulan dihadiri oleh Amir Indonesia waktu itu pak Zulfakar dan juga dihadiri oleh Gubernur Jateng.

Sepulang dari khuruj 40 hari ini saya merenenungkan tentang kebimbangan-kebimbangan saya. Dan akhirnya dengan memohon petunjuk dari Allah Ta’ala saya putuskan untuk berlepas diri dari Jama’ah Tabligh dengan pertimbangan bahwa apa yang dikritikkan oleh para ulama tentang Jamaah Tabligh adalah benar adanya, saya mengalaminya dan menyadarinya, mereka tidak mengada-ada.


Yang menguatkan saya untuk berlepas diri dari Jamaah Tabligh diantaranya:

1. tentang thariqat sufiyah.

Di pondok Temboro saya melihat sendiri dzikir-dzikir ala thoriqot sufiyah dikerjakan secara berjamaah. Memang tidak ada ajakan, atau mungkin belum– terhadap karkun-karkun di luar Temboro untuk ikut thoriqot.. Tapi kesan saya waktu itu adalah tidak ada pengingkaran terhadap ajaran thoriqot sufiyah di pondok ini..

2. tentang dakwah tanpa ilmu, dan bermudah-mudah dalam menyampaikan ucapan seseorang / hadits nabi / kisah-kisah / berita-berita.

Siapa saja yang ikut khuruj sangat ditekankan untuk bisa melakukan bayan. Entah yang berilmu atau tidak. Inilah yang terjadi. Saya bisa bayan dari mendengarkan bayan orang lain, dan saya yakin orang yang saya tiru bayannya juga dengar dari bayan orang lain dan seterusnya. Bayan biasanya berisi targhib, penyemangat.. Disebutkanlah dalil-dalil quran, hadits, kisah-kisah namun sayang tidak lagi dicek kesahihannya..

Asalkan dia dengar dari karkun senior dia akan sampaikan..

Dalam kisah-kisah kadang ada tambahan dan tambahan agar jadi menarik.. Tanpa ada koreksi..

Saya merenung.. kadang dengar kisah karomah A, lain kali dengar kisah karomah B yang mirip, tapi kejadiannya lebih spektakuler dan sebagainya.. Jadinya qila wa qola yang dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam..

Saya jadi berpikir.. jangan-Jangan kisah-kisah itu awalnya sederhana.. terus disambung dari lidah ke lidah jadi akhirnya sangat spektakuler penuh karomah…

Hanya demi menarik orang agar mau khuruj fisabilillah.. Ini yang tidak bisa saya terima.. Itu tentang kisah-kisah.. Belum lagi tentang hadits-hadits yang dhoif dan palsu yang dengan entengnya disampaikan di dalam bayan-bayan tanpa penjelasan statusnya…


3.Tentang IPB (india pakistan bangladesh).

sering sekali digembar-gemborkan keyakinan bahwa belum sempurna islam seorang muslim kalau belum ke IPB . Kalau ada dana, pergi ke IPB dulu sebelum haji, karena tidak akan merasakan lezatnya ibadah haji kalau belum IPB..

4. Tentang Baiat.

Pengalaman ini saya alami di masjid Al-Ittihad Jogja. Menjelang sholat saya lihat ada lipatan kertas di antara mushaf al-quran yang dipajang di rak masjid. Saya coba ambil dan baca..

Saya terkejut ternyata berisi kalimat-kalimat baiat dalam Jamaah Tabligh, padahal dalam keyakinan saya waktu itu tidak ada baiat dalam Jamaah Tabligh karena sebelum-sebelumnya Saya tanyakan berkali-kali pada karkun-karkun senior adakah baiat? Dijawabnya tidak ada.

Saya sangat penasaran ingin membaca dengan detail dan mendalam tapi qodarullah iqomat berkumandang, Saya letakkan lagi kertas itu ditempat semula dan saya rencanakan akan saya baca lagi selepas sholat.

Sehabis sholat saya kembali ke rak mushaf untuk ambil kertas yng berisi baiat itu lagi, namun sayang kertas itu sudah berpindah tempat entah kemana.


5. Tentang sedikitnya ilmu.

Karena minimnya ilmu, hal-hal yang mungkar dalam masalah tauhid dianggap sebagai khilafiyah yang tidak boleh disentuh agar tidak terjadi perpecahan.


Nah saya cukupkan itu saja tulisan pengalaman saya bersama Jama’ah Tabligh… semoga bermanfaat…


Nah saya cukupkan itu saja tulisan pengalaman saya bersama Jama’ah Tabligh… semoga bermanfaat…

Apa yangn dikatakan oleh para ulama disini:


Bukan mengkritik kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan oleh para karkun, tapi penyimpangan yang berlaku dalam Jamaah Tabligh..


Jadi tidak tepat bila dibantah dengan perkataan:

Ngajak kebaikan kok dianggap sesat,

Ngajak sholat berjamaah kok dianggap sesat,

Ngajak ke masjid kok sesat dan sebagainya…

wallohu a’lam bishowab..

Sumber : https://www.facebook.com/rinto.adi?fref=ufi

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Kamis,16 Juni 2016/10 Ramadhan 1437H

Print Friendly