Hampir Saja Mereka Jadi SAHABAT RASULULLAH

Dalam pelajaran kitab Sunan Abi Dawud, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad Al Badr rahimahullahu ta’ala pernah mengatakan,

“Sahabat nabi adalah siapa saja yang menjumpai nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beriman kepada beliau dan meninggal dunia di atas Islam, meskipun sempat diselingi dengan kemurtadan. Inilah pendapat yang paling shahih. Dan ini definisi dari Ibnu Hajar. Definisi adalah definisi yang paling baik tentang sahabat nabi.”

Masih dalam pelajaran dan tema yang sama, Syaikh Abdul Muhsin rahimahullahu ta’ala menambahkan,

“Di sana, ada orang yang pernah melihat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafatnya beliau, tetapi dimasukkan ke dalam sahabat nabi. Ia adalah Abu Dzu-aib Al Hudzali. Yang lebih dekat dari Abu Dzu-aib [pertemuannya dengan rasulullah tetapi tetap tidak terhitung ke dalam sahabat nabi] adalah Suwaid bin Ghaflah. Beliau datang ke Madinah pada hari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakamkan. Yang lebih dekat lagi waktunya dari mereka berdua [Abu Dzu-aib dan Suwaid] adalah Abdurrahman bin Usailah Ash Shunabihi. Beliau mendapatkan kabar tentang wafatnya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sedang berada di Juhfah, di jalan ke arah Madinah Nabawiyah. Dan mereka bertiga disebut sebagai orang-orang yang hampir menjadi sahabat nabi.”

Sumber: Abdurrahman bin Muhammad Al ‘Unaisan. Ithaf Al ‘Ibad fi Fawa-id Durus Asy Syaikh Abdil Muhsin bin Al Hamd Al ‘Abbad: Fawa-id Al Haditsiyyah. Kairo: Dar Al Imam Ahmad. 1425H, halaman 136.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Minggu,11 Oktober 2015/27 Dzulhijjah 1436H

Print Friendly