Beliau Berilmu, Perawi Hadits, Wara, Panjang Shalat Malamnya, Mudah Menangis, Tapi…

Berilmu tapi..

HASAN BIN SHALIH BIN HAYY ALHAMDANI

(Seorang yang memiliki banyak keutamaan namun terjatuh dalam kebid’ahan)

Beliau hidup semasa dengan para Imam Salaf seperti Sufyan Ats-Tsauri dan lainnya.

Beliau termasuk perawi hadits. Imam Abu Hatim Ar-Razi yang sangat ketat dalam menilai perawi, berkata tentangnya : “Tsiqah, Hafizh, Mutqin.”

Diantara perkara-perkara yang menakjubkan dari beliau :

Mudah terenyuh dan menangis.

Yahya Bin Abi Bukair rahimahullah berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Jelaskan kepada kami cara memandikan mayat!’ Ia pun tidak mampu menahan tangisnya.”

Wajahnya penuh kekhusyuan.

Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata, “Tidaklah aku lihat seseorang, yang ketakukan dan kekhusyuan begitu nampak diwajahnya selain dari Hasan Bin Shalih.”

Zuhud dan Qanaah.

Hasan Bin Shalih pernah berkata, “Kadang aku berada di waktu pagi tanpa memiliki 1 dirham pun. Namun seolah-olah dunia telah dikumpulkan untukku.”

Kewaraannya yang sangat tinggi.

Ia pernah menjual seorang budak wanita. Ia berkata kepada orang yang mau membelinya, “Budak ini pernah sekali berdahak darah ketika bersama kami.” Karena takut itu adalah penyakit yang membuat dia menipu pembelinya (jika tidak disampaikan).

Banyak mentadabburi Alquran.

Beliau pernah shalat malam dan membaca surat an-Naba, dan pingsan. Hingga fajar terbit ia tidak selesai membacanya.

Panjangnya shalat malamnya.

Beliau membagi malam antara dia, ibunya, dan saudaranya. Ketika ibunya wafat, ia pun membagi malam dengan saudaranya. Saat saudaranya wafat. Ia pun shalat sepanjang malam.

Pujian terbesar yang ia dapatkan adalah perkataan Imam Abu Zur’ah ar-Rozi tentang dirinya : “Telah terkumpul pada dirinya, kemuntukinan ilmu, fikih, ibadah, zuhud.

Namun bersama itu semua..

Para ulama salaf telah menTAHDZIRnya dan menganggapnya sebagai AHLI BID’AH. Dan diantara mereka ada yang tidak mau meriwayatkan haditsnya. Bahkan sebagian lagi ada yang sampai mengatakan,

“Seandainya Hasan Bin Shalih tidak dilahirkan maka ini lebih baginya.”

Lalu apakah dosa dan kesalahannya sehingga diperlakukan sedemikian rupa??. Sampai pada tingkat tidak memperdulikan dan tidak mau tahu kebaikan2 dan sisi positifnya.

Kesalahannya adalah ia berpendapat BOLEHNYA KELUAR DARI KETAATAN PEMIMPIN MUSLIM yang ZHALIM.

Camkan..!!

Dia tidak memberontak!!

Tidak pula menyebarkan pendapatnya!!

Tidak memprovokasi manusia untuk memberontak!!

Hanya sebatas berpendapat!!

Imam Dzahabi rahomahullah berkata tentangnya, “Beliau berpendapat bolehnya keluar dari ketaatan terhadap pemimpin-pemimpin Islam di zamannya karena kezholiman dan kekejaman mereka. Akan tetapi ia sama sekali tidak memberontak.”

Beliau juga berkata : “Dia termasuk dari Imam-imam kaum muslimin seandainya pemikirannya tidak terancui dengan bid’ah.”

Lihatlah..!! Para salaf tidak tertipu dengan kekhusyuannya.

Abu Said al-Asyaj mengatakan, “Aku mendengar Ibnu Idariis mengatakan, “Senyuman Sufyan Ats-Tsauri lebih kami sukai dari pada rintihannya (karena ketakutannya kepada Allah) Hasan Bin Shalih.”

Faedah yang bisa dipetik dari kisah ini.

1. Perkataan yang membolehkan keluar dari ketaatan terhadap pemimpin muslim adalah bid’ah. Orang yang mengatakannya tidak boleh disikapi dengan basa-basi, tidak boleh didiamkan meskipun ia memiliki ilmu dan keutamaan yang tinggi.

2. Para salaf mengukur seseorang dengan timbangan Sunnah, bukan hanya dengan keluasaan ilmunya, tidak juga dengan panjangnya ibadahnya, banyaknya kekhusyuan dan tangisannya.

3. Seseorang bisa jadi dia berilmu akan tetapi dia memiliki satu bid’ah yang menyelisih pokok akidah dan manhaj Ahlus Sunnah bisa mengeluarkannya dari Ahlu Sunnah dan menjadi seorang pelaku bid’ah.

diterjemahkan oleh Ustadz Ridwan Abu Raihana

sumber : https://www.facebook.com/faqih.hamzah.7?fref=nf

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Jumat,23 September 2016/20 Dzulhijjah 1437H

Print Friendly