Menunaikan Zakat Perhiasan Emas dan Perak bagi Seorang Muslim

Tentang zakat perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala mengatakan,

Sesungguhnya, zakat diwajibkan pada emas dan perak, apapun wujudnya. Sama saja, [apakah] itu dalam bentuk uang, biji emas—yaitu bagian-bagian emas dan perak, perhiasan, cawan-cawan, dan lain-lain. Bersamaan dengan itu, tidak boleh bagi seseorang untuk minum dari bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak, sebagaimana ini telah diketahui.

Zakat diwajibkan pada emas dan perak dalam bentuk apapun, karena firman Allah ta’ala,

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ . يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka akan siksa yang sangat pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu di Jahanam. Lalu, disetrikalah dengannya di dahi-dahi mereka, sisi samping tubuh mereka dan punggung mereka.” (QS. At Taubah: 34-35)

Dan dikatakan kepada mereka,

هَـذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

“Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri. Karena itu, rasakanlah apa yang telah kalian simpan itu.” (QS. At Taubah: 35)

Jadi, disiksalah orang-orang yang tidak membayar zakat itu. Yang mereka itu menahan apa yang telah Allah wajibkan kepada mereka terkait harta-harta mereka.

Dan yang paling pentingnya adalah zakat, sehingga disiksalah mereka dengan azab, lahir dan batin. Azab secara lahir adalah disetrikanya dahi-dahi, dua sisi tubuh, dan punggung-punggung mereka. Azab secara batin adalah dikatakan kepada mereka,

هَـذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

“Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri. Karena itu, rasakanlah apa yang telah kalian simpan itu.” (QS. At Taubah: 35)

Maka, kecaman dan penyesalan, tidak diragukan lagi, sesungguhnya itu yang menyakiti jiwa, sehingga disiksalah karenanya—wal ‘iyadzu billah—karena tidak mau mengeluarkan apa yang telah Allah wajibkan kepada mereka terkait harta-harta mereka secara lahir dan batin.

Orang yang menimbun emas dan perak, sebagaimana dikatakan para ulama, adalah setiap orang yang tidak menunaikan zakat emas dan perak. Ia adalah orang yang menyembunyikan zakatnya, meskipun ditaruh di puncak-puncak gunung. Dan setiap yang menunaikan zakat emas dan perak, maka ia bukan penimbun zakat, meskipun ditaruh di dalam perut bumi.

Jadi, bukanlah menimbun [yang dimaksud] itu mengubur. Akan tetapi, menahan apa yang telah Allah wajibkan kepadamu berupa zakat atau yang lainnya terkait harta milikmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ صُفِحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بِهَا جَبْهَتُهُ وَجَنْبُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرُدَتْ أُعِيْدَتْ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَان مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، فَيَرَى سَبِيْلَهُ إِمَّا إِلَى الجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

“Siapa saja yang memiliki emas atau perak tapi tidak mengeluarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat nanti akan disepuh untuknya lempengan dari api neraka, lalu dipanaskan dalam api neraka Jahannam, lalu disetrika dahi, sisi samping tubuh dan punggungnya dengan lempengan tersebut. Setiap kali dingin akan disepuh lagi dan disetrikakan kembali kepadanya pada hari yang ukurannya sama dengan 50.000 tahun sampai ditegakkan pengadilan terhadap hamba-hamba. Kemudian ia melihat tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka.”

Dan sabda beliau,

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّة

“Siapa saja yang memiliki emas atau perak,” itu umum.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengaitkannya dengan sesuatu. Berdasarkan hal ini, maka yang sahih dari pendapat-pendapat para ulama adalah bahwa zakat wajib atas perhiasan dari emas dan perak. Dan yang menunjukkan ini adalah hadits-hadits khusus terkait perhiasan. Di antaranya adalah hadits Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi seorang wanita yang di tangan anaknya terdapat dua gelang besar yang terbuat dari emas. Rasulullah pun bertanya kepadanya,

أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا قَالَتْ لَا قَالَ أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ قَالَ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَتْ هُمَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ

“Apakah engkau keluarkan zakat ini?”. Dia menjawab, “Tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah engkau senang, kalau nantinya Allah akan memakaikan kepadamu pada hari kiamat dua gelang dari api neraka?” Wanita itu pun melepas keduanya dan memberikannya kepada Rasulullah seraya berkata, “Keduanya untuk Allah dan RasulNya.”

Hadits ini dikuatkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar [Al Asqalani] rahimahullah di dalam [kitab] Bulughul Maram. Beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh imam yang tiga dan sanadnya kuat.” Beliau kemudian menyebutkan dua syahid [penguat untuk hadits tersebut]. Pertama, dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kedua, hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma.

Karena itu, tidak ada ucapan selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak mungkin bagi siapa pun untuk ber-hujjah di hadapan Allah ‘azza wa jalla pada hari kiamat nanti dengan ucapan Fulan dan Fulan, kecuali sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab manusia ber-hujjah dengannya. Adapun ucapan selain rasul, maka itu tidaklah bermanfaat pada hari kiamat. Dan karena inilah, Allah ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

“Dan ketika hari Allah memanggil mereka. ‘Apa yang kalian jawab untuk para Rasul?’.” (QS. Al Qashash: 65)

Dan tidak dikatakan, “Apa yang kalian jawab untuk Fulan?”. Akan tetapi, ” Apa yang kalian jawab untuk para rasul?”, sehingga apa yang menjadi jawabanmu di hari kiamat jika engkau ditanya, “Apa yang engkau jawab untuk rasulKu terkait kewajiban zakat perhiasan, sedangkan nash umum dan khusus darinya telah datang kepadamu?”.

Pendapat tersebut adalah mazhab Abu Hanifah rahimahullah dan dalam satu riwayat [dari] mazhab Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Pendapat kedua, tidak ada zakat terkait perhiasan, jika itu terhitung sebagai barang yang dipakai atau barang pinjaman.

Masalah itu pun menjadi perdebatan yang sengit di kalangan para ulama. Dan hakim di kalangan mereka terkait permasalahan tersebut adalah firman Allah ta’ala,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ مِنْ شَيْئٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللّٰهِ

“Dan apa-apa yang kalian perselisihkan, maka hukumnya kembali kepada Allah.” (QS. Asy Syura: 10)

Bukan kepada Fulan. Bukan pula kepada Fulan. Tidak dikembalikan kepada mayoritas. Tidak pula kepada kekuatan ilmu. Akan tetapi, kepada apa yang ditunjukkan oleh Al Qur-an dan As Sunnah. Allah ta’ala berfirman,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Maka, jika kalian berselisih dalam satu hal, maka kembalikan oleh kalian kepada Allah dan rasul jika memang kalian beriman kepada Allah dan hari kiamat. Yang demikian itu lebih baik dan utama kesudahannya.” (QS. An Nisa’: 59)

Dan kita, jika kita kembalikan permasalahan yang dimaksud kepada Allah dan rasulNya, kita akan temukan bahwa pendapat yang rajih [kuat] adalah pendapat yang mengatakan wajibnya zakat perhiasan emas dan perak.

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Silsilah Ushul Al Islam: Az Zakah. TTp: Mu-assasah Al Amirah Al ‘Unud binti Abdil Aziz Al Khairiyyah. TTh, halaman 12-19.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Sabtu, 2 Juli 2016/26 Ramadhan 1437H

Print Friendly