Digantung Mata Kakinya, Pipinya Sobek Dan Mengalirkan Darah,.. Itulah Balasan Bagi Orang Yang Tidak Puasa Tanpa Udzur

Hukum Membatalkan Puasa Tanpa Alasan

, baik tidak puasa dari awal atau membatalkan puasa tanpa sebab yang benar. Kerasnya hukuman untuk orang yang melanggar larangan ini menunjukkan bahwa meninggalkan puasa ramadhan atau membatalkannya adalah dosa besar. Beberapa hal yang harus dia lakukan,

Pertama, bertaubat sungguh-sungguh kepada Allah. Menyesali perbuatan maksiat yang dia lakukan dan bertekad kuat tidak akan mengulanginya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.. (QS. At-Tahrim: 8)

Kedua, tetap menahan diri dari makan dan minum sebagai bentuk penghormatan kepada ramadhan. Orang yang membatalkan puasa di siang hari dengan makan atau minum, dia wajib menahan diri dari makan, minum dan pemabatal lainnya, sampai maghrib.

Dalam Fikih Empat Madzhab dinyatakan,

من فسد صومه في أداء رمضان وجب عليه الإمساك بقية اليوم تعظيما لحرمة الشهر

Orang yang membatalkan puasanya ketika ramadhan, dia wajib untuk menahan diri dari makan, minum, di sisa harinya, sebagai bentuk menghormati kemuliaan bulan ramadhan. (Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, 1/909).

Ketiga, apakah dia wajib mengqadha’ hari yang dia batalkan itu?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Mayoritas ulama mengatakan bahwa dia wajib mengqadha hari puasa yang dia batalkan. Ada juga yang mengatakan, tidak perlu qadha. Karena dia membatalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan.

Keempat, untuk menutupi kesalahan besarnya, dia disarankan untuk memperbanyak puasa sunah. Karena amal sunah akan menjadi tambal bagi amal wajib yang kurang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menceritakan bagaimana proses hisab amal,

أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت فقد خاب وخسر، فإن انتقص من فريضته شيء قال الرب: انظروا هل لعبدي من تطوع؟ فيكمل به ما انتقص من الفريضة، ثم يكون سائر عمله على ذلك

“Amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, dia berhasil dan sukses. Jika shalatnya ada yang rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada amal wajibnya yang kurang, Allah perintahkan, ‘Perhatikanlah, apakah hamba-Ku memiliki amal sunah? Gunakan amal sunah itu untuk menyempurnakan amal wajibnya yang kurang.’ Kemudian cara perhitungan amal lainnya juga seperti itu.” (HR. Ahmad 9490, Nasai 465, Turmudzi 413, dan dishahihkan Al-Albani).

Dia berusaha memperbanyak amal soleh, dengan harapan taubatnya diterima oleh Allah. Karena Allah sebutkan salah satu syarat taubat dalam firman-Nya,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

“Sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Taha: 82)

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina)

sumber : http://www.konsultasisyariah.com/hukum-membatalkan-puasa-tanpa-alasan/

 

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Sabtu,19 Juli 2014/21 Ramadhan 1435H

Print Friendly