Tiga Perkara Dasar yang Betul-Betul Harus Dipahami oleh Seorang Muslim

Dalam kitab Al Ushul Ats Tsalatsah wa Adillatuha, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala menulis,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ketahuilah, mudah-mudahan Allah merahmatimu, sesungguhnya wajib bagi kita mempelajari empat perkara.

Pertama, ilmu. Yaitu, mengenal Allah, mengenal nabiNya, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Kedua, mengamalkan ilmu tersebut.

Ketiga, mendakwahkannya.

Keempat, bersabar terhadap gangguan yang ada di dalam dakwah.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا  بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu betul-betul dalam keadaan merugi. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling berwasiat dengan al haq dan berwasiat dengan kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Sekiranya tidak Allah turunkan hujjah kepada makhlukNya, kecuali surat ini, niscaya telah mencukupi mereka.”

Dan Imam Al Bukhari rahimahullahu ta’ala mengatakan [di dalam kitab Shahih Al Bukhari], “Bab Berilmu sebelum Berucap dan Beramal.” Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Maka, ilmuilah bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah, kecuali Allah. Dan mintalah ampunan untuk dosamu dan dosa kaum mukminin.” (QS. Muhammad: 19)

Karena itu, Allah memulai dengan ilmu sebelum ucapan dan amalan.

***

Ketahuilah, mudah-mudahan Allah merahmatimu, sesungguhnya wajib bagi muslim dan muslimah mempelajari tiga perkara berikut ini dan beramal dengannya.

Pertama, sesungguhnya Allah-lah yang telah menciptakan kita dan memberi rezeki serta tidak meninggalkan kita begitu saja. Tetapi mengutus kepada kita seorang rasul. Siapa saja yang menaatinya, maka ia masuk ke dalam Surga. Siapa saja yang memaksiatinya, maka ia masuk ke dalam Neraka. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

  إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولا . فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلا

“Sesungguhnya, Kami telah mengutus seorang rasul kepada kalian yang menjadi saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir’aun. Tetapi Fir’aun memaksiati rasul itu. Maka, Kami siksa ia dengan siksa yang sangat pedih.” (QS. Al Muzzammil: 15-16)

Kedua, sesungguhnya Allah tidak ridho untuk disekutukan dengan siapa saja dalam beribadah kepadaNya. Tidak dengan malaikat yang dekat dengan Allah. Tidak pula dengan nabi yang diutus Allah. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanya untuk Allah. Maka, jangan kalian sekutukan Allah dalam berdoa dengan sesuatu pun.” (QS. Al Jin: 18)

Ketiga, sesungguhnya siapa saja yang menaati Rasulullah dan bertauhid kepada Allah tidak boleh baginya untuk cinta kepada siapa pun yang memusuhi Allah dan rasulNya, meskipun dari kerabat terdekatnya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُوَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Tidak akan engkau dapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir mencintai orang yang memusuhi Allah dan rasulNya, meskipun itu ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, dan keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang di dalam hatinya telah ditanamkan keimanan oleh Allah dan telah dikuatkan oleh Allah dengan pertolongan dariNya. Allah akan memasukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, golongan Allah-lah yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah: 22)

Ketahuilah, mudah-mudahan Allah memberimu petunjuk, sesungguhnya al hanifiyyah, millah [agama] Ibrahim itu, engkau mengibadahi Allah semata, mengikhlaskan agama untukNya. Dan dengan itulah Allah memerintahkan dan menciptakan seluruh manusia, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Dan makna “…beribadah kepadaKu” adalah “bertauhid kepadaKu.”

Perkara paling besar yang Allah perintahkan dengannya adalah tauhid. Yaitu, menunggalkan Allah dalam ibadah. Dan perkara yang paling besar yang Allah larang darinya adalah kesyirikan. Yaitu, menyembah selain Allah bersamaan dengan menyembahNya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً

“Sembahlah oleh kalian Allah dan jangan kalian menyekutukanNya dengan apa pun.” (QS. An Nisa’: 36)

Jika ada yang bertanya kepadamu, “Apa tiga perkara dasar yang wajib bagi seseorang mengetahuinya?”, maka jawablah, “Seseorang mengenal Rabb-nya, agamanya, dan nabinya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

***

[PERKARA DASAR PERTAMA]

Jika ada yang bertanya kepadamu, “Siapa Rabb-mu?”, maka jawablah, “Rabbku adalah Allah yang telah memeliharaku dan seluruh alam dengan nikmatNya. Dialah sembahanku dan aku tidak memiliki sesembahan kecuali Dia. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al Fatihah: 1)

Segala sesuatu selain Allah adalah alam dan aku adalah salah satu dari alam itu.

Jika ada yang bertanya kepadamu, “Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?”, maka jawablah, “Saya mengenal Rabb dengan tanda-tanda kebesaranNya dan makhluk-makhlukNya. Di antara tanda-tanda kebesaranNya, adalah malam dan siang, matahari dan bulan, langit yang tujuh dan bumi yang tujuh serta apa yang ada di dalamnya dan apa yang ada di antara keduanya.” Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

 وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ  لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan termasuk dari ayat-ayat Allah adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan. Sujudlah kepada Allah yang telah menciptakan semua itu, jika memang kepadaNyalah kalian hanya beribadah.” (QS. Fushilat: 37)

Dan firman Allah ta’ala,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ  أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ  تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya, Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi-bumi dalam enam hari. Kemudian, tinggi di atas ‘arsyNya. Dia tutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dia menciptakan matahari dan bulan serta bintang-bintang tunduk kepada perintahNya. Ketahuilah, Dialah [Allah] yang memiliki penciptaan dan perintah. Maha melimpah, kebaikan Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al A’raf: 54)

Rabb adalah yang berhak diibadahi dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ  فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Yang telah menjadikan untuk kalian bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap serta menurunkan air dari langit, sehingga Dia tumbuhkan buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian menjadikan untuk Allah tandingan-tandingan, sedangkan kalian mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah: 21-22)

Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Sang pencipta segala sesuatu itu adalah yang berhak untuk diibadahi.”

Dan macam-macam ibadah yang telah Allah perintahkan dengannya adalah semisal Islam, iman, dan ihsan. Di antaranya juga adalah  doa, takut, harap, tawakkal, berharap kuat, takut, khusyu’, khasyah [takut kepada Allah dengan ilmu], kembali kepada Allah, minta pertolongan, minta perlindungan, istighatsah, menyembelih, bernazar, dan sebagainya dari macam-macam ibadah yang telah Allah perintahkan seluruhnya. Semua itu hanya untuk Allah ta’ala. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanya milik Allah. Maka, janganlah kalian menyembah apapun selain Allah di dalamnya.” (QS. Al Jin: 18)

Karena itu, siapa saja yang memalingkan satu ibadah dari ibadah-ibadah tersebut kepada selain Allah, maka ia musyrik—kafir. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan siapa saja yang menyembah bersama Allah sembahan lain —padahal tidak ada satu landasan pun baginya untuk melakukan itu, maka perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya, orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. Al Mu’minun: 117)

Dan di dalam hadits,

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

“Doa itu inti ibadah.” [HR. At Tirmidzi]

Dalilnya [bahwa doa itu ibadah] adalah firman Allah ta’ala,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan untuk kalian. Sesungguhnya, orang-orang yang sombong—yang tidak mau menyembahKu—akan masuk Jahannam dalam keadaan hina’.” (QS. Ghafir: 60)

Dalil khauf [takut kepada Allah] adalah firman Allah ta’ala,

فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka. Tetapi takutlah kepadaKu, jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)

Dalil berharap [kepada Allah] adalah firman Allah ta’ala,

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Maka, siapa saja yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah beramal shalih dan tidak menyekutukan Rabbnya dengan siapa pun dalam beribadah.” (QS. Al Kahfi: 110)

Dalil tawakkal adalah firman Allah ta’ala,

وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang beriman.” (QS. Al Ma-idah: 23)

Dan Allah juga berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan siapa saja yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah cukup baginya.” (Qs. Ath Thalaq: 3)

Dalil cinta dan takut [kepada Allah] serta khusyu’ adalah firman Allah ta’ala,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya, mereka itu bersegera dalam [mengerjakan] kebaikan-kebaikan. Mereka berdoa kepada Kami dengan penuh cinta dan harap serta kepada Kami mereka khusyu’.” (QS. Al Anbiya’: 90)

Dalil khasyah [takut kepada Allah berdasarkan ilmu] adalah firman Allah ta’ala,

فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي

“Maka, janganlah kalian takut kepada mereka. Tetapi takutlah kepadaKu.” (QS Al Baqarah: 150)

Dalil inabah [kembali kepada Allah] adalah firman Allah ta’ala,

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

“Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian serta berserah dirilah kepadaNya.” (QS. Az Zumar: 54)

Dalil meminta pertolongan [kepada Allah] adalah firman Allah ta’ala,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepadaMu-lah kami beribadah dan hanya kepadaMu-lah kami meminta tolong.” (QS. Al Fatihah: 5)

Dan di dalam hadits,

إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Jika kalian meminta tolong, maka mintalah kepada Allah.” [HR. Ahmad dan At Tirmidzi]

Dalil meminta perlindungan [kepada Allah] adalah firman Allah ta’ala,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakan, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh’.” (QS. Al Falaq: 1)

Dan [firman Allah ta’ala],

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

“Katakan, ‘Aku berlindung kepada Rabb manusia’.” (QS. An Nas: 1)

Dalil istighatsah [meminta pertolongan kepada Allah di kala genting] adalah firman Allah ta’ala,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ

“Jika kalian ber-istighatsah kepada Rabb kalian, maka Dia akan mengabulkannya untuk kalian.” (QS. Al Anfal: 9)

Dalil menyembelih [hewan sembelihan untuk Allah] adalah firman Allah ta’ala,

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ

“Katakan, ‘Sesungguhnya shalatku, hewan sesembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya’.” (QS. Al An’am: 162-163)

Dan [dalil] dari As Sunnah,

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

“Allah melaknat siapa saja yang menyembelih [hewan sembelihan] untuk selain Allah.” [HR. Muslim]

Dalil bernazar [untuk Allah] adalah firman Allah ta’ala,

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْماً كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيراً

“Mereka memenuhi nazar dan takut akan hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan: 7)

***

[PERKARA DASAR KEDUA]

Perkara dasar kedua adalah mengenal agama Islam dengan dalil-dalinya.

Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan bertauhid dan tunduk kepada Allah dengan ketaatan serta melepaskan diri dari kesyirikan dan para pelakunya. Agama Islam itu memiliki tiga tingkatan: Islam, iman, dan ihsan.

Maka, rukun-rukun Islam itu ada lima: bersyahadat bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, [melakukan] shaum di bulan Ramadhan, dan berhaji ke baitullah al haram

Dalil tentang syahadat adalah firman Allah ta’ala,

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Juga para malaikat dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan [bersaksi], ‘Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia yang maha perkasa lagi maha bijaksana’.” (QS. Ali Imran: 18)

Maknanya adalah tidak ada sembahan yang berhak disembah, kecuali Allah. “Tidak sembahan yang berhak disembah” adalah penafian segala sesuatu yang disembah selain Allah, “Kecuali Allah” adalah penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata—tidak ada sekutu bagiNya dalam ibadah, sebagaimana tidak ada sekutu bagi Allah dalam kekuasaan. Dan tafsir yang menjelaskannya adalah firman Allah ta’ala,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dia yang menciptakan aku. Sebab sesungguhnya Dialah yang akan memberiku petunjuk’. Dan Ibrahim menjadikan kalimat itu kekal pada anak keturunannya agar mereka kembali [kepada Allah].” (QS. Az Zukhruf: 26-28)

Dan firman Allah ta’ala,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakan [Muhammad], ‘Wahai ahlul kitab, marilah kita menuju satu kalimat yang sama antara kami dan kalian bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan kita tidak menyekutukan Allah dengan apa pun serta kita tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan-tuhan selain Allah bagi sebagian yang lain’. Maka, jika mereka berpaling, katakan oleh kalian, ‘Persaksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri’.” (QS. Ali Imran: 64)

Dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah adalah firman Allah ta’ala,

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian yang penderitaan kalian terasa berat baginya, yang sangat menginginkan keselamatan untuk kalian, yang sangat sayang dengan orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)

Makna syahadat bahwa Muhammad itu Rasulullah adalah menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan beliau cela serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang telah Rasulullah syariatkan.

Dalil shalat, zakat, dan tafsir tentang tauhid adalah firman Allah ta’ala,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Dan tidaklah mereka diperintah, kecuali untuk menyembah Allah—mengikhlaskan agama hanya untuk Allah—secara lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat. Inilah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Dalil shaum adalah firman Allah ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian shaum, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Dalil haji adalah firman Allah ta’ala,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan hanya untuk Allah-lah haji ke baitullah—bagi siapa yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Dan siapa saja yang kafir, maka sungguh Allah maha kaya dari seluruh alam semesta.” (QS. Ali Imran: 97)

Tingkatan kedua adalah iman. Dan iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Yang paling tingginya adalah ucapan “Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah” dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah cabang dari iman.

Rukun-rukun iman ada enam: engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, nabi-nabiNya, hari akhir, dan takdir yang baik dan buruk. Dalil tentang rukun-rukun iman yang enam ini adalah firman Allah ta’ala,

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

“Bukanlah kebaikan itu kalian palingkan wajah-wajah kalian ke arah timur dan barat. Akan tetapi, kebaikan itu adalah siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab Allah, dan para nabi…” (QS. Al Baqarah: 177) dan seterusnya.

Adapun dalil tentang [iman kepada] takdir, adalah firman Allah ta’ala,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya, Kami ciptakan segala sesuatu dengan takdirnya.” (QS. Al Qamar: 49)

Tingkatan ketiga adalah ihsan yang memiliki satu rukun: engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah, lalu jika engkau tidak bisa melihatNya sesungguhnya Allah melihatmu. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

“Sesungguhnya, Allah bersama orang-orang bertakwa dan orang-orang yang berbuat  baik.” (QS. An Nahl: 128)

Dan firman Allah ta’ala,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan bertawakkallah kepada yang maha kuasa lagi maha penyayang. Yang Dia itu melihatmu ketika engkau bangun dan perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya, Allah-lah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS. Asy Syu’ara’: 217-220)

Juga firman Allah ta’ala,

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوداً إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

“Dan tidaklah engkau [wahai Muhammad] berada dalam satu urusan dan tidak pula membaca satu ayat Al Qur-an serta tidak melakukan satu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atasmu ketika engkau melakukannya…”  (QS. Yunus: 61) dan seterusnya.

Dalil dari As Sunnah adalah hadits Jibril yang terkenal itu. Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ.

“Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya. Tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan dan tidak ada yang mengetahuinya di antara kami seorang pun. Hingga, ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, laki-laki itu menempelkan lututnya dengan lutut nabi dan meletakkan telapak tangannya di atas pahanya. Ia berkata, ‘Wahai Muhammad, beritahu aku tentang Islam’. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau tegakkan shalat, engkau tunaikan zakat, engkau shaum di bulan Ramadhan, dan engkau berhaji ke baitullah jika mampu melakukan perjalanan ke sana’. Laki-laki tadi mengatakan, ‘Engkau benar’. Maka, kami pun takjub kepadanya. Ia yang bertanya dan ia pula yang membenarkannya. Ia berkata lagi, ‘Beritahu aku tentang iman’. Rasulullah menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, nabi-nabiNya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk’. Ia menjawab, ‘Engkau benar’. Ia berkata, ‘Beritahu aku tentang ihsan’. Rasulullah menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Jika engkau tidak bisa melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu’. Ia berkata lagi, ‘Beritahu aku tentang hari kiamat’. Rasulullah menjawab, ‘Yang ditanya tidaklah lebih tahu dari yang bertanya’. Ia berkata, ‘Maka, beritahu aku tentang tanda-tanda kiamat’. Rasulullah menjawab, ‘Jika seorang budak perempuan melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seseorang bertelanjang kaki, tidak mengenakan baju, mengembalakan kambing saling berlomba meninggikan bangunan-bangunan’. Setelah itu, laki-laki tersebut pergi. Aku pun terdiam, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?’. Maka, aku jawab, ‘Allah dan rasulNya yang lebih tahu’. Rasulullah bersabda, ‘Itu Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian’.” [HR. Muslim]

***

[PERKARA DASAR KETIGA]

Perkara dasar yang ketiga adalah mengenal nabi kalian, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim dan Hasyim dari Quraisy. Quraisy dari kalangan Arab dan bangsa Arab termasuk keturunan Ismail putra Ibrahim, khalilullah, ‘alaihi wa ‘ala nabiyyina afdhalu ash shalatu was salamu.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki umur 63 tahun. Di antaranya, empat puluh tahun sebelum menjadi nabi dan 23 tahun menjadi nabi dan rasul. Beliau diutus jadi nabi dengan “Iqra’” dan diangkat sebagai rasul dengan Al Muddatstsir.

Negeri beliau adalah Mekkah. Beliau hijrah ke Madinah.

Allah mengutus beliau untuk memperingatkan dari kesyirikan dan mengajak kepada tauhid. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Wahai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan agungkanlah Rabbmu. Bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkanlah segala perbuatan keji. Janganlah engkau memberi agar mendapatkan yang lebih banyak. Dan bersabarlah untuk Rabbmu.” (QS. Al Muddatstsir: 1-7)

Makna “Bangunlah, lalu berilah peringatan” adalah memperingatkan dari kesyirikan dan mengajak kepada tauhid. “Dan agungkanlah Rabbmu,” maksudnya, agungkan Rabbmu dengan tauhid. “Bersihkanlah pakaianmu,” maksudnya, sucikan amalan-amalanmu dari kesyirikan. “Dan tinggalkanlah segala perbuatan keji,” perbuatan keji adalah berhala-berhala—jauhi dan tinggalkanlah serta berlepas diri darinya dan para pelakunya.

Rasulullah menjalani itu selama sepuluh tahun. Beliau mengajak kepada tauhid.

Setelah sepuluh tahun, beliau di-mi’raj-kan ke langit dan diwajibkan kepadanya shalat lima waktu. Beliau shalat lima waktu di Mekkah tiga tahun dan setelah itu beliau diperintah untuk berhijrah ke Madinah.

Hijrah adalah berpindah dari negeri kesyirikan menuju negeri Islam. Dan hijrah diwajibkan kepada umat ini, dari negeri kesyirikan ke negeri Islam. Hal ini terus berlaku sampai tegaknya hari kiamat. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيراً إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً فَأُوْلَـئِكَ عَسَى اللّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللّهُ عَفُوّاً غَفُوراً

“Sesungguhnya, orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zalim kepada diri sendiri ditanya oleh malaikat, ‘Ada apa kalian ini?’. Mereka menjawab, ‘Kami orang-orang tertindas di muka bumi’. Malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat hijrah di bumi ini?’. Maka, orang-orang tersebut menempati Jahannam dan ini adalah sejelek-jelek tempat kembali. Kecuali, mereka yang tertindas, baik laki-laki ataupun perempuan dan anak-anak. Mereka tidak mampu mencari cara dan tidak pula mampu mencari jalan. Mereka itulah yang mudah-mudahan Allah maafkan mereka. Dan adalah Allah yang maha pemaaf lagi maha pengampun.” (QS. An Nisa’: 97-99)

Dan firman Allah ta’ala,

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ

“Wahai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumiKu luas. Maka, kepadaKu-lah hendaknya kalian beribadah.” (QS. Al Ankabut: 65)

Al Baghawi rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Sebab turunnya ayat ini adalah terkait dengan kaum muslimin yang ada di Mekkah dan belum berhijrah. Allah panggil mereka dengan sebutan iman.”

Dalil [tentang] hijrah dari As Sunnah adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Tidak akan terputus hijrah sampai terputus tobat dan tidak terputus tobat sampai terbitnya matahari dari barat.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Al Haitsami]

Maka, ketika telah menetap di Madinah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan dengan syariat-syariat Islam yang lainnya semisal zakat, shaum, haji, jihad, azan, amar ma’ruf nahi munkar, dan sebagainya dari syariat-syariat Islam. Beliau menjalani ini selama sepuluh tahun

Setelah itu, beliau diwafatkan shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Dan agama beliau terus ada.

Dan inilah agama beliau. Tidak ada kebaikan, kecuali beliau telah menunjukinya kepada umat. Dan tidak ada keburukan, kecuali beliau telah memperingatkan umat darinya.

Kebaikan yang telah beliau tunjukkan itu adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan di-ridho-i oleh Allah. Keburukan yang telah beliau peringatkan darinya adalah kesyirikan dan segala yang dibenci dan ditolak oleh Allah. Allah utus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ke seluruh umat manusia.

Allah wajibkan kepada dua jenis makluk—jin dan manusia—untuk menaati beliau. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

“Katakan [Muhammad], ‘Wahai umat manusia, sesungguhnya aku utusan Allah yang diutus kepada kalian semua’.” (QS. Al A’raf: 158)

Dan Allah telah menyempurnakan agama melalui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Hari ini, telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan atas kalian nikmatKu serta telah Ku-ridho-i untuk kalian Islam sebagai agama.” (QS. Al Ma-idah: 3)

Dalil tentang wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah firman Allah ta’ala,

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ

“Sesungguhnya, engkau akan mati dan mereka pun akan mati. Lalu, kalian akan berdebat dii sisi Rabb kalian pada hari kiamat [nanti].” (QS. Az Zumar: 30-31)

Dan manusia, jika meninggal dunia, mereka akan dibangkitkan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Dari tanah, Kami ciptakan kalian. Dan kepada tanah, Kami kembalikan kalian. Dari sana jugalah, Kami keluarkan kalian pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

Juga firman Allah ta’ala,

وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتاً ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجاً

“Dan Allah-lah yang menumbuhkan kalian dari tanah—tumbuh berangsur-angsur. Kemudian, Dia akan mengembalikan kalian ke dalam tanah dan mengeluarkan kalian dengan pasti [pada hari kiamat nanti].” (QS. Nuh: 17-18)

Setelah dibangkitkan, manusia akan dihisab dan diganjar amalan-amalan mereka. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاؤُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“…agar Allah memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai apa yang telah mereka lakukan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan yang banyak.” (QS. An Najm: 31)

Dan siapa saja yang mengingkari hari kebangkitan, ia kafir. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan [wahai Muhammad], ‘Tidaklah demikian. Demi Rabbku, kalian pasti dibangkitkan, lalu ditampakkan semua yang telah kalian kerjakan dan itu adalah mudah bagi Allah’.” (QS. At Taghabun: 7)

Allah mengirim semua rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

“Para rasul itu sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada lagi dalih bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya para rasul.” (QS. An Nisa’: 165)

Dan yang pertamanya dari para rasul adalah Nuh ‘alaihis salam, sedangkan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalil bahwa rasul pertama adalah Nuh ‘alaihis salam adalah firman Allah ta’ala,

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ

“Sesungguhnya, Kami telah wahyukan kepadamu, sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.” (QS. An Nisa’: 163)

Pada setiap umat, Allah utus rasul, dari Nuh sampai Muhammad. Rasul itu menyuruh umatnya agar beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka dari beribadah kepada thaghut. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh telah Kami utus di setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut-thaghut’.” (QS. An Nahl: 36)

Allah mewajibkan kepada seluruh hambaNya agar meng-kufur-i thaghut-thaghut dan beriman kepada Allah. Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala mengatakan,

Thaghut-thaghut adalah apa-apa yang melampaui batas dari seorang hamba baik itu yang disembah, diikuti atau ditaati. Dan thaghut-thaghut itu banyak. Tetapi pemuka mereka ada lima: Iblis la’anahullah, siapa saja yang disembah dan ia ridho, siapa saja yang mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya, siapa saja yang mengaku-ngaku tahu ilmu gaib, dan siapa saja yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan.”

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh, telah jelas jalan petunjuk dari jalan kesesatan. Siapa saja yang kufur kepada thaghut-thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang dengan simpul yang kuat.” (QS. Al Baqarah: 256)

Dan yang seperti itu adalah makna “Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah.”

Di dalam hadits,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعُمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Pokok perkara itu Islam, tiang-tiang Islam adalah shalat, dan puncak Islam adalah jihad fi sabilillah.” [HR. Ahmad, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah]

Dan Allah-lah yang lebih mengetahui.

وَصَلّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ سَلَّمَ

Sumber: Fahd bin Nashir Alu Sulaiman (Ed). Syarh Tsalatsatul Ushul li Fadhilah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin (Cet. Ke-3). Riyadh: Dar Ats Tsurayya. 1426H/2005M, halaman 17-161.

Maksudnya, Surat Al ‘Alaq ayat 1-5.

Maksudnya, Surat Al Muddatstsir 1-5.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Minggu,19 Juni 2016/13 Ramadhan 1437H

Print Friendly