Perilaku-Perilaku Jahiliyyah yang Harus Betul-Betul Dijauhi Seorang Muslim (Bagian Kelima)

Perilaku-perilaku jahiliyyah berikutnya, sebagaimana dikatakan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala dalam kitab Masa-il Al Jahiliyyah, adalah:

Perkara ketiga puluh enam, beribadah dengan mengharamkan yang halal, sebagaimana mereka beribadah dengan kesyirikan.

Perkara ketiga puluh tujuh, beribadah dengan menjadikan ulama-ulama dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah.

Perkara ketiga puluh delapan, melakukan penyimpangan dalam sifat-sifat Allah. Seperti firman Allah ta’ala,

وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيراً مِّمَّا تَعْمَلُونَ

“Akan tetapi, kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Fushilat: 22)

Perkara ketiga puluh sembilan, melakukan penyimpangan dalam nama-nama Allah, seperti firman Allah,

وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَـنِ

“…dan mereka mengufuri Ar Rahman.” (QS. Ar Ra’du: 30)

Perkara keempat puluh, menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah [baik sebagian atau keseluruhan] seperti ucapan Fir’aun.

Perkara keempat puluh satu, menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala hal-hal yang tidak sempurna seperti “anak”, “membutuhkan”, dan “lelah”, seraya menyucikan rahib-rahib mereka dari sebagian hal-hal tersebut.

Perkara keempat puluh dua, menyekutukan Allah dalam masalah kekuasaan seperti ucapan orang-orang Majusi.

Perkara keempat puluh tiga, menentang takdir Allah.

Perkara keempat puluh empat, berdalih karena Allah [ketika melakukan kemaksiatan].

Perkara keempat puluh lima, menentang syariat Allah dengan takdirNya.

Perkara keempat puluh enam, mencela waktu, seperti ucapan mereka,

وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

“…’dan tidak ada yang membinasakan kami, kecuali waktu’.” (QS Al Jatsiyah: 24)

Perkara keempat puluh tujuh, menyandarkan kenikmatan-kenikmatan dari Allah kepada selainNya, seperti firman Allah,

يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا

“Mereka mengetahui nikmat Allah, lalu mereka mengingkarinya.” (QS. An Nahl: 83)

Perkara keempat puluh delapan, kufur terhadap ayat-ayat Allah.

Perkara keempat puluh sembilan, menolak sebagian ayat-ayat Allah.

Perkara kelima puluh, firman Allah,

مَا أَنزَلَ اللّهُ عَلَى بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ

“…[Mereka mengucapkan,] ’Allah tidak menurunkan apapun kepada manusia’.” (QS. Al An’am: 91)

Perkara kelima puluh satu, ucapan mereka di dalam Al Qur-an,

إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ

“Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al Muddatstsir: 25)

Perkara kelima puluh dua, mempertanyakan hikmah dari Allah ta’ala.

Perkara kelima puluh tiga, memkilah dengan sesuatu yang jelas ataupun yang samar untuk menolak apa-apa yang datang dari para rasul, seperti firman Allah ta’ala,

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ

“Mereka membuat makar dan Allah membalas makar [mereka].” (QS. Ali Imran: 54)

Dan firman Allah ta’ala,

وَقَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُواْ بِالَّذِيَ أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُواْ آخِرَهُ

“Segolongan [lainnya] dari Ahlul Kitab mengatakan, ‘Perlihatkanlah [seolah-olah] kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman [sahabat-sahabat Rasulullah] pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhir siang…”. (QS. Ali Imran: 72)

Perkara kelima puluh empat, mengakui al haq dengan maksud agar bisa menolaknya, sebagaimana disebutkan di ayat sebelum ini.

Perkara kelima puluh lima, fanatik buta terhadap satu mazhab, seperti firman Allah ta’ala tentang itu,

وَلاَ تُؤْمِنُواْ إِلاَّ لِمَن تَبِعَ دِينَكُمْ

“Dan janganlah kalian percaya, kecuali kepada siapa saja yang mengikuti agama kalian.” (QS. Ali Imran: 73)

Perkara kelima puluh enam, menyebut kaum muslimin dengan kesyirikan, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah,

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَاداً لِّي مِن دُونِ اللّهِ

“Tidak sepantasnya seseorang manusia—yang Allah berikan kepadanya kitab suci, hikmah dan kenabian kemudian—berkata kepada orang-orang, ‘Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku. Bukan penyembah Allah’.” (QS. Ali Imran: 79)

Perkara kelima puluh tujuh, mengubah ucapan-ucapan [Allah] dari makna-maknanya.

Perkara kelima puluh delapan, bersilat-lidah menggunakan ayat-ayat Allah.

Perkara kelima puluh sembilan, menjuluki orang-orang yang mendapat hidayah sebagai kaum shaba’ [orang-orang yang pindah kepercayaan] dan kaum hasyawiyah [orang-orang yang terpaku pada teks].

Perkara keenam puluh, berdusta atas nama Allah.

Perkara keenam puluh satu, mendustakan al haq.

Sumber: Ra-id bin Shabri bin Abi ‘Ulfah. Majmu’ Mu-allifat Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah (1115 – 1206 H): Juz I. Ttp: Tpn. Tth, halaman 131-132.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Selasa, 3 November 2015/20 Muharram 1437H

Print Friendly