Di antara Pokok-Pokok Keyakinan Agama yang Harus Diketahui Seorang Muslim

Dalam kitab Ashlu As Sunnah wa I’tiqad Ad Din, Abdurrahman bin Abi Hatim rahimahullahu ta’ala pernah mengatakan,

Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang mazhab ahlus sunnah [wal jama’ah] dalam pokok-pokok agama, apa yang mereka berdua ketahui tentangnya dari ulama-ulama di berbagai penjuru negeri, dan apa yang mereka berdua yakini tentang itu. Mereka pun menjawab,

“Yang kami ketahui dari para ulama di berbagai negeri—baik di Hijaz, Irak, Mesir, Syam, dan Yaman—dan itu termasuk mazhab mereka adalah:

[1] Iman itu ucapan dan perbuatan. Bertambah dan berkurang.

[2] Al Qur-an adalah kalam Allah. Bukan makhluk, dari berbagai sisi.

[3] Takdir, yang baiknya ataupun yang buruknya, berasal dari Allah ‘azza wa jalla.

[4] Orang yang terbaik setelah nabinya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq. Lalu, Umar bin Al Khaththab. Lalu, Utsman bin ‘Affan. Dan kemudian, Ali bin Abi Thalib. Radhiyallahu ‘anhum. Merekalah khulafa’ rasyidin yang diberi petunjuk. Dan kemudian sepuluh orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan nama-nama mereka dan beliau persaksikan bahwa mereka masuk ke dalam Surga. Kita persaksikan apa yang telah beliau persaksikan—dan ucapan Rasulullah itu benar adanya. Kita mohonkan rahmat kepada segenap sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menahan diri dari apa yang terjadi dari perselisihan di antara mereka.

[5] Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla ada di atas Arsy. Terpisah dari makhlukNya, sebagaimana yang Allah sifatkan diriNya sendiri dalam kitabNya dan oleh lisan rasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mem-bagaimana-kannya.

[6] Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang semisal dengannya dan Allah-lah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.

[7] Allah tabaraka wa ta’ala akan dilihat pada hari kiamat nanti. Dan ahlus jannah [penghuni Surga] akan melihatNya dengan mata-mata mereka dan mendengar ucapanNya seperti apa yang Allah kehendaki dan sebagaimana yang Allah kehendaki.

[8] Surga dan Neraka itu benar adanya. Kedua-duanya sudah diciptakan dan akan kekal selama-lamanya. Maka, Surga adalah ganjaran bagi wali-wali Allah, sedangkan Neraka adalah balasan bagi orang-orang yang bermaksiat, kecuali siapa saja yang Allah rahmati.

[9] Ash Shirath [jembatan di atas Neraka, menuju Surga] itu benar adanya.

[10] Timbangan amal yang memiliki dua daun timbangan yang di sana ditimbang amalan kebaikan dan amalan keburukan adalah benar adanya.

[11] Telaga yang dimuliakan dengannya nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar adanya.

[12] Dan syafaat juga benar adanya. Dan bahwa orang-orang yang bertauhid keluar dari Neraka karena syafaat adalah benar adanya.

[13] Azab kubur itu benar adanya. Malaikat Mungkar dan Nakir juga benar adanya.

[14] Malaikat-malaikat yang mencatat amalan itu benar adanya.

[15] Kebangkitan setelah kematian adalah benar adanya.

[16] Para pelaku dosa besar berada dalam kehendak Allah ‘azza wa jalla.

[17] Kita tidak mengafirkan ahlul kiblat [orang-orang yang masih shalat menghadap kiblat] karena dosa-dosa mereka dan kita serahkan isi-isi hati mereka kepada Allah ‘azza wa jalla.

[18] Kita mengadakan jihad dan haji bersama pemimpin-pemimpin kaum muslimin di setiap waktu, di setiap zaman.

[19] Kita tidak memandang bolehnya memberontak kepada para penguasa kaum muslimin. Tidak juga berperang ketika terjadi fitnah. Kita dengar dan taat terhadap siapa saja yang telah Allah berikan kekuasaan untuk memerintah kita. Dan kita tidak mencabut ketaatan darinya.

[20] Jihad berlangsung sejak diutusnya nabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari kiamat nanti bersama pemimpin dari kalangan penguasa kaum muslimin. Tidak ada yang menghapuskannya. Demikian pula dengan haji.

[21] Zakat-zakat hewan ternak dibayarkan kepada orang-orang yang ditunjuk oleh penguasa kaum muslimin.

[22] Kita mengikuti As Sunnah dan jamaah kaum muslimin. Kita menjauhi berbagai kesesatan, perpecahan, dan perselisihan.

[23] Orang-orang adalah mukmin dalam hukum-hukum dan warisan-warisan mereka. Tidak diketahui seperti apa mereka di sisi Allah. Karena itu, siapa saja yang mengatakan, ‘Sesungguhnya aku ini mukmin sejati’, maka ia adalah seorang mubtadi’. Siapa saja yang mengatakan, ‘Orang itu mukmin di sisi Allah’, maka ia termasuk orang yang berdusta. Siapa saja yang mengatakan, ‘Sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah’, maka ia benar.

[24] Kelompok Murji-ah itu mubtadi’ yang sesat.

[25] Kelompok Qadariyah itu sesat.

[26] Kelompok Jahmiyah itu kafir.

[27] Adapun kelompok Syiah Rafidhah, maka mereka itu orang-orang yang menolak Islam.

[28] Kelompok Khawarij adalah orang-orang yang keluar dari ketaatan.

[29] Dan siapa saja yang menganggap bahwa Al Qur-an adalah makhluk, maka ia telah kafir terhadap Allah yang maha agung dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama. Siapa saja yang ragu akan kekafirannya dari kalangan orang-orang yang memahami [masalah tersebut], maka ia kafir.”

Aku pernah mendengar ayahku mengatakan, “Dan ciri ahlul bid’ah itu adalah mencela ahlus sunnah.”

Abu Hatim [juga] mengatakan,

“Ciri orang-orang munafik adalah menamai ahlus sunnah sebagai kaum literalis. Orang-orang munafik itu ingin menghilangkan As Sunnah. Ciri orang-orang Jahmiyah adalah menamai ahlus sunnah sebagai orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Ciri orang-orang Qadariyah adalah menamai ahlus sunah sebagai orang-orang Jabriyah. Ciri orang-orang Murji-ah adalah menamai ahlus sunnah sebagai orang-orang yang menyelisihi dan senang mengurang-ngurangi. Ciri orang-orang Syiah Rafidhah adalah menamai ahlus sunnah sebagai orang-orang yang mencela ahlul bait. Dan tidak bisa menyematkan sebutan untuk ahlus sunnah, kecuali dengan satu nama dan mustahil mengumpulkan semua nama yang disebut itu.”

Aku pernah mendengar ayahku dan Abu Zur’ah menyuruh untuk mengucilkan orang-orang yang menyimpang dan ahlul bid’ah. Mereka berdua bersikap keras dalam hal itu dengan betul-betul keras. Mereka berdua mengingkari menyusun kitab-kitab dengan logika belaka tanpa menggunakan As Sunnah. Mereka berdua melarang untuk duduk-duduk dengan ahlul kalam dan membaca kitab-kitab ahlul kalam. Mereka berdua katakan, “Tidak akan pernah beruntung ahlul kalam.”

Kita memohon kepada Allah yang maha agung agar memberi kita dan kaum muslimin manfaat dengannya [apa yang dikatakan Abu Hatim Ar Razi dan Abu Zur’ah Ar Razi rahimahumallahu ta’ala itu].

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Sumber: Abdurrahman bin Abi Hatim. “Ashlu As Sunnah wa I’tiqad Ad Din” dalam diakses pada tanggal 03 Desember 2015.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly