Bentuk Al Wala dan Al Bara dalam Islam

Pertanyaan:

Kami mohon penjelasan dari anda tentang al wala’ dan al bara’ dalam Islam.

 

 

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah menjawab:

Al wala’ termasuk dari ikatan yang paling kuat dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-musuhKu dan musuh-musuh kalian sebagai para penolong.” (QS. Al Mumtahanah: 1)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia,

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Engkau tidak mendapati orang-orang yg beriman kepada Allah dan hari akhir mencintai dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasulNya.” (QS. Al Mujadilah: 22)

Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam kitabNya yang mulia,

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ

“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai para penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin lainnya. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah. Kecuali, karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diriNya.” (QS. Ali Imran: 28)

Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ آبَاءكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاء إَنِ اسْتَحَبُّواْ الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian jadikan bapak-bapak kalian dan saudara-saudara kalian sebagai para penolong, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran di atas keimanan dan siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.At Taubah: 23)

Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam kitabNya yang mulia,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin kalian; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Siapa saja di antara kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS.Al Maidah: 51)

Maka, al wala’ dan al bara’ termasuk dari ikatan Islam yang paling kuat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Ash Shahihain dari hadits Anas,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga hal jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan RasulNya lebih ia cintainya daripada selainnya, siapa yang bila mencintai seseorang, ia mencintai seseorang dan tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, ia enggan kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan ia dari kekufuran seperti ia enggan jika dilempar ke dalam api.” [HR. Al Bukhari]

Maka, para sahabat ridhwanullah ‘alaihim meninggalkan rumah-rumah mereka dan hijrah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhadapan dengan kerabat-kerabat mereka sendiri dengan pedang dan tombak. Inilah al wala’ dan al bara’.

Adapun wala’ hizbiyah, wala’ karena kabilah, wala’ karena daerah, wala’ karena warna kulit atau wala’ yang yang tersebar dan dikenal di tengah-tengah masyarakat sekarang, maka itu adalah wala’-wala’ yang bersifat duniawi. Sikap wala’ yang sempit. Dan setan punya bagian dalam yang seperti itu.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya, orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al Hujurat: 10)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum merendahkan kaum yang lain. Bisa jadi yang direndahkan itu lebih baik dari orang yang merendahkan. Dan jangan pula para wanita merendahkan wanita yang lain. Bisa jadi yang direndahkan itu lebih baik dari wanita yang merendahkan.” (QS. Al Hujurat: 11)

Dan di seluruh negeri Islam, telah terjadi kerusakan dan kehinaan kaum muslimin disebabkan oleh tidak adanya al wala’ dan al bara’. Maka, Rabbul ‘Izzah berfirman di dalam kitabNya yang mulia, di akhir surat Al Anfal, setelah menyebutkan bahwa wala’ orang-orang beriman hanya untuk orang-orang beriman dan wala’ orang-orang kafir hanya untuk orang-orang kafir,

إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Kecuali jka kalian kerjakan itu (footnote: jadikan orang-orang kafir para penolong): akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al Anfal: 73)

Fitnah terjadi di Yaman ketika muncul berbagai demonstrasi di Ta’iz, Shan’a, Dzamar—dan Allah telah menjauhkan keburukannya, wa lillahil hamd wal minnah. Apalagi musuh-musuh Islam yang dengki terhadap kaum muslimin, mereka bersiap-siap untuk datang dengan sistem pendidikan mereka. Yang mereka tanamkan kepada Islam cara berdasi dan cara menyisir rambut. Yang tidak mengenalkan kecuali “biasanya” dan “maksudnya”. Engkau tidak merasa, kecuali mereka katakan, “Ini wakil presiden”, yang itu “presiden”, yang itu “menteri-menteri, maka di tengah kita ada anggota Partai Baats dan komunis, maka pilihlah untuk kalian salah seorang mereka”.

Apa yang terjadi pada kaum muslimin disebabkan oleh dosa-dosa mereka.

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. Al An’am: 129)

Dan kita tidak melimpahkan sebab berbagai musibah itu pada pemerintah. Setiap rakyat memiliki saham dalam berbagai musibah itu. Mereka yang mengatakan, “Siapa yang memberi saya 1.000 riyal, untuknya suara saya”. Yang seperti ini juga memiliki saham atas kerusakan tersebut. Mereka bukan orang-orang yang selalu kembali kepada kitab Allah. Bukan juga yang kembali kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Raja dan presiden adalah penanggung jawab dalam menegakkan agama Allah. Bukan untuk mengokohkan kursi mereka atau menjadi budak musuh-musuh Islam.

Karena itu, waspadalah kalian, wahai saudaraku yang berada di Somalia, sampai terhadap bantuan-bantuan pemerintah kaum muslimin. Sebab mereka tidak akan menolong kalian, kecuali jika Amerika bilang, “Tolonglah mereka”.

Dan hukum orang yang ber-wala’ kepada satu jamaah dan memusuhi selainnya dialah mubtadi’ sesat. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

“Laki-laki dan perempuan yang beriman sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (QS. At Taubah: 71)

Jadi, al wala’ dan al bara’ untuk kaum muslimin seluruhnya. Dan yang seperti tadi itu termasuk dari seruan-seruan jahiliyyah.

Lihat Gharatul Asyrithah (2/26-28)

Rujukan: diakses pada tgl 4 Maret 2015.


Sikap loyal, setia, dan cinta terhadap sesuatu [penerj.]

Sikap benci dan berlepas diri dari sesuatu [penerj.]

Potongan kalimat ini adalah ungkapan Syaikh Muqbil untuk melukiskan apa yang sering disampaikan oleh orang-orang yang telah terfitnah itu. Bukan maksud beliau untuk mengajak kepada apa yang disebutkan itu. [penerj.]

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat, 6 Maret 2015/15 Jumadil Awal 1436H

Print Friendly