Kebenaran Hanya Milik Allah, Betul Sekali, Maka Jalankan Konsekwensi Dari Ucapan Tersebut, Kembalikan Kebenaran Itu Kepada Allah Dan Rasulnya, Bukan Kepada Kyai,Tokoh,Kelompok..

Kebenaran Hanya Milik Allah, Disampaikan Oleh Rasulullah

Banyak orang ketika di sampaikan nasehat enjawab “Kebenaran hanyalah milik Allåh”

Barangsiapa yang berdalih ketika disampaikan hujjah kepadanya “kebenaran hanyalah milik Allåh”, maka kita jawab, “benar, kebenaran milik Allåh, dan Allåh-lah yang telah menurunkan Kitab-Nya (Al-qur’an) dan mengutus Råsul-Nya [dengan sunnahnya], dan memilih para shåhabat Råsul-Nya [dalam memahami al-qur’an dan as-sunnah] untuk menerangkan kebenaran tersebut.”

Maka jika ada yang mengatakan kebenaran hanyalah milik Allåh, berarti ia pun harus tunduk kepada al-qur’an dan as-sunnah yang sesuai dengan pemahaman para shåhabat dan orang-orang mengikuti mereka dengan baik….
1. kembali kepada al-qur’an dan as-sunnah

Kenapa harus kembali kepada al-qur’an dan as-sunnah?


Karena Allåh telah berfirman,

 فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴿٥٩﴾

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(An-Nisa: 59)

Maka kita wajib mengembalikan kepada al-qur’an dan as-sunnah, bukan kepada “imam-imam tertentu”, apalagi “syaikh/syaikh”, atau “ustadz-ustadz” atau “kiai-kiai” dll. Atau malah dikembalikan kepada “masing-masing” wal ‘iyyadzubillah.

2. mengembalikan kepada pemahaman yang benar dalam memahami al-qur’an dan as-sunnah.

Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda, mengenai salah satu penyebab kehancuran umatnya, (yang artinya),

“Mereka mempelajari al-Qur’an, lalu menta’wilnya tidak sebagaimana yang diturunkan Allah..”

[Lihat Silsilah Shahihah no: 2778]

“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.”

[shåhih, hr. ahmad, abu dawud, tirmidzi, ad-darimy, al-baghawy, al-hakim, al-laalikaaiy, dll.]

Hal ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Sunnahnya (Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan sunnah para Shahabatnya ridhwanullahu ‘alaihim jami’an.

Maka, berarti kita telah MENGIMANI, bahwa Allåh telah menurunkan kebenaran yang ada disisi-Nya kepada seluruh hamba-Nya, tinggal apakah hamba-hamba-Nya tersebut dapat MELIHAT atau KABUR atau BUTA terhadap kebenaran tersebut.

Penjelasan bahwa Allåh telah menurunkan kebenaran-Nya sangat jelas nampak dalam ayat berikut, Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman :

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ﴿١٠٤﴾

Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). (Al-An’aam: 104)

wallåhu ta’ala a’lam.

sumber : https://www.facebook.com/pedro.calao/posts/602704143184655?fref=nf

 

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Selasa,29 Juli 2014/1 Syawal 1435H

Print Friendly