Nasehat Tidak Diterima, TAHDZIR?

Imam Muslim rahimahullahu ta’ala meriwayatkan,

عَن عَلِيٍّ بن أبي طالب أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ  , فَقَالَ : ” أَلا تُصَلِّيَانِ ؟ ” فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ أَنْفُسَنَا بِيَدِ اللَّهِ ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا . فَانْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قُلْتُ لَهُ ذَلِكَ ، وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا , ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخْذَهُ ، وَهُوَ يَقُولُ : وَكَانَ الإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا (سورة الكهف آية 54) .

Dari Ali bin Abi Thalib, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengetuk rumah Ali dan Fatimah. Lalu, beliau berkata, ‘Tidakkah kalian shalat [malam]?’. Maka, kujawab, ‘Sesungguhnya diri-diri kami ada di tangan Allah. Jika Dia berkehendak kami bangun, maka kami bangun’. Rasulullah pun berpaling, ketika aku berkata seperti itu. Lalu, aku mendengar beliau pergi sambil memukul paha beliau dan mengatakan,

وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَر شَيْءٍ جَدَلاً

‘Dan adalah manusia yang paling banyak berkilah’ (QS. Al Kahfi: 54).” [HR. Muslim No. 775]

Terkait hadits ini, Imam An Nawawi rahimahullahu ta’ala menjelaskan,

“Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk shalat malam dan Rasulullah memerintahkan manusia untuk itu. Pemimpin tertinggi harus memperhatikan rakyatnya terkait maslahat-maslahat akhirat dan dunia mereka. Dan hendaknya seseorang yang menasehati itu–jika tidak diterima nasehatnya atau [orang yang dinasehati] membalas nasehatnya dengan sesuatu yang tidak ia sukai–menahan diri dan tidak marah, kecuali karena ada maslahatnya.”

Rujukan: An Nawawi. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj: Juz IV. Kairo: Dar Ibn Al Haitsam. Tth, halaman 95-96.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat,10 Juli 2015/23 Ramadhan 1436H

Print Friendly