Istighatsah dan Tawassul kepada Orang-Orang yang Sudah Mati

Pertanyaan:

Ber-istighatsah kepada para nabi, wali dan orang-orang shalih, ketika mereka hidup dan setelah mereka meninggal dunia dalam rangka mengangkat bala, mendatangkan kebaikan, dan ber-tawassul dengan mereka juga dalam dua keadaan itu untuk menunaikan berbagai hajat dan kebutuhan. Apakah yang seperti ini boleh atau tidak?

Jawaban:

Ber-istighatsah dengan orang-orang yang sudah mati, baik itu dari kalangan para nabi dan selain mereka, tidak boleh. Bahkan, itu termasuk syirik akbar. Adapun ber-istighatsah dengan orang yang masih hidup, hadir dan istighatsah dengannya pada apa-apa yang ia mampu, maka tidak mengapa, karena firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kisah Musa ‘alaihis salam,

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ

“Maka, orang yang sekubu dengannya meminta tolong kepada Musa untuk mengalahkan musuhnya.” (QS. Al Qashash: 15)

Adapun ber-tawassul dengan orang-orang yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia dari kalangan para nabi dan selain mereka, dengan zat-zat [bagian-bagian tubuh] mereka, kedudukan-kedudukan mereka, atau hak-hak mereka, tidak boleh. Bahkan, termasuk dari kebidahan-kebidahan dan perantara-perantara kesyirikan.

KOMITE TETAP KAJIAN ILMIAH DAN FATWA

Ketua              : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil Ketua   : Abdurrazzaq ‘Afifi

Anggota          : Abdullah bin Ghudayan dan Abdullah bin Qu’ud

Rujukan: Fatawa lil Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts Al Ilmiyyah wa Al Ifta’: Juz I (Cet. II), Riyadh: Maktabah Al ‘Ubaikan, 1421H/2000M, halaman 55.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Selasa,21 April 2015/2 Rajab 1436H

Print Friendly