Perilaku-Perilaku Jahiliyyah yang Harus Betul-Betul Dijauhi Seorang Muslim (Bagian Keenam)

Perilaku-perilaku jahiliyyah berikutnya, sebagaimana dikatakan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala dalam kitab Masa-il Al Jahiliyyah, adalah:

Perkara keenam puluh dua, jika kalah dalam hujjah mereka biasa bersegera mengadu kepada penguasa, sebagaimana yang mereka katakan,

أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ

“…[Mereka berkata,] ‘Apakah engkau membiarkan Musa dan kaumnya berbuat kerusakan di negeri ini?’.” (QS. Al A’raf: 127)

Perkara keenam puluh tiga, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu sebagai pembuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana disebutkan di ayat sebelum ini.

Perkara keenam puluh empat, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela agama penguasa, sebagaimana Allah ta’ala firmankan,

وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ

“…’dan meninggalkanmu serta sembahan-sembahanmu’.” (QS. Al A’raf: 127)

Dan sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ

“…’sesungguhnya aku khawatir ia akan mengganti agama kalian’.” (QS. Ghafir: 26)

Perkara keenam puluh lima, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela sembahan penguasa, sebagaimana di ayat yang disebutkan sebelum ini.

Perkara keenam puluh enam, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mengganti agama, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

“…’sesungguhnya aku khawatir ia akan mengganti agama kalian atau membuat kerusakan di muka bumi’.” (QS. Ghafir: 26)

Perkara keenam puluh tujuh, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela penguasa, seperti ucapan mereka,

وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ

“…’dan meninggalkanmu serta sembahan-sembahanmu’.” (QS. Al A’raf: 127)

Perkara keenam puluh delapan, mereka mengaku-ngaku beramal dengan al haq yang ada pada mereka, seperti ucapan mereka,

نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا

“…’Kami beriman dengan apa-apa yang diturunkan kepada kami’ (QS. Al Baqarah: 91)” seraya meninggalkan apa-apa yang ada pada mereka itu.

Perkara keenam puluh sembilan, menambah-nambah dalam ibadah, seperti perbuatan mereka pada hari Asyura’.

Perkara ketujuh puluh, mengurangi-ngurangi dalam ibadah, seperti meninggalkan wukuf di Arafah.

Perkara ketujuh puluh satu, mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban dengan alasan menjaga kehormatan diri.

Perkara ketujuh puluh dua, mereka beribadah dengan meninggalkan rejeki yang baik.

Perkara ketujuh puluh tiga, mereka beribadah dengan meninggalkan berhias kepada Allah.

Perkara ketujuh puluh empat, mengajak manusia ke dalam kesesatan atas dasar kebodohan.

Perkara ketujuh puluh lima, mengajak manusia dengan sengaja kepada kekafiran.

Pekara ketujuh puluh enam, membuat makar yang besar, seperti perbuatan kaum Nuh ‘alaihis salam.

Perkara ketujuh puluh tujuh, pemimpin-pemimpin mereka itu, jika bukan ulama-ulama yang jahat, maka ahli-ahli ibadah yang bodoh. Seperti dalam firman Allah ta’ala,

وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ . وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ قَالُواْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَآجُّوكُم بِهِ عِندَ رَبِّكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ . أَوَلاَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ . وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ

“…padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? Dan jika mereka bertemu dengan orang-orang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman’. Namun jika mereka berada sesama mereka saja, mereka mengatakan, ‘Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang beriman) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian agar dapat ber-hujjah di hadapan Rabb kalian? Tidakkah kalian mengerti?’. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka ungkapkan? Dan di antara mereka ada yang ummi [buta huruf] yang tidak mengetahui Taurat, kecuali [sebagai] dongeng belaka…”. (QS. Al Baqarah: 75-78)

Perkara ketujuh puluh delapan, mereka mengaku merekalah wali-wali Allah yang berbeda dari manusia lainnya.

Perkara ketujuh puluh sembilan, mereka mengaku-ngaku mencintai Allah seraya meninggalkan syariatNya. Maka, Allah pun menuntut mereka melalui firmanNya,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakan, ‘Jika memang kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku. Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’. Dan Allah-lah yang maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Perkara kedelapan puluh, mereka berangan-angan dengan kedustaan, seperti ucapan mereka,

لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُودَةً

“…’Kami tidak akan disentuh api Neraka, kecuali hanya beberapa hari saja’.” (QS. Al Baqarah: 80)

Dan ucapan mereka,

لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَن كَانَ هُوداً أَوْ نَصَارَى

“…’Tidak akan masuk ke dalam Surga, kecuali Yahudi atau Nasrani’.” (QS. Al Baqarah: 111)

Perkara kedelapan puluh satu, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai tempat-tempat ibadah.

Perkara kedelapan puluh dua, mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan nabi-nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah, sebagaimana disebutkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.

Perkara kedelapan puluh tiga, membuat lentera-lentera di kuburan.

Perkara kedelapan puluh empat, menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat-tempat perayaan.

Perkara kedelapan puluh lima, berkurban di kuburan-kuburan.

Perkara kedelapan puluh enam, mencari berkah dengan peninggalan tokoh-tokoh mereka, seperti Dar An Nadwah [aula tempat bermusyawarah tokoh-tokoh musyrikin Quraisy] dan berbangga-bangga dengan memiliki peninggalan itu, sebagaimana pernah dikatakan kepada Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, “Engkau telah menjual pusaka Quraisy.” Maka, beliau radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Pusaka-pusaka itu telah lenyap, kecuali ketakwaan.”

Perkara kedelapan puluh tujuh, berbangga-bangga dengan kedudukan.

Perkara kedelapan puluh delapan, mencela nasab.

Perkara kedelapan puluh sembilan, meminta hujan kepada bintang-bintang.

Perkara kesembilan puluh, meratapi kematian.

Perkara kesembilan puluh satu, keutamaan mereka yang paling besar adalah kelaliman. Maka, Allah singgung itu dalam apa yang telah disebutkan.

Perkara kesembilan puluh dua, keutamaan mereka yang paling besar adalah sombong, meskipun dengan al haq. Maka, Allah larang hal itu.

Perkara kesembilan puluh tiga, bagi mereka fanatik buta seseorang kepada kelompoknya di atas al haq ataupun kebatilan adalah perkara yang mesti. Maka, Allah singgung itu dalam apa yang telah disebutkan.

Sumber: Ra-id bin Shabri bin Abi ‘Ulfah. Majmu’ Mu-allifat Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah (1115 – 1206 H): Juz I. Ttp: Tpn. Tth, halaman 132-133

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 5 November 2015/22 Muharram 1437H

Print Friendly