Apa Mungkin Belajar Agama Sambil Bekerja Juga?

Pertanyaan:

Apa mungkin menyelaraskan antara dunia dan menuntut ilmu? Bagaimana pandangan Anda?

Jawaban:

Ya. Termasuk mungkin untuk menyelaraskan antara dua hal itu. Jika engkau tidak digaji oleh pemerintahmu, maka engkau bisa bekerja sehari dan mengajar pada hari berikutnya. Belajar itu, wahai saudara yang kucintai, bukan [karena] tugas kenegaraan saja. Belajar itu adalah menuntut ilmu. Allah angkat darimu dengan ilmu itu kebodohan. Engkau tahu apa saja yang Allah wajibkan kepadamu dan apa yang Allah haramkan atasmu. Itulah yang namanya ilmu. Adapun belajar untuk mendapatkan pekerjaan atau karena pendidikan resmi, maka itu bukanlah ilmu yang dimaksud. Sebab sudah ada yang lulus dari lembaga resmi seperti itu dan tidak sedikit pun pada dirinya, seperti yang pernah diceritakan oleh sebagian rekan kita.

Engkau belajar hanya untuk 210 riyal (mukafaah di ma’had di Arab Saudi waktu itu) Engkau selesai dari studimu tanpa apa-apa, kecuali jubah dan sorban.

Betul. Tidak punya apa-apa. Lulus, yang dibacanya di tahun-tahun lalu, ia lupa. Tentang sunnah yang dibacanya, ia lupa. Baca yang itu, lupa. Jika ia lulus, ternyata apa-apa yang dibacanya waktu dulu, semuanya malah lupa. Jika diterima kerja…

Maka, ilmu itu adalah mengetahui apa-apa yang diwajibkan Allah tabaraka wa ta’ala kepadamu, baik itu hak-hak yang ada di masjid, di halaqah-halaqah ilmu secara khusus, dan terkhusus lagi di luar lembaga-lembaga pemerintahan. Yang penting, engkau belajar. Dan dasar itu semua adalah hadits Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhu,

كُنْتُ وَ جَارٌ لِي مِنَ الأَنْصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ وَهِيَ مِنْ عَوَالِي الْمَدِيْنَةِ وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا فَإِذَا نَزَلْتُ جِئْتُهُ مِنْ خَبَرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ وَحْيٍ وَغَيْرِهِ وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ

“Saya dulu punya tetangga seorang Anshar di lingkungan Bani Umayyah bin Zaid, di dataran tinggi Madinah. Kami bergantian turun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehari saya, sehari dia. Kalau saya yang turun, saya menemuinya, membawa ilmu yang saya terima hari itu. Kalau dia yang turun, dia melakukan yang serupa.”

Kalau perkaranya seperti itu, alhadulillah. Kiaskan dengan itu. Bisa jadi, engkau tidak memiliki sehari atau sepekan atau sebulan untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu dua atau tiga atau sembilan bulan—engkau sibukkan dengannya. Lalu, tidak mengapa [setelahnya] engkau sibukkan degnan bekerja.

Demikianlah para salafush shalih kita. Adapun pekerjaan-pekerjaan yang ada di sekitar kita ini, tidaklah itu muncul, kecuali seratus tahun terakhir atau kurang dari itu.

Para salafush shalih belajar dan bekerja. Perpustakaan yang sebesar ini, apakah datang kepada kita dengan cara mereka itu sebagai PNS?

Tidak. Mereka bekerja. Sebagai tukang ikan. Sebagai tukang minyak. Sebagai perajin kuningan, perajin tembaga. Sebagai tukang kayu. Lihat ke masing-masing mereka. Banyak julukan yang disandarkan kepada mereka itu karena pekerjaan-pekerjaan yang mereka lakukan dan mereka terampil melakukannya.

Karena itulah, dalam cabang ilmu hadits, terdapat bab-bab yang membahas tentang pemakaian nisbat karena pekerjaan dan kerajinan. Para ulama kita dulu mereka pekerja untuk [menghidupi] diri-diri mereka. Bahkan, para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang telah kalian ketahui barusan, memiliki pekerjaan, memiliki ladang-ladang. [Dalam] hadits Aisyah [dikatakan],

كَانَ أًصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمَّالَ أَنْفُسِهِمْ

“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang bekerja untuk diri-diri mereka.”

Lalu, Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

وَكَانَ يَكُونُ لَهُمْ أًرْوَاحٌ

“Dan mereka memiliki arwah.”

Maksudnya, pekerjaan-pekerjaan, ladang-ladang, dan kesibukan-kesibukan.

فَقِيْلَ لَهُمْ لَوِ اغْتَسَلْتُمْ

“Maka, dikatakanlah kepada mereka, ‘Andai kalian mandi’.”

Maksudnya, pada hari Jum’at, sampai tidak keluar bau-bau badan kalian ini.

Karena itu, benar, saudaraku, itu semua [belajar sambil bekerja] mungkin dilakukan. Wa lillahil hamd.

Rujukan: Transkrip tanya-jawab dengan Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah ketika memberikan muhadharah di Jami’ Al-Hukair, Provinsi Abu ‘Arisy, Jazan, pada hari kamis, 25 sya’ban 1434 H.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Sabtu,28 Pebruari 2015/9 Jumadil Awal 1436H

Print Friendly