GARA-GARA BERBEDA DALAM MENGHUKUMI SESEORANG BERARTI BERBEDA AKIDAH? (Sebuah Catatan Lagi untuk Mereka yang Mengaku sebagai SALAFI SEJATI)

Pertanyaan:

Apakah Anda sepakat atau tidak dengan Syaikh Rabi’ dalam tulisan-tulisan beliau tentang jarh dan ta’dil dan dalam metode yang beliau pakai? Apakah Anda tahu atau tidak bahwa Syaikh bin Baz, Syaikh Ibn Utsaimin, dan Syaikh Al Albani juga sepakat dengan beliau?

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullahu ta’ala menjawab:

Ahlus sunnah sumber mata air yang mereka minum darinya mereka satu. Yaitu kitabullah dan sunnah rasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, akidah mereka satu, haluan mereka satu, di seluruh negeri Islam.

Kita sepakat dalam jarh terhadap para pelaku kebidahan dan orang-orang hizbi. Kita sangat sepakat atas hal ini.

Tinggal sekarang: sebagian orang di mata seorang [ulama]–mereka–termasuk orang-orang yang mendapat jarh yang di mata [ulama] lainnya tidak termasuk orang-orang yang mendapatkan jarh. Dan ini [juga] terjadi di masa para salaf, sehingga beberapa perawi hadits kita dapati dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai “tsiqah” dan dikatakan oleh Yahya bin Ma’in sebagai “kadzdzab” atau sebaliknya. Demikian pula Al Bukhari, Abu Zur’ah dan Abu Hatim.

Yang penting, jangan taklid sebagian kepada sebagian yang lain. Jika kita berbeda dalam menetapkan jarh dan ta’dil terhadap seseorang, maka bukan artinya kita berbeda pula dalam akidah. Dan bukan artinya kita ini berbeda dalam haluan.

Adapun apakah Syaikh bin Baz dan Syaikh Al Albani sepakat dengan Syaikh Rabi’ atau tidak, maka masalahnya adalah bahwa saya tidak banyak membaca karya-karya Syaikh Rabi. Ini satu.

Yang lain, sebagaimana yang telah kita katakan, ahlus sunnah tidak taklid sebagian mereka kepada sebagian yang lain. Jika mereka mengkritik seseorang dan mereka melihat orang tersebut keluar dari al haq, maka mereka akan mengeluarkan tulisan-tulisan yang membantah apa yang dikatakan orang itu dan mereka pun akan mengeluarkan tulisan-tulisan yang membela apa yang orang itu katakan.

Bagaimana pun, masing-masing kita bisa benar dan bisa salah. Ada yang kita tidak ilmui dan ada yang kita ilmui. Wallahul musta’an.

Dari kaset “Ad Durru ‘ala As-ilah ‘Abasa wa Syafara”.

RUJUKAN: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4330 diakses pada tanggal 9 Juni 2015.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Selasa, 9 Juni 2015/21 Sya’ban 1436H

Print Friendly