Mendewakan Akal, Atau Mematikan Fungsi Akal? Itulah Buah Dari Filsafat, Merusak Fungsi Akal

Konsep Mu’tazilah Mematikan Fungsi Akal

Terselip lembaran – lembaran bukuku, aku menemui sebuah tulisan bagus yang sempat disampaikan oleh guruku di sekolahku. Saat itu beliau sedang bercerita tentang Suluk Hadhori, Perilaku Pribadi yang Maju atau dalam bahasa inggrisnya Civil Behavior.  Ada sebuah perbedaan opini tentang bagaimana prilaku pribadi yang maju dan dimanakah islam mencapai puncak kepribadian yang maju. Guruku menjelaskannya dengan gaya bahasa yang ilmiah. Aku mencoba menjelaskannya kembali kepadamu. Semoga bermanfaat.

Pada abad ke 2 hijriyah Daulah Abbasiyyah berkuasa dan pemikiran mu’tazilah mulai berkembang. Pada zaman ini pula digalakan penerjemahan buku – buku filsafat yunani yang didalamnya terdapat pemikiran mu’tazilah. Pemikiran ini menggunakan konsep akal sebagai penentu kebenaran.

Jadi, apapun yang orang – orang pikir secara akal tidak dapat dicerna maka ditolak. Imbasnya, mencari keberadaan Allah pun juga mempergunakan akal. Sebagaimana yang dilakukan oleh para filosof dan mereka pikir ini bijak. Kebijakkan yang membuat mereka tersesat dan terseret ke jahannam karena mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu.

Kita boleh saja menggunakan akal kita untuk mempelajari hal – hal konkret seperti membuat teknologi canggih, tetapi tidak untuk mengetahui keberadaan Allah yang ghaib. Bagaimana mungkin kita mengetahui apa yang ada di balik tembok sementara kita belum pernah melihatnya?

Memaksakan akal untuk berpikir apa yang belum pernah kita lihat? Ini akar dari kemustahilan!

Jadi, pemikiran mu’tazilah yang mengagung – agungkan akal sungguh keterlaluan. Bagaimana tidak? Mereka akhirnya mengikuti akal mereka yang okelah mungkin cerdas, tetapi akal manusia itu terbatas.

Buktikan saja!  Kita tidak akan mampu membaca apa yang ada di balik tembok dengan logika, bukan?

Jika akal sudah tidak dapat mencerna, berarti kita butuh informasi hal yang tidak kita tahu. Allah adalah Tuhan yang mengetahui segala sesuatu.

Kita mengenal Allah hanya dengan mendapatkan informasi dari Allah langsung!

Bukan menerka – nerka. Karena menerka – nerka tentang Allah adalah kejahatan dan kedzaliman yang sangat besar! Bukannya menganggungkan Allah justru malah membuat Allah murka. Jadi, karena akal kita terbatas kita membutuhkan informasi dari Allah, inilah yang kita sebut sebagai wahyu.

Bagaimana kita bisa mendapatkan wahyu?

Ingat, kawan! Wahyu adalah sesuatu yang sangat berharga dan mulia. Dengannya kita bisa mengetahui banyak hakikat kehidupan yang tidak kita ketahui. Karena wahyu begitu mulia maka Allah hanya akan memberikannya kepada orang suci yang pantas mengembannya, yaitu rasulnya.

Wahyu yang Allah turunkan untuk generasi kita adalah Al-qur’an kepada nabi kita yang mulia Muhammad Shalallhu ‘alaihi wa salam. Kemudian Allah menjaga wahyu ini hingga sampai kepada kita tanpa perubahan sedikitpun.

Subhanallah… Alhamdulilah…

Jika saja bukan karena rahmat Allah dan kasih sayang Allah kepada hambaNya, tentu saja kita akan tersesat mencari kebenaran.

Wahyu Sudah Turun, Kesesatan Masih Merajalela

Lantas, mengapa banyak orang yang masih saja tenggelam dalam kesesatan?

Hidayah itu ada di sisi Allah. Hanya Allah saja yang tahu hati – hati mana yang pantas dinaungi hidayah dari Allah atau tidak. Oleh sebab itu bersyukurlah kita karena Allah telah menghadiahkan keimanan kepada kita. Barangsiapa yang bersyukur maka Allah akan tambahkan nikmat itu, jika tidak adzab Allah sungguh sangat pedih.

Nah, orang – orang liberalis pengagung akal mengatakan abad kedua ini adalah abad keemasan islam. Karena akal dapat bergerak bebas menembus apa yang seharusnya tidak patut ditembus.

Mereka bebas berpikir tanpa memilah. Seolah – olah mereka berjalan di jalanan yang tidak mereka tahu dengan percaya diri, akhirnya mereka tersesat dan menganggap jalan mereka benar.

Padahal diujung jalan bisa jadi adalah jurang, tetapi mereka bahagia dan merasa menang. Aneh? Orang berpikir sehat pasti berkata hal ini aneh! Kecuali untuk orang – orang yang telah mempelajari filsafat, karena menurut mereka semakin nyeleneh pemikiran mereka semakin cerdas dan semakin terbimbing. Haha! Mari tertawa.

Hasilnya apa, Kawan?

Mereka mengatakan bahwa Al-qur’an adalah makhluk!

Sehingga tidak bisa dijadikan tolak ukur kebenaran mutlak. Karena Al-qur’an adalah makhluk bisa saja benar dan bisa saja salah. Semakin giranglah mereka karena akal mereka tidak akan mungkin dikalahkan dengan Al-qur’an. Karena mereka menganggap Al-qur’an adalah makhluk bukan perkataan Allah yang tidak bisa dibantah.

Ngaco? Memang!

Ini adalah kesesatan mereka. Sesat! Dan mereka merasa bangga dengan kesesatan.

Laa haula wa la quwwata illa billah. Jika akal sudah menjadi penentu kebenaran bagaiamana keadilan dapat tegak? Bagaiaman bumi dapat aman? Orang jahat bisa saja dianggap baik jika mereka bisa memutar balikkan kebenaran. Orang baik akan dilecehkan jika akal orang – orang dungu dijadikan tumpuan.

Tidak ada celah bagi kita kecuali mengikuti Al-qur’an petunjuk bagi manusia dan sunnah nabi Muhammad Shalallhu ‘alaihi wasalam. Pikirkankanlah kedua petunjuk ini dengan akal sehat kita.

Disinilah peran besar akal. Inilah yang seharusnya disebut dengan memuliakan akal. Bukan melebih – lebihkan kemampuannya diluar batas. Jadi, konsep mu’tazilah adalah konsep untuk mematikan fungsi akal bukan menghidupkan peran akal.

Bersambung…

sumber : http://ridhomusfa.wordpress.com/2014/08/01/konsep-mutazilah-mematikan-fungsi-akal/

 

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Selasa, 5 Agustus 2014/8 Syawal 1435H

Print Friendly