Berbuka di Bulan Ramadhan dengan Persangkaan Paling Kuat

Pertanyaan:

Ini terkait hadits Asma’ bintu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha dalam kitab Ash-Shahih. “Kami pernah berbuka pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, ketika hari mendung. Setelah itu, matahari pun terbenam.”

[Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah menyela:]

Tidak. Bukan “matahari terbenam”. [Tapi] “Matahari muncul kembali.” Begitu. Matan yang engkau baca itu terbalik.

[Lanjutan pertanyaan]

“Kemudian matahari muncul kembali. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh kami untuk mengganti shaum kami.” Apakah berbuka itu berdasarkan persangkaan yang paling kuat atas terbenamnya matahari? Demikian juga, bagaimana mengompromikannya dengan kaidah “Al-Ashlu baqa-un Nahar”? Kemudian, apa beda antara persangkaan yang paling kuat dan keragu-raguan?

Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali menjawab:

Masya Allah. Ini beberapa pertanyaan. Dan pertanyaan-pertanyaannya [terkait] perkara ushul fikih. Jazahullahu khoiron.

Saya katakan, hadits Asma’ di dalam Ash-Shahih [berbunyi],

أَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ غَيْمٍ ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمسُ

“Kami pernah berbuka pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari mendung. Setelah itu, matahari muncul kembali.”

Berkata salah seorang periwayat hadits (perawi) kepada Hisyam bin Urwah yang beliau juga perawi sanad-nya,

فَأُمِرُوْا بِالْقَضَاءِ قَالَ لاَبُدَّ مِنْ قَضَاءٍ

“Maka, mereka pun disuruh meng-qadha’. Hisyam berkata, ‘Harus di-qadha’’.”

Ini adalah ijtihad dari beliau. Ini adalah ijtihad dari beliau. Mudah-mudahan Allah senantiasa merahmati dan meridhoinya. Sebab, yang benar, perintah untuk meng-qadha’ tidak benar datangnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan para sahabat untuk meng-qadha’.

Dan hadits tersebut adalah dalil bahwa siapa saja yang berbuka di bulan Ramadhan atas dasar persangkaan yang paling kuat—matahari telah tenggelam yang juga ditunjukkan dengan tanda-tanda akan hal itu dan ternyata matahari muncul kembali—maka hendaklah melanjutkan shaumnya di sisa hari itu. Shaumnya sah dan tidak mengapa melakukan itu. Orang yang melakukannya dianggap seperti orang yang makan dan minum karena lupa [di siang Ramadhan].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا—وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ المَشْرِقِ—وَأًدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا—وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَغْرِبِ—فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika malam telah datang dari arah sini—sembari beliau tunjuk dengan tangannya ke arah timur—dan siang pergi dari arah sini—sembari beliau tunjuk dengan tangannya ke arah barat, maka berbukalah orang yang shaum.”

Dalam Shahih Muslim, terdapat hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا وَأًدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika malam telah datang dari arah sini dan siang pergi dari arah sini serta matahari tenggelam, maka berbukalah orang yang shaum pun.”

Maka, dari beberapa hal tersebut, haruslah mereka katakan dengan perkataan beliau “Dan datang [malam] dari arah sini, pergi [siang] dari arah sini” dan ditambahkan pula dengan sabda beliau “Telah tenggelam matahari”. Tambahan ihwal tenggelamnya matahari adalah sebagai petunjuk yang meyakinkan akan telah terbenamnya matahari. Sebab sesungguhnya seseorang itu kadang-kadang berada di dataran rendah atau di balik gunung atau pepohonan atau bahkan muncul sesuatu yang menghalangi dirinya dengan penampakan matahari, sehingga haruslah ia [putuskan dengan persangkaan yang paling] kuat itu.

Meski demikian, jika yang seperti itu betul terjadi, atas izin Allah tabaraka wa ta’ala, tidaklah mengapa baginya. Shaumnya tetap sah. Dan pada asalnya siang masih ada. Mereka keluar dari asal ini dengan persangkaan paling kuat dan keluar dari asal dengan persangkaan paling kuat adalah boleh. Namun, ketika tampak pada mereka bahwa mereka ternyata keliru, maka mereka diberi uzur dan mereka tidak berdosa. Adapun ragu-ragu, maka yang seperti ini tidak boleh. Keragu-raguan bukan persangkaan yang paling kuat.

Persangkaan kuat [yang dimaksud] di sini adalah bahwa siang hari telah berlalu dan malam telah datang. Adapun keragu-raguan, itu jika dua hal sama adanya. Dua tepi waktu sama keadaannya. Jika malam dikatakan datang, belum betul-betul datang malamnya. Jika siang dikatakan pergi, belum betul-betul pergi siangnya. Dengan demikian, keragu-raguan pada saat itu tidak dibolehkan.

Jika memang dibangun di atas persangkaan yang paling kuat, maka boleh dibangun berbagai hukum di atas hal itu. Bahkan, kebanyakan keputusan hukum yang ada dibangun di atas persangkaan yang paling kuat. Begitu juga dengan sumpah. Jika engkau telah bersumpah yang dibangun di atas persangkaan paling kuat, maka sesungguhnya tidak berdosa. Tidak pula engkau berdusta dalam sumpahnya.

Mudah-mudahan, ini cukup. Wallahu a’lam.

Rujukan: Transkrip tanya-jawab dengan Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah ketika memberikan muhadharah di Jami’ Al-Hukair, Provinsi Abu ‘Arisy, Jazan, pada hari kamis, 25 sya’ban 1434 H.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Rabu, 4 Maret 2015/13 Jumadil Awal 1436H

Print Friendly