Apakah Karena Korupsi Lalu Hilang Label Sebagai ULIL AMRI?..

Muhammadiyah: Pemerintah Bukan Ulil Amri yang Ditaati, Karena Korupsi

JAKARTA – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsudin menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak akan mengikuti sidang isbat pada sore ini, karena pendekatan sidang isbat hanya sepihak.

“Sidang isbat itu artinya penetapan, tapi dengan pendekatan sepihak yang namanya rukyat sementara yang menggunakan perhitungan (hisab) tidak dianggap, jadi tidak ada gunanya,” kata Din Syamsudin dalam konferensi pers di gedung PP Muhammadiyah, Menteng Jakarta Pusat, Senin (8/7/2013).

“Kalau kementerian agama dianggap sebagai ulil amri dan harus ditaati, mohon maaf sajalah, masa kita harus taat pada kementerian yang korup, Al-Qur’an pun mau dikorupsi. Itu tidak memenuhi syarat sebagai ulil amri. Bahkan ada hadits; janganlah mentaati manusia yang melakukan maksiat kepada Allah,” tegasnya. [Ahmed Widad]

DARI MASALAH HILAL HINGGA HAPUSNYA LABEL ULIL-AMRI

Korupsi adalah dosa dan maksiat. Tapi korupsi bukan faktor label ulil-amri jadi hilang. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian nanti akan menemui atsarah (yaitu : pemerintah yang tidak memenuhi hak rakyat – Abul-Jauzaa’). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di haudl” [HR. Bukhari no. 6648 dan Muslim no. 1845].

إنَّهَا سَتَكُوْنُ بَعْدِيْ أَثَرَة وأُمُوْر تُنْكِرُوْنَهَا قَالُوْا يَا رَسُْولَ الله كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada “atsarah” dan banyak perkara yang kalian ingkari dari mereka”. Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami yang menemuinya ?”. Beliau menjawab : “Tunaikan hak (mereka) yang dibebankan/diwajibkan atas kalian, dan mintalah hak kalian kepada Allah” [HR. Muslim no. 1843]

An-Nawawi rahimahullah berkata :

فيه الحث على السمع والطاعة وإن كان المتولي ظالماً عسوفاً، فيعطي حقه من الطاعة، ولا يخرج عليه، ولا يخلع، بل يتضرع إلي الله – تعالي – في كشف أذاه، ودفع شره، وإصلاحه

“Di dalam (hadits) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun ia seorang yang dhalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin) yaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan darinya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan (perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim adalah) dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala supaya Dia menyingkirkan gangguan/siksaan darinya, menolak kejahatannya, dan agar Allah memperbaikinya (kembali taat kepada Allah meninggalkan kedhalimannya)” [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/232].

————–

# Jangan suka mengarang cerita meski sudah punya awalan ‘prof.’.

Sumber : https://www.facebook.com/donnie.aw?hc_location=stream

Apa sih yang dimaksud Apakah Pemerintah indonesia bukan ulil amri?

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Rabu,10 Juli 2013/2 Ramadhan 1434H

Print Friendly