Mengingat Batas-Batas yang Telah Allah Tentukan untuk Kita

Terkait sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan Allah telah menetapkan sejumlah batasan, maka jangan kalian melampauinya”, dalam hadits Abu Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا ، وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا ، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا ، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً بِكُمْ ، غَيْرَ نِسْيَانٍ ، فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa perkara, maka jangan kalian tinggalkanlah. Allah telah menetapkan sejumlah batasan, makan jangan kalian melampauinya. Allah telah mengharamkan sejumlah hal, maka jangan kalian melanggarnya. Dan Allah telah mendiamkan dari kalian sejumlah perkara sebagai rahmat untuk kalian, bukan karena lupa, maka jangan kalian membicarakannya” [HR. Ad Daruquthni],

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala mengatakan,

 

Tidak boleh melampaui batas dalam memberikan hukuman.

Karena itu, seorang pezina, misalnya, jika berzina dan ia adalah seorang yang belum pernah menikah, maka ia dicambuk sebanyak 100 kali dan diasingkan selama setahun. Tidak boleh menambah lebih dari 100 cambukan.

Misalnya, kita katakan, ia dicambuk 150 kali. Maka, yang seperti ini haram.

Jika ada seseorang yang mengatakan, “Kalau kita cukupkan dengan 100 cambukan, kemungkinan ia akan sering berzina. Kalau kita tambah, ia akan kapok”, maka jawabannya, “Apakah engkau lebih berilmu ataukah Allah? Selama Allah ‘azza wa jalla mewajibkan 100 cambukan, maka kita tidak boleh melampauinya.”

Terkait dengan pengasingan selama setahun, ada beda pendapat di antara para ulama akan hal itu. Apakah diasingkan ataukah tidak? Sebab hukuman pengasingan telah shahih datangnya dari As Sunnah, sedangkan perbedaan pendapat dalam hal ini diketahui bersama.

Dari situ, kita pun tahu bahwa hukunman  bagi peminum khamr tidak batasannya. Tidak mungkin juga untuk kita katakan, “Sesungguhnya ada batasannya. Sebab, jika ada batasannya, maka tidak akan melewati batasannya Umar dan para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum.”

Lalu, ada dalil lainnya dari batasan itu sendiri, karena apa yang diisyaratkan Umar kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, hukuman yang paling ringan adalah 80 cambukan.” Maksudnya, batasan hukuman bagi yang menuduh berzina.

Kalau memang hukuman bagi peminum khamr ada batasannya, niscaya yang paling ringannya adalah 40 cambukan dan ini sesuatu yang jelas. Akan tetapi, subhanallah, para ahli fikih rahimahumullah mereka memandang ada batas hukuman bagi peminum khamr. Ketika diperhatikan menjadi jelas bahwa pendapat akan adanya batas hukuman bagi peminum khamr adalah pendapat yang lemah. Dan tidak mungkin bagi Umar radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya untuk melampaui batasan hukum Allah ‘azza wa jalla.

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Syarh Al Arba’in An Nawawiyyah. Riyadh: Dar Ats Tsurayya. 1423H/2003M, halaman 312.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly