Hal-Hal yang Membantu Kita Bersabar terhadap Kezaliman Seseorang kepada Kita (Bagian Ketiga)

Dalam kitab Qa’idatun fi Ash Shabri, Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala, menyebutkan,

 

Kesepuluh, hendaknya ia menyadari kebersamaan Allah dengannya apabila ia bersabar dan cinta Allah untuknya apabila ia bersabar. Demikian pula ridho Allah untuknya. Siapa saja yang Allah bersamanya, akan dilindungi dari berbagai macam gangguan dan bahaya yang tidak bisa itu dilakukan oleh seorang pun dari makhlukNya. Allah ta’ala berfirman,

وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang

bersabar.” (QS. Al Anfal: 46)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali Imran: 46)

Kesebelas, hendaknya ia menyadari bahwa sabar adalah setengah keimanan. Karena itu, janganlah dirinya mengeluarkan sebagian keimanannya hanya karena membela dirinya. Sebaliknya, jika ia bersabar, maka imannya akan terjaga, terlindungi dari kekurangan, dan Allah akan membela orang-orang yang beriman.

Keduabelas, hendaknya ia menyadari bahwa kesabarannya adalah ketetapannya atas dirinya sendiri—memaksa dirinya dan mengalahkan jiwanya, sehingga ketika dirinya bisa dikalahkan dan ditaklukkannya, maka ia tidak bisa diperbudak oleh jiwanya, tidak bisa ditawan,  dan tidak dilemparkan ke dalam berbagai kebinasaan.

Dan ketika ia menuruti jiwanya, mendengarkan jiwanya, dan terkekang oleh jiwanya, ia akan terus seperti itu sampai jiwanya membinasakannya, kecuali jika Allah merahmatinya. Karena itu, seandainya tidak ada sesuatu pada kesabarannya, kecuali dengan mengalahkan jiwanya dan setannya, maka pada saat itu tampak kekuasaan hatinya dan kekokohan tentara hatinya. Ia akan bahagia, kuat, dan mengusir musuh-musuhnya.

ketigabelas, hendaknya ia mengetahui bahwa jika ia bersabar, maka Allah menjadi penolongnya. Dan itu pasti. Sebab Allah adalah penolong orang-orang yang bersabar dan orang-orang yang menzaliminya dikembalikan kepada Allah.

Siapa saja yang membela dirinya, Allah kembalikan kepada diri orang itu sendiri, sehingga ia sendiri yang jadi penolongnya. Karena itu, mana [yang lebih baik]: Allah yang sebaik-baik penolong atau orang yang menolong dirinya sendiri yang selemah-lemah penolong?

Keempatbelas, kesabaran seseorang terhadap orang yang menyakitinya dan sikap menanggung semua itu akan menuntut orang yang menyakitinya itu menyadari kezalimannya, menyesalinya, meminta maaf kepadanya, dan orang-orang akan mencela orang yang zalim itu. Ia pun—setelah menyakiti—akan malu dan menyesal atas apa yang telah ia perbuat. Bahkan, ia akan menjadi pembelanya. Dan inilah makna dari firman Allah ta’ala,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tolaklah keburukan dengan apa yang lebih baik, sehingga orang yang tadinya memusuhimu akan menjadi teman yang setia. Dan itu tidaklah terjadi kecuali pada orang-orang yang bersabar serta tidak ada yang bisa melakukannya, kecuali orang yang memiliki karunia yang sangat besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Kelimabelas, terkadang membalas dan melawan [orang yang zalim] menjadi sebab bertambahnya kejahatan musuhnya itu, kekerasan diri musuhnya, dan pikiran tentang macam-macam gangguan yang akan dilakukan musuhnya lagi, sebagaimana ini telah disaksikan. Maka, jika seorang hamba bersabar dan memaafkan, ia akan selamat dari semua bahaya itu.

Dan orang yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih berbahaya untuk menolak satu bahaya yang lebih kecil. Berapa banyak orang yang membalas kezaliman dan melawannya, mendapatkan keadaan yang lebih sulit untuk diatasi oleh dirinya. Berapa banyak yang telah hilang dari jiwa, jabatan, dan harta-benda [karena ia membalas dan melawan]. Jika orang yang dizaliminya itu memaafkan, maka semua itu tidak akan hilang.

Keenambelas, siapa saja yang biasa membalas kezaliman dan tidak bersabar, niscaya akan terjatuh ke dalam kezaliman. Sebab jiwa tidak bisa berdiri di atas batasan adil yang wajib. Tidak secara ilmu dan tidak pula secara hasrat.

Terkadang, ia tidak kuat untuk berdiri di atas batasan al haq. Sebab kemarahan akan membuat orang yang marah itu tidak bisa berpikir tentang apa yang ia katakan dan ia kerjakan. Maka, ketika ia dizalimi dan sedang menunggu pertolongan dan kemuliaan, ia pun berubah menjadi orang yang zalim yang menunggu kemurkaan dan hukuman.

Ketujuhbelas, kezaliman yang menimpa orang yang dizalimi itu adalah sebab untuk menggugurkan dosanya atau mengangkat derajatnya, sehingga—jika ia membalas dan tidak bersabar—itu tidak membuat dosanya berguguran dan tidak pula mengangkat derajatnya.

Kedelapanbelas, maaf dan sabar adalah pasukan seorang hamba yang paling besar atas orang yang menzaliminya. Sebab, siapa saja yang bersabar dan memaafkan, maka sabar dan maafnya itu membuat orang yang menzaliminya terhina, merasa takut dan kecil di hadapannya dan di hadapan manusia—karena manusia tidak akan diam terhadap orang yang menzaliminya, meskipun orang yang dizalimi itu diam.

Akan tetapi, jika ia membalas kezaliman, akan hilang itu semua. Karenanya, engkau dapati kebanyakan orang apabila ia dihina atau diganggu ia ingin membalas. Apabila ia lakukan itu, ia akan tenang dan lepas beban yang ada padanya.

Kesembilanbelas, jika seorang hamba memaafkan orang yang zalim kepadanya, maka orang yang zalim itu akan merasa bahwa hamba tersebut lebih tinggi darinya dan lebih beruntung darinya. Orang yang akan terus dirinya lebih rendah dan cukuplah ini sebagai keutamaan dan kemuliaan untuk memaafkan.

Keduapuluh, jika seorang hamba memaafkan dan berlapang dada, maka ini adalah kebaikan. Kebaikan pun akan melahirkan kebaikan yang lain. Kebaikan yang lain itu akan melahirkan kebaikan lagi. Demikian seterusnya.

Karena itu, kebaikan-kebaikan orang yang dimaksud akan terus bertambah. Sebab balasan kebaikan adalah kebaikan pula, sebagaimana akibat keburukan adalah keburukan berikutnya. Dan terkadang sikap maafnya itu menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan yang abadi. Jika ia membalas kezaliman dan membela diri, akan hilang semua itu.

Sumber: Ibnu Taimiyah. Qa’idatun fi Ash Shabri. TTp: Darul Qasim. Tth, halaman 8-10.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Senin,18 April 2016/10 Rajab 1437H

Print Friendly