Hajar Aswad Adalah Tangan Kanan Allah? Ini Adalah TIDAK BENAR, Tidak Berasal Dari Hadits Shahih

Ibnu Taimiyah Berlawanan Dengan Aswaja

Penanya : Ikhwan
Daerah Asal : Bekasi

Ustadz, ana pernah mendengar kajian seorang ustadz yg membahas Aqidah Islamiyyah… Beliau membahas Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah… Tapi, yg membuat saya aneh adlh ia mengatakan bahwa pencetus Aswaja adlh Abul Hasan Al-Asy’ari dan Al-Maturidi yg menghasilkan golongan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.. Dan ia mengingkari sifat istiwa Alloh disebabkan itu menyerupakan Alloh dgn Makhluq yg membutuhkan sesuatu…

Beliau setelah itu membahas Aqidah sesat diluar Aswaja dan salah satunya Salafiyyah dan Wahhabiyyah…

Anehnya, ia mengklaim bahwa Salafi yg pencetusnya Ibnu Taimiyyah itu suka mengharamkan sesuatu seperti haramnya ziarah kubur bahkan ke kuburan Nabi, tawassul, dan yg lainnya, begitu pula Wahhabi…

Sementara yg ana tahu selama ini da’wah Salafiyah adlh da’wah yg Haqq dan tdk sembarang mengharamkan dan mengkafirkan…. Bagaimana ini Ustadz, mohon penjelasan yg Sharih lagi Shahih…

Jawab :

Da’i yang Anda dengar melalui kajian tidak tepat dalam menyampaikan materi, dia perlu membaca lebih banyak literatur-literatur dalam masalah ini dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih, jauh dari fanatisme kelompok sehingga lisannya bisa selamat dari melakukan tuduhan tanpa bukti dan penjelasan yang ilmiah.

Berikut ini ada pertanyaan yang ditujukan kepada Komite Tetap Fatwa dan Riset Ilmiah yang jawabannya bisa lebih memperjelas masalah ini kepada kita:

Pertanyaan:
Kami pernah belajar di beberapa sekolah tentang madzhab Ahlussunnah wal Jamaah mengenai asma dan sifat Allah yaitu mengimaninya tanpa tahrif (merubah), ta’thil (menafikan), takyif (menggambarkan), dan tamtsil (menyerupakan), serta tidak memalingkan teks-teks yang berbicara mengenai hal itu dari makna dhahirnya. Akan tetapi sesudah itu kami bertemu orang-orang yang mengklaim bahwa dalam masalah ini ada dua metode di dalam madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Metode pertama adalah metode Ibnu Taimiyyah dan murid-murid beliau rahimahumullah. Dan metode kedua adalah metode Asy’ariyah.

Yang pernah kami pelajari adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dan para murid beliau. Adapun Ahlussunnah wal Jamaah dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyyah serta selain mereka yang berpendapat bahwa tidak ada larangan untuk mentakwil sifat dan asma Allah, jika takwil tersebut tidak bertentangan dengan nash syar’i. Mereka berdalil dengan perkataan Ibnu Jauzi Rahimahullah dan lainnya dalam masalah ini. Bahkan Imam Ahlussunnah Ahmad bin Hanbal pernah mentakwil sebagian sifat, seperti pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

«قلوب بني آدم بين أصبعين من أصابع الرحمن»

Hati Bani Adam berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah Yang Maha Pengasih

Nabi Muhammad beliau Shallallahu `Alaihi wa Sallam juga bersabda:

«الحجر الأسود يمين الله في الأرض»

Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi

dan firman Allah Ta`ala :

{وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ}

Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. dan lain-lain.

Pertanyaannya: Apakah pembagian Ahlussunnah wal Jamaah menjadi dua kelompok dengan model seperti ini benar?

Apa pendapat Anda mengenai pendapat mereka yang membolehkan takwil jika tidak bertentangan dengan nash syar’i?
Bagaimana sikap kita terhadap para ulama yang mentakwilkan sifat, seperti Ibnu Hajar, Nawawi, Ibnu Jauzi, dan yang lainnya?
Apakah kita menganggap mereka termasuk para imam Ahlussunnah wal Jamaah atau apa?
Apakah kita boleh mengatakan: Mereka salah dalam takwil-takwil mereka, atau mereka telah sesat dalam hal itu? Seperti sudah diketahui bahwa Asy’ariyah mentakwilkan seluruh sifat selain tujuh sifat ma’ani.

Jika ada salah seorang ulama mentakwilkan dua atau tiga sifat Allah, apakah dianggap sebagai orang yang bermadzhab Asy’ari?.

Mereka menjawab:
Klaim bahwa Imam Ahmad mentakwilkan sebagian teks, seperti hadits

«قلوب بني آدم بين أصبعين من أصابع الرحمن

Hati para hamba ada di antara dua jari dari jari-jemari Allah Yang Maha Pengasih

Dan hadits:

«الحجر الأسود يمين الله في الأرض»

Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi

Dan seterusnya, adalah sebuah klaim yang tidak benar. Imam Ibnu Taimiyyah berkata: “Riwayat yang diceritakan oleh Abu Hamid al-Ghazali dari sebagian orang-orang madzhab hambali bahwa Ahmad hanya mentakwil tiga hal: “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi”, “Hati para hamba berada di antara dua jari-jemari Allah”, dan “Aku mendapati jiwa Allah dari sisi kanan”.

Riwayat-riwayat ini merupakan kebohongan yang disematkan kepada Ahmad. Tidak ada seorang pun yang meriwayatkan ucapan itu berasal darinya. Dan tidak pernah diketahui salah seorang dari muridnya yang meriwayatkan hal itu darinya. Pengikut madzhab hambali yang disebutkan oleh Abu Hamid adalah sosok yang majhul yang tidak diketahui baik keilmuan maupun kebenaran perkataannya.” (Dinukil dari halaman 398/5 dari Majmu’ Fatawa).

Untuk menjelaskan mengenai hal itu, perlu diketahui bahwa takwil memiliki tiga arti:

Pertama: Hasil dan hakekat sesuatu, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala mengenai Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam:

{هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ}

Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu yakni hakekatnya yang akan terjadi.

Ini bukan yang dimaksud di dalam teks-teks yang ada dalam pertanyaan.

Kedua: Takwil dengan arti memalingkan perkataan dari makna zahirnya (yang dipahami pertama kali) ke makna samar yang jauh karena adanya sebuah qarinah. Ini adalah makna yang dikenal di kalangan ulama kalam dan usul fikih. Makna ini tidak dapat diterapkan di dalam teks-teks yang telah disebutkan di dalam pertanyaan, karena makna zahir dalam teks-teks tersebut adalah maksud dari teks-teks tersebut yang tidak perlu dipalingkan. Makna tersebut benar sebagaimana akan dijelaskan dalam penjelasan makna terakhir dari takwil.

Ketiga: Takwil dengan makna tafsir, yaitu menjelaskan makna kalimat dengan makna zahir dan makna yang dipahami pertama kali oleh pendengar yang mengetahui bahasa Arab. Takwil dengan makna inilah yang dimaksud di sini. Kalimat “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi” maksudnya adalah Hajar Aswad tersebut bukan sifat Allah dan tangan kanan-Nya hingga harus dipalingkan dari maknanya. Akan tetapi makna zahirnya ialah Hajar Aswad itu seperti tangan kanan-Nya, dengan dalil lanjutan kalimat dalam atsar tersebut:

فمن صافحه فكأنما صافح الله، ومن قبله فكأنما قبل يمين الله

“Barangsiapa menjabatnya, maka seakan-akan ia menjabat tangan Allah, dan barangsiapa menciumnya maka seakan-akan ia mencium tangan kanan Allah.”

Barangsiapa menggabungkan atsar tersebut dari awal hingga akhir niscaya akan dapat memahami bahwa makna zahirnya adalah maksud dari atsar tersebut, dan tidak perlu dipalingkan karena itu adalah makna sebenarnya. Ini yang dikatakan oleh para imam salaf, seperti Imam Ahmad dan lainnya.

Itu merupakan takwil dengan makna tafsir, bukan dengan makna memalingkan perkataan dari makna zahirnya, sebagaimana yang diklaim oleh para ulama mutaakhirin. Perlu diketahui bahwa yang disebutkan di atas bukanlah sebuah hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi merupakan atsar dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `Anhuma. Demikian juga mengenai hadits

«قلوب بني آدم بين أصبعين من أصابع الرحمن

Hati para hamba ada di antara dua jari dari jari-jemari Allah Yang Maha Pengasih

Makna zahirnya tidak menunjukkan sentuhan dan masuk, akan tetapi makna zahirnya hanya menunjukkan penetapan jari-jemari hakiki bagi Allah Ta’ala dan hati hakiki bagi hamba. ****batan salah satu pokok kalimat ke pokok kalimat yang lain menunjukkan akan kesempurnaan kuasa Allah dan kesempurnaan pengaturan-Nya atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dikatakan: “Si fulan berdiri di antara dua tangan raja, atau di genggaman tangannya”, maka hal itu tidak meniscayakan sentuhan dan masuk, akan tetapi makna zahirnya menunjukkan akan adanya seseorang dan seorang raja yang mempunyai dua tangan. Perkataan tersebut menunjukkan ****batan kehadiran seseorang di sisi raja dan kekuasaan raja untuk menguasainya tanpa sentuhan atau masuk. Demikian juga mengenai firman Allah Ta’ala :

{بِيَدِهِ الْمُلْكُ}

Di tangan-Nyalah segala kerajaan

Dan firman-Nya :

{تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا}

Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami

Dan ayat-ayat yang semisalnya.

Kedua: Pembagian Ahlussunnah wal Jamaah menjadi dua kelompok dengan model seperti ini tidaklah benar, karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang satu, baik secara aqidah maupun politik, hingga pada saat kekhilafahan Utsman Radhiyallahu ‘Anhu mulai tumbuh benih-benih perpecahan dalam masalah politik, bukan aqidah.

Tatkala Utsman dibunuh dan Ali dibaiat oleh sebagian kelompok serta Mu`awiyah dibaiat oleh sebagian kelompok yang lain –semoga Allah meridhoi mereka semua– maka ketika terjadi perang politik antara mereka, ada kelompok yang keluar dari barisan mereka yang kemudian dikenal dengan Khawarij. Mereka tidak berbeda dengan kaum muslimin mengenai enam asas iman, tidak pula lima rukun Islam. Akan tetapi mereka berbeda dengan kaum muslimin mengenai masalah khilafah, pengkafiran sebab dosa-dosa besar, mengusap dua kaki dalam wudhu, dan semisalnya.

Kemudian muncullah sikap ektrim para pengikut Ali hingga ada salah seorang dari mereka yang menyembahnya yang disebut Syi`ah. Kemudian berpecahlah masing-masing dari Khawarij dan Syi`ah menjadi beberapa kelompok. Muncul sebuah kelompok yang mengingkari takdir, yang terjadi di akhir masa para sahabat radhiyallahu ‘anhum yaitu Qadariyah. Selanjutnya muncullah sosok Ja’d bin Dirham. Ia adalah orang pertama yang mengingkari sifat-sifat Allah, mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan mengenai sifat-sifat Allah dengan makna-makna selain makna aslinya, yang akhirnya ia dibunuh oleh Khalid al-Qasri.

Pengingkaran dan pentakwilan sifat-sifat Allah tersebut diikuti oleh muridnya yang bernama Jahm bin Shafwan. Ia pun terkenal dengan pengingkaran tersebut, sehingga perkataan buruk ini (pengingkaran sifat) dinisbatkan kepadanya. Orang yang berpendapat seperti itu dikenal dengan sebutan Jahmiyah. Setelah itu muncullah Muktazilah.

Mereka mengikuti Jahmiyah dalam mentakwil teks-teks sifat yang mereka namakan sebagai tanzih (penyucian).
Mereka juga mengikuti Qadariyah mengenai pengingkaran takdir dan menamakannya sebagai adl (keadilan).
Mereka juga mengikuti Khawarij tentang keluar dari pemerintahan yang mereka namakan sebagai amar ma’ruf, dan perkataan-perkataan mereka lainnya.

Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari tumbuh-berkembang dalam madzhab Muktazilah dan menyakini prinsip-prinsip ajaran mereka, kemudian Allah memberinya hidayah ke jalan yang benar. Lantas dia bertaubat dari ajaran Muktazilah dan meniti jalan Ahlussunnah wal Jamaah. Dia berusaha keras membantah orang-orang yang menyelisihi Ahlussunnah wal Jamaah dalam masalah pokok-pokok ajaran Islam, semoga Allah merahmatinya.

Akan tetapi, dirinya masih dipenuhi pemahaman-pemahaman Muktazilah seperti penakwilan teks-teks sifat af’al (perbuatan) dan terpengaruh dengan pendapat Jahm bin Shafwan dalam masalah af’al ibad (perbuatan hamba), hingga ia berpendapat jabariyah dan menamakannya sebagai kasb (usaha), dan perkara-perkara lainnya yang dapat diketahui oleh orang yang membaca kitabnya “al Ibaanah” yang ia karang di akhir hidupnya. Demikian juga dapat diketahui dari tulisan para pengikutnya yang mereka lebih mengetahui tentang dirinya dari pada orang-orang selain mereka, dan dari tulisan Ibnu Taimiyyah mengenai sosoknya dalam banyak kitab-kitabnya.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya adalah mereka yang berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnah di dalam aqidah dan pokok-pokok ajaran mereka. Mereka tidak menentang teks-teks kedua sumber tersebut dengan akal dan hawa nafsu. Mereka berpegang teguh dengan sikap para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam pondasi keimanan dan rukun Islam. Mereka adalah para imam hidayah (petunjuk), menara kebenaran, serta penyeru (dai) kebaikan dan kemenangan, seperti Hasan Basri, Sa`id bin al-Musayyab, Mujahid, Abu Hanifah, Malik, Syafi`i, al-Awza`i, Ahmad, Ishaq, Bukhari, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dan memegang teguh manhaj mereka, baik aqidah maupun metode berdalil.

Adapun orang-orang yang keluar dari manhaj mereka dalam masalah pokok-pokok agama, maka mereka memiliki nilai Sunnah sebanyak kadar sikap mereka yang sesuai dengan sikap para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam mengenai masalah pokok-pokok Islam. Mereka juga memiliki kadar bidah dan kesalahan sebanyak kadar sikap mereka yang menyelisihi para sahabat dan para imam mengenai masalah tersebut, baik sedikit maupun banyak. Kelompok-kelompok yang paling dekat kepada Ahlussunnah wal Jamaah adalah Abu Hasan al-Asy`ari dan para pengikutnya secara aqidah dan metode berdalil.

Dengan penjelasan ini dapat diketahui bahwa Ahlussunnah wal Jamaah tidak memiliki dua metode, tetapi hanya memiliki satu metode yang dibela dan didakwahkan oleh orang-orang yang meniti jalan mereka. Ibnu Taimiyah adalah termasuk orang yang mengemban amanah tersebut dan menjadikan hidupnya untuk tujuan mulia ini. Beliau bukan orang yang pertama kali memunculkan metode ini, tetapi beliau hanya mengikuti sikap para imam, para sahabat, dan para ulama tiga kurun pertama (yang telah disaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kebaikan). Demikian juga orang-orang yang mendebat beliau, mereka hanyalah orang-orang yang ingin membela madzhab orang yang mereka ikuti yang menisbatkan diri kepada Ahlussunnah wal Jamaah seperti Abu Hasan al-Asy`ari dan para pengikutnya setelah ia keluar dari Muktazilah dan mengikuti jalan Ahlussunnah, kecuali dalam sedikit permasalahan. Oleh karena itu, dia lebih dekat kepada metode Ahlussunnah wal Jamaah dibandingkan kelompok-kelompok lainnya.

Ketiga: Para pengikut madzhab Asy`ariyyah dan yang sepaham dengan mereka, mentakwilkan teks-teks asma dan sifat karena menyangka bahwa teks-teks tersebut bertentangan dengan dalil-dalil akal dan sebagian teks syariat. Permasalahannya bukan seperti itu, teks-teks asma dan sifat tersebut tidak mengandung sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat, juga tidak mengandung sesuatu yang bertentangan dengan teks-teks syariat. Teks-teks syariat (yang begitu banyak)terkait asma dan sifat Allah, antara teks yang satu dengan yang lain saling membenarkan. Teks-teks itu berisi penetapan asma dan sifat Allah secara hakiki dan mensucikan-Nya dari penyerupaan dengan makhluk-Nya.

Keempat: Sikap kami terhadap Abu Bakar al-Baqilani, Baihaqi, Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi, Abu Zakariya an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan orang-orang yang seperti mereka yang mentakwil sebagian sifat Allah Ta’ala, atau mentakwil dalam asal maknanya, mereka termasuk para pembesar ulama kaum muslimin yang telah Allah berikan manfaat kepada umat dengan ilmu-ilmu mereka. Semoga Allah merahmati mereka semua dengan rahmat yang luas, dan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan.

Mereka termasuk Ahlussunnah dalam hal yang sesuai dengan para sahabat dan para imam salaf tiga abad pertama (yang telah dipersaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kebaikan). Dan mereka telah melakukan kesalahan dengan mentakwilkan teks-teks sifat, dan menyelisihi para salaf dan imam Ahlussunnah, baik mentakwilkan semua sifat dzat dan sifat af’al (tindakan), atau sebagiannya saja.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 3/234-241 pertanyaan pertama dari fatwa no.5082

والله تعالى
والصواب

Oleh : Redaksi salamdakwah.com

sumber : http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/bagaimana-ahlussunnah-dan-salafiyyah-yg-sebenarnya–1.html

Tambahan admin web aslibumiayu :

video  dai yang mengucapkan serta bantahannya

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Senin, 4 Januari 2016/23 Rabiul Awal 1437H

Print Friendly