Muslim yang Baik Selalu Memerhatikan Keadaan Imannya (Bertambah ataukah Berkurang?)

Dalam kitab Tajdid Al Iman, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhahumallahu ta’ala menulis,

Dari semua yang kita miliki, iman adalah sesuatu yang paling berharga dan perbendaharaan yang paling mahal di dunia ini. Siapa saja yang hilang keimanannya, hilang pula kehidupannya yang hakiki. Sebab tidak ada kehidupan yang hakiki bagi manusia tanpa keimanan.

Adapun bisa berjalan dengan kaki, mengambil sesuatu dengan tangan dan berbicara dengan lisan semata—tanpa keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka yang seperti ini manusia dan hewan bisa melakukannya. Sementara kehidupan hakiki adalah hidup menaati Ar Rahman subhanahu wa ta’ala dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas petunjuk. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Wahai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan rasulNya, apabila rasul mengajakmu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (QS. Al Anfal: 24)

Dan, sungguh, para salaf rahimahumullah dari kalangan sahabat [Rasulullah] dan orang-orang yang setelah mereka betul-betul memerhatikan keimanan mereka dengan perhatian yang besar dan mencurahkan kesungguhan kepadanya dengan kesungguhan yang lebih. Banyak ucapan yang diriwayatkan dari mereka tentang kekuatiran terhadap iman dan amal serta usaha mereka dalam memperkuat dan memperbarui keimanan.

Adalah Umar bin Al Khaththab—seorang khalifah yang diberi petunjuk—yang pernah mengatakan kepada sahabat-sahabat beliau, “Mari, kita tambah keimanan kita.”

Maksudnya, kita duduk dan kita mengingat Allah tabaraka wa ta’ala, kita mengingat Surga, kita mengingat Neraka, kita mengingat ancaman dan janji Allah, kita mengingat harapan akan Allah dan ketakutan terhadap Allah. Maka, kita mengingat itu semuanya, sehingga bertambah dan menguat keimanan kita.

Adalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang pernah mengatakan, “Duduklah kalian bersama kami, kita tambah keimanan kita.”

Dan adalah beliau yang dalam berdoa mengatakan, “Ya Allah, tambahkanlah untukku keimanan, keyakinan, dan ke-faqih-an.”

Adalah Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang pernah mengatakan, “Duduklah kalian bersama kami, kita beriman sesaat.”

Dan adalah Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu yang mengambil tanya seseorang dari sahabat-sahabatnya, lalu mengatakan, “Mari kita beriman sesaat. Mari ke sini, sehingga kita bisa mengingat Allah. Lalu bertambah iman kita dengan menaati Allah. Barangkali kita akan mengingat ampunanNya.”

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Termasuk baiknya pemahaman seseorang ia mengetahui apakah imannya bertambah ataukah tidak. Dan juga termasuk luasnya fikih seseorang ia mengetahui tipu daya setan—bagaimana itu datang kepadanya.”

Maksudnya, petunjuk akan baiknya pemahaman adalah ia meninjau perkara imannya: apakah sedang bertambah ataukah sedang berkurang. Maka, kebanyakan manusia berkurang imannya dan mereka tidak memerhatikannya. Dan ini termasuk dari lemahnya pemahaman dan ilmu seseorang.

Dan adalah Umair bin Habib Al Khatmi radhiyallahu ‘anhu yang pernah mengatakan, “Iman itu bertambah dan berkurang.” Ada yang bertanya, “Bagaimana bertambahnya dan bagaimana berkurangnya?”. Beliau menjawab, “Jika kita berzikir kepada Allah, ber-tahmid kepadaNya, dan ber-tasbih kepadaNya, maka itulah bertambahnya iman. Jika kita melalaikannya, menyia-nyiakannya, dan melupakannya, maka itulah berkurangnya iman.”

Alqamah bin Qais An Nakha’i rahimahullahu ta’ala (beliau salah satu pemuka kalangan tabi’in dan salah satu tabi’in yang paling mulia) pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Berjalanlah bersama kami, kita tambah keimanan kita.”

Abdurrahman bin Amr Al Auza’i rahimahullahu ta’ala pernah ditanya tentang iman, “Apakah [iman] bisa bertambah?”. Beliau menjawab, “Ya, sampai jadi seperti gunung.” Beliau ditanya lagi, “Apakah bisa berkurang?”. Beliau menjawab, “Ya, sampai tidak bersisa sama sekali.”

Imam Ahmad [bin Hanbal] rahimahullahu ta’ala pernah ditanya tentang iman, “Apakah bertambah dan berkurang?”. Beliau menjawab, “Bertambah sampai mencapai langit ketujuh yang paling tinggi dan berkurang sampai turun ke lapisan bumi yang paling rendah.”

Sumber: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr. Tajdid Al Iman. TTp: TPn. 1438H/2016M, halaman 3-6.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis,12 Mei 2016/4 Sya’ban 1437H

Print Friendly