INILAH CIRI-CIRI KELOMPOK HADDADI (Manhaj Para Pengikut Mahmud Al Haddad)

Dalam tulisan pendek berjudul “Shifat Al Haddadiyyah”, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullahu ta’ala menyebutkan beberapa ciri manhaj para pengikut Haddadi, orang-orang yang mengikuti Abu Abdillah Mahmud Al Haddad. Mereka adalah orang-orang yang merusak dakwah salaf, dengan mengatasnamakan para salaf dan ulama salaf. Ciri-ciri yang dimaksud adalah:

Satu

Kebencian mereka kepada ulama yang ber-manhaj Salafi di zaman ini. Merendahkan mereka. Menganggap mereka bodoh dan sesat serta melempar tuduhan kepada mereka. Terlebih lagi kepada ulama-ulama Madinah. Sampai-sampai, mereka melampaui batas dengan melakukan itu pada Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Abil ‘Izz—penyusun syarh [penjelasan Aqidah] Ath Thahawiyyah. Orang-orang Haddadi menyibukkan orang-orang di sekeliling mereka untuk menjatuhkan kedudukan ulama-ulama itu dan membantah ucapan-ucapan mereka, para ulama.

Dua

Ucapan mereka dalam mem-bid’ah-kan setiap orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan Ibnu Hajar di sisi mereka lebih parah dan lebih bahaya daripada Sayyid Quthb.

Tiga

Mem-bid’ah-kan siapa saja yang tidak mem-bid’ah-kan orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Tidak cukup bagi mereka engkau berkata, “Pada Fulan, ada akidah Asy’ariyah.” Atau, “Ia seorang Asy’ari.” Bahkan, engkau harus mengatakan, “Ia mubtadi’.” Jika tidak, permusuhan, pengucilan, dan pem-bid’ah-an [untukmu].

Empat

Mengharamkan ucapan “rahimahullah” kepada ahlul bid’ah secara mutlak. Tidak ada beda antara Rafidhah, Qadariyah, Jahmiyah dan ulama yang terjatuh ke dalam bid’ah.

Lima

Mem-bid’ah-kan siapa saja yang mengucapkan “rahimahullah” kepada yang semisal Abu Hanifah, Asy Syaukani, Ibnul Jauzi, Ibnu Hajar, dan An Nawawi.

Enam

Permusuhan yang besar terhadap ikhwah Salafi, meskipun mereka telah mencurahkan kesungguhan dalam berdakwah kepada manhaj salaf dan membela dakwah salaf. Meskipun mereka bersungguh-sungguh dalam memberantas bid’ah-bid’ah, sikap-sikap hizbiyyah, dan berbagai kesesatan. Orang-orang Haddadi lebih memfokuskan celaan mereka kepada ulama-ulama Madinah. Kemudian, kepada Syaikh Al Albani rahimahullah, karena beliau termasuk ulama kibar yang ber-manhaj salaf. Maksudnya, beliau termasuk ulama kibar yang paling keras memerangi hizbiyyah dan ahlul bid’ah serta orang-orang yang fanatik buta.

Dan sungguh salah seorang Haddadi telah mendustakan Ibnu Utsaimin dalam majelis saya. Lebih dari sepuluh kali. Saya pun marah besar. Saya usir ia dari majelis saya. Dan mereka telah menyusun kitab tentang itu dan menyebarkan kaset rekamannya. Mereka menyebarkan slogan-slogan yang melawan para ulama tersebut dan memenuhi kitab-kitab, kaset-kaset rekaman, dan slogan-slogan mereka dengan berbagai kedustaan dan tuduhan.

Termasuk [bentuk] penentangan Al Haddad adalah ia telah menyusun kitab dalam mencela dan menjatuhkan Syaikh Al Albani. Ada sekitar 400 halaman ia tulis sendiri. Jika itu diterbitkan, kemungkinan bisa mencapai 1000 halaman. Dan Al Haddad memberi judul kitab itu dengan Al Khamis. Artinya, “Tentara yang kuat.” Ada bagian depannya, bagian belakangnya, bagian inti, sayap kanan dan sayap kiri.

Al Haddad mengaku-ngaku mengeluarkan tahdzir [peringatan] terhadap Ikhwanul Muslimin, Sayyid Quthb, pengikut-pengikut Juhaiman. Akan tetapi, kita belum pernah melihatnya menulis apapun tentang itu, meskipun sekedar kompilasi kecil yang tersusun. Terlebih lagi, yang semisalnya kitabnya, Al Khamis.

 

Tujuh

Pengikut-pengikut Al Haddad berlebih-lebihan terhadap Al Haddad dan menganggapnya sangat berilmu. Seperti itu mereka, agar bisa menjadi batu loncatan untuk menjatuhkan ulama-ulama kibar dan manhaj salaf. Juga, agar “syaikh” mereka itu dapat didudukkan pada tingkatan imam tanpa terbantahkan, sebagaimana diperbuat orang-orang semisal mereka dari para pengikut orang yang menderita gangguan jiwa yang akut. Mereka katakan kepada Fulan dan Fulan yang terhitung tinggi dalam tingkatan keilmuannya, “Hendaklah mereka bersimpuh di atas lutut-lutut mereka di hadapan Abu Abdillah Al Haddad dan Ummu Abdillah.”

 

Delapan

Mereka merendahkan ulama-ulama Salafi di Madinah dan yang lainnya. Mereka tuduh ulama-ulama tersebut dengan kedustaan. “Fulan pendusta.” “Fulan pendusta,” sambil mencitrakan diri sebagai orang-orang yang menyukai kejujuran dan perhatian terhadap kejujuran. Ketika dijelaskan kepada mereka kedustaan Al Haddad, dengan dalil-dalil dan bukti-bukti, Allah singkap hakekat keadaan mereka dan apa yang mereka sembunyikan dari kejahatan-kejahatan, sehingga tidaklah bertambah kecuali sikap fanatik dan ekstrem kepada Al Haddad.

 

Sembilan

Mereka betul-betul keblinger dalam melaknat, bersikap kaku dan meneror, sampai ke tingkat mengancam ikhwah Salafi dengan kekerasan. Bahkan, sampai ada yang memukul sebagian ikhwah Salafi.

 

Sepuluh

Memastikan laknat kepada seseorang, sampai sebagian mereka melaknat Abu Hanifah. Sebagian yang lain mengafirkannya. Lalu, datang Al Haddad dengan pendapat yang benar atau salah dan berkata, “Ini kezindikan.” Itu membuatnya semakin dirasakan sebagai takfiri yang menyembunyikan akidah takfir.

 

Sebelas

Sombong dan keras kepala yang itu mengantarkan kepada penolakan terhadap al haq, seperti sebagian besar ahlul bid’ah yang ekstrem, sehingga setiap apa yang diutarakan ulama-ulama Madinah—dari itu penjelasan tentang penyimpangan-penyimpangan Al Haddad dari manhaj salaf—mereka tolak. Karena itu, mereka ini—dengan semua perbuatan mereka—termasuk dari kelompok-kelompok Islam yang paling jahat. Paling jelek akhlak dan ke-hizbi-annya.

 

Dua Belas

Mereka adalah orang-orang yang paling banyak menyandarkan sesuatu kepada Imam Ahmad. Ketika diterangkan penyelisihan Al Haddad terhadap Imam Ahmad dalam mauqif-mauqif beliau kepada ahlul bid’ah, mereka mengingkari itu dan menuduh siapa saja yang menyandarkan itu kepada Imam Ahmad. Al Haddad Mengatakan, “Jika benar itu dari Imam Ahmad, sesungguhnya kita tidak taklid kepadanya. [Seakan-akan] mereka tidak ada kecintaan terhadap al haq dan tidak berusaha mencar al haq. Mereka hanya menyukai fitnah dan merobek-robek barisan Salafi.

RUJUKAN: Majmu’ Kutub wa Rasa-il wa Fatawa Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali: Juz IX. Kairo: Darul Imam Ahmad. Tth, halaman 470-471.


Tentang pengertian manhaj, buka kembali tanya-jawab dengan Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullah di atau tanya-jawab dengan Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi rahimahullah di yang keduanya telah diunggah beberapa pekan yang lalu.

Takfiri adalah orang yang memiliki akidah takfir. Takfir sendiri adalah akidah orang-orang Khawarij yang mudah mengafirkan seorang muslim hanya karena melakukan dosa besar [penerj.]

Tentang pengertian hizbi dan sifat hizbiyah, buka kembali tanya-jawab bersama Syaikh Rabi’ di yang diunggah beberapa pekan yang lalu.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 2 April 2015/12 Jumadil Akhir 1436H

Print Friendly