Perilaku-Perilaku Jahiliyyah yang Harus Betul-Betul Dijauhi Seorang Muslim (Bagian Keempat)

Perilaku-perilaku jahiliyyah berikutnya, sebagaimana dikatakan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala dalam kitab Masa-il Al Jahiliyyah, adalah:

Perkara kedua puluh satu, mereka beribadah dengan bersiul dan bertepuk-tangan.

Perkara kedua puluh dua, mereka menjadikan agama mereka senda-gurau dan permainan.

Perkara kedua puluh tiga, kehidupan dunia menipu mereka. Mereka mengira bahwa pemberian Allah [kepada mereka] menunjukkan akan ridho Allah, sebagaimana ucapan mereka,

نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالاً وَأَوْلَاداً وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

“…’Kami lebih banyak harta dan anak-anak. Dan kami sekali-kali tidak akan diazab’.” (QS. Saba’: 35)

Perkara kedua puluh empat, tidak mau masuk ke dalam al haq, jika telah didahului oleh orang-orang lemah, karena sombong dan keras kepala. Maka, Allah ta’ala turunkan,

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم

“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Rabb mereka.” (QS. Al An’am: 52)

Perkara kedua puluh lima, berdalil tentang kebatilan sesuatu dengan didahuluinya hal tersebut orang-orang lemah, seperti firman Allah,

لَوْ كَانَ خَيْراً مَّا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

“…’ Kalau sekiranya [dalam Al Qur’an] ada sesuatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami [dalam beriman] kepadanya’.” (QS. Al Ahqaf: 11)

Perkara kedua puluh enam, mengubah kitab Allah dengan apa-apa yang mereka pikirkan, sedangkan mereka menyadari hal itu.

Perkara kedua puluh tujuh, menyusun kitab-kitab batil dan menyandarkannya kepada Allah, seperti firman Allah,

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ

“Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka, lalu berkata, ‘Ini dari Allah’.” (QS. Al Baqarah: 79)

Perkara kedua puluh delapan, bahwasanya mereka tidak menerima al haq, kecuali yang menguntungkan kelompok mereka, seperti firman Allah,

قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا

“Mereka mengatakan, ‘Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’.” (QS. Al Baqarah: 91)

Perkara kedua puluh sembilan, bersamaan dengan itu, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan kelompok mereka itu, sebagaimana ditekankan oleh Allah ta’ala tentangnya melalui firmanNya,

قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Katakan, ‘Kalau demikian, mengapa kalian dulu membunuh nabi-nabi Allah, jika benar kalian orang-orang yang beriman?’.” (QS. Al Baqarah: 91)

Perkara ketiga puluh, termasuk tanda-tanda Allah yang mengherankan adalah bahwa mereka betul-betul meninggalkan wasiat Allah untuk bersatu dan melakukan apa yang Allah larang berupa berpecah-belah. Jadilah mereka senang dengan apa yang ada pada setiap kelompok mereka.

Perkara ketiga puluh satu, termasuk tanda-tanda [Allah] yang mengherankan juga adalah mereka memusuhi agama yang mereka menyandarkan diri kepadanya dengan sebetul-betulnya permusuhan dan mereka mencintai agama orang-orang kafir yang memusuhi mereka dan nabi mereka serta kelompok mereka dengan sebetul-betulnya kecintaan. Seperti yang mereka lakukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau mendatangi mereka dengan agama Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka pun [memilih] mengikuti kitab-kitab sihir yang itu adalah agama pengikut-pengikut Fir’aun.

Perkara ketiga puluh dua, mereka mengingkari al haq jika dibawa oleh orang yang mereka hinakan, sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَىَ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki satu rujukan’. Orang-orang Nasrani berkata, ‘Orang-orang Yahudi tidak memiliki satu rujukan’.” (QS. Al Baqarah: 113)

Perkara ketiga puluh tiga, mereka mengingkari apa yang telah mereka tetapkan bahwa itu termasuk dari agama mereka, sebagaimana yang mereka lakukan pada haji di Ka’bah. Maka, Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ

“Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri…” dan seterusnya. (QS. Al Baqarah: 130)

Perkara ketiga puluh empat, setiap kelompok mengaku-ngaku sebagai kelompok yang selamat. Maka, Allah dustakan mereka melalui firmanNya,

هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“…’Tunjukkan bukti kebenaran kalian, jika betul kalian orang-orang yang benar’.” (QS. Al Baqarah: 111)

Kemudian, Allah terangkan kebenarannya melalui firmanNya,

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Tidak seperti itu. Bahkan, siapa saja yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebaikan…” dan seterusnya. (QS. Al Baqarah: 112)

Perkara ketiga puluh lima, beribadah dengan membuka aurat-aurat [mereka]. Seperti firmanNya,

وَإِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً قَالُواْ وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءنَا وَاللّهُ أَمَرَنَا بِهَا

“Jika mereka melakukan perbuatan keji, mereka mengatakan, ‘Kami dapati nenek-moyang kami mengerjakan seperti ini dan Allah menyuruh kami mengerjakan ini’.” (QS. Al A’raf: 28)

Sumber: Ra-id bin Shabri bin Abi ‘Ulfah. Majmu’ Mu-allifat Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah (1115 – 1206 H): Juz I. Ttp: Tpn. Tth, halaman 131.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Minggu, 1 November 2015/18 Muharram 1437H

Print Friendly