Jika Al Quran Hanya Dibaca tanpa Direnungi dan Diperhatikan Inti Kandungannya

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala pernah mengatakan,

Tidak diragukan lagi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan Al Qur-an sebagai penjelas untuk segala sesuatu dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan Al Qur-an dengan penjelasan yang sempurna. Dan yang paling agung dijelaskan Allah dan rasulNya dalam Al Qur-an adalah perkara tauhid dan syirik. Sebab tauhid adalah asas Islam dan agama.

Tauhidlah pondasi seluruh amalan dan syirik meruntuhkan serta merusak pondasi ini sampai tidak tersisa lagi, karena keduanya adalah perkara yang saling berlawanan dan saling bertentangan. Tidak bisa bersatu selama-lamanya.

Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala telah menerangkan pondasi ini di dalam kitabNya, di seluruh isi Al Qur-an, sehingga hampir tidak pernah kosong satu surat pun dari menyinggung tauhid dan syirik. Dan orang-orang membaca Al Qur-an dan mengulang-ulangnya.

Akan tetapi, sedikit orang yang memerhatikan penjelasan tersebut. Karena itu, engkau temukan sebagian orang membaca Al Qur-an tetapi terjatuh ke dalam kesyirikan. Mereka tidak memiliki tauhid—padahal perkara tersebut sangat jelas di dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—karena mereka berjalan di atas adat-adat dan apa-apa yang didapat dari bapak-bapak dan guru-guru mereka, sehingga asas agama bagi mereka adalah apa yang mereka temukan pada bapak-bapak mereka, guru-guru mereka, dan orang-orang di negeri mereka.

Tidak terpikirkan oleh mereka sehari pun dari hari-hari yang ada untuk memerhatikan dan merenungi Al Qur-an serta meninjau apa yang dilakukan oleh orang-orang itu—apakah benar atau salah. Sebaliknya, taklid buta kepada bapak-bapak mereka dan nenek moyang mereka telah menguasai mereka. Mereka menganggap bahwa Al Qur-an hanya dibaca untuk mendapatkan barakah dan pahala karena membacanya. Bukan dibaca untuk memerhatikan kandungannya dan mengamalkan isinya.

Sedikit sekali orang-orang yang membaca Al Qur-an dengan tujuan memerhatikan kandungan dan merenungi isinya. Mereka hanya membacanya untuk mencari barakah dan menikmati suara orang yang melantunkan dan menyanyikannya atau membacakannya untuk mengobati orang yang sakit. Adapun membacanya untuk mengamalkannya, merenunginya, menjadikannya rujukan, dan menimbang apa yang dilakukan manusia terhadap Al Qur-an itu, maka yang seperti ini tidaklah ada pada manusia kecuali sedikit.

Kita tidak mengatakan tidak ada, tetapi sangat sedikit. Karena itu, engkau temukan Al Qur-an ada di satu lembah dan amalan sebagian manusia itu di lembah lain. Tidak terpikirkan oleh mereka untuk berubah selama-lamanya. Meskipun seorang pembaharu atau dai sudah berusaha untuk mengubah apa yang ada pada mereka itu, niscaya mereka akan menentangnya atau menuduhnya dengan kesesatan. Mereka menuduhnya telah keluar dari Islam, datang dengan agama yang baru, dan seterusnya.

Sumber: Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan. Syarh Al Ushul As Sittah lil Imam Muhammad bin Abdil Wahhab. Shan’a: Maktabah Al Imam Al Wadi’i. 1429H/2008M, halaman 5-7.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly