MENERANGKAN NASEHAT TIDAK WAJIB, KECUALI…

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al Busti rahimahullahu ta’ala mengatakan,

“Nasehat wajib atas semua manusia, seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya. Akan tetapi, menerangkannya tidak wajib, kecuali secara sembunyi-sembunyi. Sebab siapa saja yang menasehati saudaranya secara terang-terangan, maka sesungguhnya ia telah menjatuhkannya. Siapa saja yang telah menasehati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, maka sungguh ia telah memuliakannya. Karena itu, menyampaikan nasehat kepada saudara muslimnya dengan cara memuliakan saudaranya itu akan lebih mengena daripada ia menyampaikannya dengan cara merendahkannya.”

Rujukan: Raudhatul ‘Uqala’ (halaman 196)

Abu Hatim Ibnu Hibban juga berkata, 

“Sebaik-baik saudara adalah yang sempurna dalam menasehati, sebagaimana sebaik-baik amalan adalah yang paling terpuji akhirannya dan baik keikhlasannya.”

Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri rahimahullahu ta’ala pernah mengatakan,

“Jika engkau hendak menasehati, maka nasehatilah dengan sembunyi-sembunyi. Bukan terang-terangan. Dengan memaparkan [secara lembut]. Bukan blak-blakan. Kecuali, jika yang dinasehati itu tidak memahami pemaparanmu [yang lembut], sehingga harus bagimu untuk to-the-point.

Rujukan: Al Akhlaq wa As Siyar (halaman 44)

Sumber: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=229537 diakses pada tanggal 20 Juli 2015.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat, 7 Agustus 2015/21 Syawal 1436H

Print Friendly