Ingatlah, ISTIQAMAH Itu Anugerah dan Karunia dari ALLAH subhanahu wa ta’ala

Dalam kitab ‘Asyru Qawa’id fil Istiqamah, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullahu ta’ala menulis,

Di dalam banyak ayat di kitab Allah subhanahu wa ta’ala, Allah ‘azza wa jalla menyandarkan pemberian hidayah menuju shirathal mustaqim kepada diriNya dan bahwa seluruh perkara pemberian hidayah ada di tanganNya. Allah memberi hidayah siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki. Di tangan Allah-lah subhanahu wa ta’ala hati-hati para hamba.

Karena itu, siapa saja yang Allah tabaraka wa ta’ala kehendaki, ia akan di-istiqamah-kan di atas shirathal mustaqim. Dan siapa saja yang Allah kehendaki, ia akan dipalingkan. Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً . وَإِذاً لَّآتَيْنَاهُم مِّن لَّدُنَّـا أَجْراً عَظِيماً . وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطاً مُّسْتَقِيماً .

“Dan sekali pun telah Kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah diri-diri kalian atau keluarlah kalian dari negeri kalian’, ternyata mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil mereka. Dan sekiranya mereka benar-benar  melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan [iman mereka]. Dengan demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus [shirathal mustaqim].” (QS. An Nisa’: 66-68)

Jadi, hidayah menuju shirathal mustaqim ada di tangan Allah ‘azza wa jalla. Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ بِاللّهِ وَاعْتَصَمُواْ بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطاً مُّسْتَقِيماً

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada agamaNya niscaya Allah akan masukkan mereka ke dalam rahmat dan karuniaNya serta menunjukkan kepada mereka kepada jalan yang lurus kepadaNya.” (QS. An Nisa’: 175)

Allah ta’ala berfirman,

وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Allah menyeru [manusia] ke Darus Salam [Surga] dan memberi petunjuk orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 25)

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ مَن يَشَإِ اللّهُ يُضْلِلْهُ وَمَن يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami—mereka itu—tuli, bisu, dan berada dalam kegelapan. Siapa saja yang Allah kehendaki kesesatannya, niscaya disesatkanNya. Dan siapa saja yang Allah kehendaki diberi petunjuk, niscaya Allah menjadikanNya berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al An’am: 39)

Allah ta’ala berfirman,

لَقَدْ أَنزَلْنَا آيَاتٍ مُّبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan. Dan Allah memberi petunjuk siapa saja yang dikehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. An Nur: 46)

Allah ta’ala berfirman,

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ . لِمَن شَاء مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ . وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ .

“[Al Qur-an] itu tidak lain dari peringatan bagi seluruh alam. [Yaitu] bagi siapa saja di antara kalian yang ingin menempuh jalan yang lurus. Dan engkau tidak dapat menghendaki [menempuh jalan itu], kecuali jika dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At Takwir: 27-29)

Dan ayat-ayat yang semakna dengan itu banyak. Maka, hidayah ada di tangan Allah ‘azza wa jalla. Dia subhanahu wa ta’ala karuniakan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya.

Dari situlah, yang paling pertama dari kaedah-kaedah dan pokok-pokok istiqamah adalah menghadap kepada Allah ‘azza wa jalla dengan jujur dalam meminta ke-istiqamah-an, karena hidayah ada di tanganNya. Dialah subhanahu wa ta’ala yang memberi hidayah kepada shirathal mustaqim. Dan adalah doa yang paling banyak dipanjatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai yang membolak-balikkan hati, kokohkan hatiku di atas agamaMu.”

Yang seperti itu adalah kokoh di atas istiqamah. Ummu Salamah mengatakan, “Aku pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankah hati-hati [manusia] itu berbolak-balik?’. Beliau menjawab,

نَعَمْ مَا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ بَشَرٍ إِلَّا أَنَّ قَلْبَهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ ، فَإِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَقَامَهُ ، وَإِنْ شَاءَ اللَّهُ أَزَاغَهُ

‘Ya, tidak ada satu pun keturunan Adam dari kalangan manusia, kecuali hatinya ada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Maka, siapa saja yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki, ia akan istiqamah. Dan siapa saja yang Allah kehendaki, Dia akan palingkan’.” [HR. Ahmad (no. 26576), At Tirmidzi (no. 3522) dan beliau meng-hasan-kannya]

Maka, istiqamah itu di tangan Allah. Karenanya, siapa saja yang menginginkannya ada pada dirinya, maka hendaklah ia minta kepada Allah dan memelas dalam memintanya. Telah datang di dalam Shahih Muslim, dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau radhiyallahu ‘anha pernah ditanya, “Dengan apa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat malam beliau?”. Aisyah menjawab, “Jika Rasulullah bangun malam, beliau memulai shalat malamnya dengan [membaca],

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mika-il dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui perkara gaib dan perkara yang tampak, Engkaulah yang menghukumi perkara yang diperselisihkan di antara hamba-hambaMu. Tunjukilah aku al haq pada apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya, Engkau memberi petunjuk ke jalan yang lurus siapa saja yang Engkau kehendaki’.”

Maka, inilah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan di setiap malam ketika memulai shalat beliau,

إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“…Sesungguhnya, Engkau memberi petunjuk ke jalan yang lurus siapa saja yang Engkau kehendaki.”

Dan ketika hal yang diminta ini —maksudnya minta kepada Allah ta’ala hidayah—adalah permintaan yang paling agung dan paling mulia, maka Allah subhanahu wa ta’ala wajibkan kepada hamba-hambaNya agar meminta kepadaNya hidayah ke jalanNya yang lurus berkali-kali dan berulang-ulang di setiap siang dan malam. Dan itu di dalam surat Al Fatihah,

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ .

“Tunjukkanlah kepada kami shirathal mustaqim [jalan yang lurus]. Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan kepada mereka. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang sesat.” (QS. Al Fatihah: 5-7)

Sebagian ulama mengatakan, “Sudah semestinya orang-orang awam diingatkan bahwa ayat-ayat ini adalah doa. Maka, ketika engkau mengucapkan,

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

‘Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus’, engkau sedang berdoa kepada Allah dengan doa yang telah Allah wajibkan kepadamu tujuh belas kali di setiap siang dan malam sebanyak rakaat shalat-shalat wajib.”

Karena itulah, wajib bagi setiap muslim untuk menyadari bahwa itu adalah doa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan, “Aku merenungi doa yang paling bermanfaat. Ternyata, itu adalah [doa] meminta pertolongan di atas ridho Allah. Lalu, kutemukan itu di dalam Al Fatihah di ayat

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

‘Hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan’ (QS. Al Fatihah: 4).”

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Seorang hamba diperintah untuk selalu meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala hidayah agar terus istiqamah.”

Maka, engkau dituntut untuk terus-menerus berdoa meminta hidayah kepada Allah agar istiqamah dan ini ada di dalam surat Al Fatihah. Adalah Al Hasan Al Bashari rahimahullah, jika membaca firman Allah ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya, orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqamah…” (QS. Al Ahqaf: 13), beliau berdoa,

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبَّنَا فَارْزُقْنَا الإِسْتِقَامَةَ

Ya Allah, ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami istiqamah.” [HR. Ath Thabarani dalam tafsir beliau (21/465)]

Sumber: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr. ‘Asyru Qawa’id fil Istiqamah. Aljazair: Darul Fadhilah. 1431H/2010M, hal.6-10.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat,25 Maret 2016/15 Jumadil Akhir 1437H

Print Friendly