Hal-Hal yang Membantu Kita Bersabar terhadap Kezaliman Seseorang kepada Kita (Bagian Pertama)

Bersabar atas musibah yang menimpa karena ulah manusia pada hartanya, kehormatannya, atau pada dirinya adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Sebab, jiwa manusia hampir selalu mengingat apa-apa yang mengganggunya. Dan memang jiwa manusia tidak ingin direndahkan, sehingga selalu ada keinginan menuntut balas segala kezaliman yang menimpanya. Hanya para nabi dan orang-orang yang jujur dengan keimanannya (baca: shiddiq) yang mampu bersabar atas jenis musibah tersebut. Akan tetapi, kata Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala dalam kitab Qa’idatun fi Ash Shabri

Ada beberapa hal yang dapat membantu seorang hamba untuk bersabar seperti itu.

Pertama, hendaknya seorang hamba menyadari bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta segala perbuatan hamba-hambaNya, baik gerak-gerik mereka, diamnya mereka ataupun keinginan-keinginan mereka. Maka, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Karena itu, tidaklah bergerak sebuti debu pun di langit dan di bumi, kecuali atas izin dan kehendak Allah, sehingga para hamba itu hanyalah alat. Maka, lihatlah kepada yang menggerakkan mereka melakukan itu kepadamu dan jangan engkau melihat perbuatan mereka terhadapmu.

Kedua, hendaknya seorang hamba itu melihat dosa-dosanya dan sesungguhnya Allah hanyalah menggerakkan mereka untuk menyakiti hamba tersebut karena dosanya, sebagaimana yang telah Allah ta’ala firmankan,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan-tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan banyak kesalahan kalian.” (QS. Asy Syura: 30)

Jika seorang hamba menyadari bahwa segala musibah yang menimpanya itu disebabkan oleh dosa-dosanya, maka ia akan menyibukkan diri dengan tobat dan istighfar dari dosa-dosa yang karena sebab itu Allah ta’ala menggerakkan mereka untuk menyakitinya daripada hamba tersebut balik mencela mereka, mencaci mereka, dan menghina mereka.

Jadi, jika engkau lihat seseorang membalas orang-orang yang menyakitinya dan tidak melihat kepada dirinya sendiri dengan menyalahkan diri sendiri dan ber-istighfar, maka ketahuilah bahwa musibah orang tersebut adalah musibah yang sebenarnya. Tetapi, jika ia bertobat dan ber-istitghfar, lalu mengatakan, “Ini karena dosa-dosaku”, maka yang demikian berubah untuknya menjadi suatu kenikmatan.

Ali bin Abi Thalib, yang mudah-mudahan Allah ta’ala muliakan wajah beliau, pernah mengatakan kalimat yang termasuk kata-kata mutiara dari beliau, “Janganlah seorang hamba berharap, kecuali kepada RabbNya. Dan janganlah seorang hamba takut, kecuali kepada dosa-dosanya.”

Juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan selain beliau, “Tidaklah musibah itu turun, kecuali karena dosa. Dan tidaklah diangkat musibah itu, kecuali dengan tobat.”

Ketiga, hendaknya seorang hamba menyadari tentang baiknya ganjaran yang Allah janjikan bagi siapa saja yang memaafkan dan bersabar, sebagaimana Allah ta’ala firmankan.

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan kejahatan adalah kejahatan yang semisal. Karena itu, siapa saja yang memaafkan dan memperbaiki diri, maka balasannya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy Syura: 40)

Ketika mendapatkan gangguan, manusia terbagi menjadi tiga golongan.

[1] Orang zalim yang membalas gangguan melebihi haknya

[2] Orang adil yang membalas gangguan sesuai dengan haknya

[3] Seorang yang muhsin [orang yang yang mencapai derajat tertinggi dalam agama] yang memaafkan dan tidak mengambil haknya

Allah sebutkan tiga golongan itu di dalam ayat sudah disinggung di atas. Yang pertamanya adalah orang-orang yang adil. Berikutnya adalah orang-orang yang muhsin. Dan terakhir adalah orang-orang yang zalim.

Hendaknya seorang hamba juga menyadari adanya panggilan di hari kiamat nanti. “Hendaklah berdiri siapa saja yang wajib mendapatkan pahala dari Allah.” Karena itu, tidak berdiri nanti, kecuali siapa saja yang memaafkan dan memperbaiki diri.

Jika bersamaan dengan itu ia menyadari pahalanya akan hilang ketika membalas dan mengambil haknya, maka akan dirasa mudah untuk bersabar dan memaafkan.

Keempat, hendaknya seorang hamba menyadari bahwa jika ia memaafkan dan berbuat baik itu akan membuahkan kesucian hati terhadap saudara-saudaranya, kebersihan hati dari sifat khianat, dengki, balas dendam dan hasrat berbuat jahat; ia akan mendapatkan manisnya memaafkan lebih berlipat ganda nikmatnya dan manfaatnya—cepat atau lambat—daripada kepuasan yang ia rasakan ketika membalas. Ia pun akan masuk ke dalam firman Allah ta’ala,

وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang berlaku ihsan(QS. Ali Imran: 148; QS. Al Ma-idah: 93), sehingga Allah mencintainya.

Keadaan orang tersebut menjadi seperti orang yang diambil darinya satu dirham [koin perak] tetapi mendapat ganti sebanyak ribuan dinar [koin emas]. Seketika itu pula, ia betul-betul gembira dengan apa-apa yang Allah anugerahkan kepadanya dengan kegembiraan yang tiada tara.

Sumber: Ibnu Taimiyah. Qa’idatun fi Ash Shabri. TTp: Darul Qasim. Tth, halaman 5-6.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis,31 Maret 2016/21 Jumadil Akhir 1437H

Print Friendly