KAIDAH-KAIDAH DALAM BERSABAR (Terjemahan Lengkap Kitab Qa’idatun Fi Ash Shabri Karya Ibnu Taimiyah)

Tentang sabar dan cara bersabar, beberapa abad yang lampau, Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala pernah menulis,

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan untuk hamba-hambaNya yang mukmin kebaikan di setiap keadaan. Mereka selalu berada dalam kenikmatan dari Rabb mereka. Allah memberi mereka apa yang mereka senangi atau yang mereka benci dan Allah menjadikan segala ketentuan dan takdir yang telah ditetapkan untuk dan atas mereka sebagai lahan niaga yang mereka harapkan keuntungannya dan jalan-jalan yang dapat membawa mereka kepada Allah, sebagaimana yang telah shahih datangnya dari imam mereka dan orang yang mereka ikuti—yang pada hari kiamat nanti setiap umat akan dipanggil bersama imam masing-masing—shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi [semoga shalawat Allah dan salamNya dilimpahkan kepada beliau] bahwa beliau bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عَجَبٌ ، مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضاءٍ إِلاَّ كَانَ خَيْرًا لَهُ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya, semua perkaranya menakjubkan. Tidaklah Allah tetapkan untuknya satu ketetapan, kecuali itu baik untuknya. Jika diberi kebaikan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah, ia bersabar dan itu baik  pula baginya.” [HR. Muslim, nomor 2999]

Hadits di atas mencakup seluruh ketetapan Allah terhadap hambaNya yang mukmin dan itu baik bagi hamba tersebut jika ia bersabar dengan apa yang ia tidak sukai dan bersyukur dengan apa yang ia sukai. Bahkan, yang seperti itu masuk ke dalam iman. Sebab iman itu, sebagaimana para salaf mengatakan, “terdiri dari dua: setengahnya bersabar dan setengahnya [lagi] bersyukur” seperti firman Allah ta’ala,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi setiap yang bersabar dan bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5; QS. Luqman: 31; QS. Saba’: 91; QS. Asy Syura: 33)

Jika seorang hamba merenungi semua itu, ia akan melihat bahwa semuanya akan kembali kepada sabar dan syukur. Dan itu, karena sabar terbagi menjadi tiga.

Pertama, sabar di atas ketaatan kepada Allah sampai ia dapat mengerjakannya. Sesungguhnya, seseorang itu hampir tidak bisa mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya melainkan setelah ia bersabar, menyabarkan dirinya, dan memerangi musuh-musuhnya baik musuh yang tampak ataupun yang tidak tampak. Seberapa kuat kesabaran ini ada padanya, sebanyak itu pula ia dapat menunaikan perintah-perintah Allah dan amalan-amalan sunnah.

Kedua, sabar dari apa-apa yang dilarang sampai ia tidak mengerjakannya. Sebab hawa nafsu dan hasarat-hasratnya, godaan-godaan setan, dan teman-teman yang buruk mengajaknya bermaksiat dan mengenteng-entengkan maksiat itu. Seberapa kuat kesabaran ini, sebanyak itu pula ia dapat meninggalkan apa-apa yang diharamkan kepadanya. Sebagian salaf mengatakan, “Amalan-amalan baik [bisa] dikerjakan oleh orang yang baik dan orang yang rusak, tetapi meninggalkan maksiat-maksiat tidak bisa dikerjakan kecuali oleh orang yang shiddiq [jujur dalam keimanannya].”

Ketiga, sabar atas musibah-musibah yang menimpa di luar keinginannya.

Musibah-musibah yang menimpa seorang hamba ada dua jenis.

Musibah yang di luar kehendak makhluk, seperti sakit dan musibah-musibah lainnya yang datang dari Allah. Yang seperti ini mudah untuk bersabar di dalamnya. Sebab seorang hamba, terkait musibah-musibah itu, mengakuinya sebagai ketetapan dan takdir dari Allah. Sama sekali tidak ada campur tangan manusia dalam musibah tersebut.

Karena itu, seseorang [dapat] bersabar, baik karena terpaksa ataupun karena keinginannya sendiri. Maka, jika Allah bukakan dalam hati seorang hamba pikiran tentang manfaat-manfaat musibah, apa-apa yang terkandung dalam kenikmatan-kenikmatan dan kelembutan-kelembutannya, ia pun akan pindah dari bersabar atas musibah-musibah [yang menimpa] menuju bersyukur dan bersikap ridho dengan segala musibah  itu. Dengan demikian, musibah-musibah tersebut akan berbalik menjadi kenikmatan untuknya, sehingga lubuk hati dan lisannya selalu mengucapkan,

رَبِّ أَعِنِّي عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Rabbku, bantulah aku untuk mengingatMu, mensyukuriMu, dan baik dalam beribadah kepadaMu.”

Dan ini akan menguat dan melemah sesuai kadar kekuatan dan kelemahan rasa cinta seorang hamba kepada Allah. Bahkan, yang seperti ini, didapati oleh salah seorang di antara kita di dalam kehidupan, sebagaimana dikatakan oleh sebagian penyair yang mendapatkan sesuatu yang dibenci dari orang yang dicintainya, “Walaupun engkau menjelek-jelekkan aku, setidaknya aku bahagia karena engkau masih memikirkan aku.”

Jenis kedua adalah musibah yang menimpa seseorang karena ulah manusia pada hartanya, kehormatannya, atau pada dirinya. Maka, musibah jenis ini sangat sulit sekali untuk bersabar. Sebab, jiwa manusia senantiasa mengingat yang mengganggunya dan ia tidak ingin direndahkan, sehingga ia pun menuntut  untuk membalasnya.

Karena itu, tidaklah bersabar atas musibah jenis ini, kecuali para nabi dan orang-orang yang shiddiq [jujur dalam keimanannya]. Adalah nabi kita [Muhammad] shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika disakiti selalu mengucapkan,

يَرْحَمُ اللهُ مُوْسىَ لَقَدْ أُوْذِيَ بِأَكْثَرِ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah selalu merahmati Musa ‘alaihis salam, sungguh beliau telah diuji lebih daripada ini dan beliau bersabar.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah dikabari tentang seorang nabi dari kalangan nabi yang dipukuli oleh kaumnya. Maka, nabi tersebut berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرلِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah, ampunilah kaumku, sebab mereka ini tidak mengetahui.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Dan telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah mendapatkan ujian yang sama dari kaumnya. Beliau pun berdoa dengan doa seperti yang di atas. [HR. Ath Thabarani dalam Majma’ Az Zawa-id]

Karena itu, terangkum padanya tiga perkara: memaafkan mereka, meminta ampunan untuk mereka, dan memberi uzur [alasan untuk memaafkan] bahwa mereka itu tidak mengetahui.

Kesabaran jenis ini termasuk kesabara yang membuahkan pertolongan, hidayah, kebahagiaan, keamanan, kekuatan iman kepada Allah, bertambahnya kecintaan Allah serta kecintaan manusia kepadanya, dan tambahan ilmu. Karena itulah, allah ta’alaberfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah: 24)

Jadi, sabar dan yakin—dengan keduanya—akan diperoleh kepemimpinan di dalam agama. Oleh karenanya, jika kesabaran jenis ini disertai dengan kuatnya keyakinan dan keimanan, maka orang yang memilikinya akan sampai ke tingkatan bahagia karena karunia Allah ta’ala.

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Dan yang demikian adalah keutamaan dari Allah. Allah anugrahkan kepada siapa saja yang Allah kehendaki dan adalah Allah yang memiliki karunia yang sangat besar.” (QS. Al Hadid: 21; QS. Al Jumu’ah: 4)

Karena itulah, Allah ta’ala berfirman,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ . وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tolaklah keburukan dengan apa yang lebih baik, sehingga orang yang tadinya memusuhimu akan menjadi teman yang setia. Dan itu tidaklah terjadi kecuali pada orang-orang yang bersabar serta tidak ada yang bisa melakukannya, kecuali orang yang memiliki karunia yang sangat besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Ada beberapa hal yang dapat membantu seorang hamba untuk bersabar seperti itu.

Pertama, hendaknya seorang hamba menyadari bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta segala perbuatan hamba-hambaNya, baik gerak-gerik mereka, diamnya mereka ataupun keinginan-keinginan mereka. Maka, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Karena itu, tidaklah bergerak sebuti debu pun di langit dan di bumi, kecuali atas izin dan kehendak Allah, sehingga para hamba itu hanyalah alat. Maka, lihatlah kepada yang menggerakkan mereka melakukan itu kepadamu dan jangan engkau melihat perbuatan mereka terhadapmu.

Kedua, hendaknya seorang hamba itu melihat dosa-dosanya dan sesungguhnya Allah hanyalah menggerakkan mereka untuk menyakiti hamba tersebut karena dosanya, sebagaimana yang telah Allah ta’ala firmankan,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan-tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan banyak kesalahan kalian.” (QS. Asy Syura: 30)

Jika seorang hamba menyadari bahwa segala musibah yang menimpanya itu disebabkan oleh dosa-dosanya, maka ia akan menyibukkan diri dengan tobat dan istighfar dari dosa-dosa yang karena sebab itu Allah ta’ala menggerakkan mereka untuk menyakitinya daripada hamba tersebut balik mencela mereka, mencaci mereka, dan menghina mereka.

Jadi, jika engkau lihat seseorang membalas orang-orang yang menyakitinya dan tidak melihat kepada dirinya sendiri dengan menyalahkan diri sendiri dan ber-istighfar, maka ketahuilah bahwa musibah orang tersebut adalah musibah yang sebenarnya. Tetapi, jika ia bertobat dan ber-istitghfar, lalu mengatakan, “Ini karena dosa-dosaku”, maka yang demikian berubah untuknya menjadi suatu kenikmatan.

Ali bin Abi Thalib, yang mudah-mudahan Allah ta’ala muliakan wajah beliau, pernah mengatakan kalimat yang termasuk kata-kata mutiara dari beliau, “Janganlah seorang hamba berharap, kecuali kepada RabbNya. Dan janganlah seorang hamba takut, kecuali kepada dosa-dosanya.”

Juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan selain beliau, “Tidaklah musibah itu turun, kecuali karena dosa. Dan tidaklah diangkat musibah itu, kecuali dengan tobat.”

Ketiga, hendaknya seorang hamba menyadari tentang baiknya ganjaran yang Allah janjikan bagi siapa saja yang memaafkan dan bersabar, sebagaimana Allah ta’alafirmankan.

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan kejahatan adalah kejahatan yang semisal. Karena itu, siapa saja yang memaafkan dan memperbaiki diri, maka balasannya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy Syura: 40)

Ketika mendapatkan gangguan, manusia terbagi menjadi tiga golongan.

[1] Orang zalim yang membalas gangguan melebihi haknya

[2] Orang adil yang membalas gangguan sesuai dengan haknya

[3] Seorang yang muhsin [orang yang yang mencapai derajat tertinggi dalam agama] yang memaafkan dan tidak mengambil haknya

Allah sebutkan tiga golongan itu di dalam ayat sudah disinggung di atas. Yang pertamanya adalah orang-orang yang adil. Berikutnya adalah orang-orang yang muhsin. Dan terakhir adalah orang-orang yang zalim.

Hendaknya seorang hamba juga menyadari adanya panggilan di hari kiamat nanti. “Hendaklah berdiri siapa saja yang wajib mendapatkan pahala dari Allah.” Karena itu, tidak berdiri nanti, kecuali siapa saja yang memaafkan dan memperbaiki diri.

Jika bersamaan dengan itu ia menyadari pahalanya akan hilang ketika membalas dan mengambil haknya, maka akan dirasa mudah untuk bersabar dan memaafkan.

Keempat, hendaknya seorang hamba menyadari bahwa jika ia memaafkan dan berbuat baik itu akan membuahkan kesucian hati terhadap saudara-saudaranya, kebersihan hati dari sifat khianat, dengki, balas dendam dan hasrat berbuat jahat; ia akan mendapatkan manisnya memaafkan lebih berlipat ganda nikmatnya dan manfaatnya—cepat atau lambat—daripada kepuasan yang ia rasakan ketika membalas. Ia pun akan masuk ke dalam firman Allah ta’ala,

وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang berlaku ihsan” (QS. Ali Imran: 148; QS. Al Ma-idah: 93), sehingga Allah mencintainya.

Keadaan orang tersebut menjadi seperti orang yang diambil darinya satu dirham [koin perak] tetapi mendapat ganti sebanyak ribuan dinar [koin emas]. Seketika itu pula, ia betul-betul gembira dengan apa-apa yang Allah anugerahkan kepadanya dengan kegembiraan yang tiada tara.

Kelima, hendaknya seorang hamba mengetahui bahwa tidaklah seorang pun membalas kezaliman yang menimpa dirinya, kecuali itu akan memunculkan kehinaan pada dirinya. Namun, jika ia memaafkan, Allah ta’ala akan memuliakannya. Dan ini termasuk apa yang pernah dikabarkan oleh seorang jujur lagi dibenarkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau bersabda,

مَا زَادَ اللهُ عَبْداً بِعَفْوِ إِلاَّ عِزًّا

“Tidaklah Allah tambahkan kepada orang yang memaafkan, kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Karena itu, kemuliaan yang didapat dari memaafkan lebih ia sukai dan lebih bermanfaat baginya daripada kemuliaan yang ia dapat dari membalas. Sebab, membalas itu adalah kemuliaan secara zhahir [baca: lahiriah] yang itu memunculkan kehinaan. Adapun memaafkan, ini terasa hina di batin. Akan tetapi, itu akan memunculkan kemuliaan secara lahir dan batin.

Keenam, dan ini termasuk manfaat yang sangat besar, hendaknya seorang hamba itu menyadari bahwa balasan itu tergantung dari amalannya dan hendaknya ia juga menyadari bahwa dirinya pelaku kezaliman dan pendosa.  Siapa saja yang memaafkan manusia [dari kezalimannya], Allah akan mengampuninya.

Karena itu, jika ia menyadari bahwa meaafnya, kelapangan dadanya, dan sikap baiknya yang manusia telah menyakitinya, maka itu semua akan jadi sebab Allah mengganjarnya sesuai amalannya, sehingga Allah akan memaafkannya, mengampuninya, dan berbuat baik kepadanya sebagai ganti dari dosa-dosanya. Ia pun akan mudah memaafkan dan bersabar. Manfaat yang seperti ini sudah cukup bagi orang yang berakal.

Ketujuh, hendaknya ia mengetahui, jika ia menyibukkan dirinya untuk membalas kezaliman dan menuntut perlakuan yang sama, maka itu akan menghilangkan waktunya, membuat lelah hatinya, dan membuatnya luput dari berbagai maslahat yang tidak mungkin ia dapatkan lagi. Bisa jadi yang seperti itu lebih besar ruginya daripada apa yang ia dapati dari kezaliman orang. Sebaliknya, jika ia memaafkan dan membiarkannya, maka hati dan tubuhnya akan mendapatkan berbagai maslahat yang jauh lebih penting baginya daripada membalas kezaliman orang.

Kedelapan, sesungguhnya tindakan membalas kezaliman menuntut perlakuan yang sama kepada orang yang menzaliminya dan menolongnya adalah membalas untuk dirinya dan menolong dirinya pribadi. Sebab sesungguhnya Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallamtidak pernah membalas kezaliman kepada diri beliau.

Karena itu, jika seperti inilah makhluk Allah yang paling baik dan paling mulia di sisi Allah (tidak membalas atas apa yang menyakiti beliau pribadi, padahal beliau disakiti karena Allah, sementara pada diri beliau pribadi terkait hak-hak agama dan diri beliau adalah orang yang paling mulia, paling suci, paling baik dan paling jauh dari akhlak yang tercela serta paling berhak dengan segala akhlak yang terpuji, sedangkan beliau belum pernah membalas semua kezaliman kepada beliau), maka bagaimana mungkin salah seorang di antara kita membalas kezaliman kepadanya, sedangkan ia sendiri lebih tahu keburukan-keburukan dan aib-aib dirinya sendiri?

Sebaliknya, orang yang bijak—dirinya—tidak akan merasa berhak untuk membalas kezaliman yang menimpanya. Orang yang bijak tidak akan merasa dirinya punya kadar agar dirinya dibelas atas segala kezaliman yang menimpanya.

Kesembilan, jika seseorang disakiti karena apa yang ia lakukan untuk Allah atau karena melakukan ketaatan kepada Allah dan menjauhi aoa yang Allah larang, maka wajib baginya untuk bersabar. Ia tidak berhak membalas apa yang menimpanya itu. Sebab ia disakiti karena Allah, sehingga balasan untuknya ada pada Allah.

Karena itu, orang-orang yang berjihad di jalan Allah—sampai jiwa dan harta mereka binasa karena Allah—tidak bisa menuntu ganti rugi. Sebab, Allah telah membeli dari mereka jiwa-jiwa dan harta-harta mereka. Maka, gantinya ada pada Allah. Bukan pada makhluk, sehingga siapa saja yang menuntut ganti pada mereka berarti Allah tidak akan memberinya pahala nanti. Dan siapa saja yang rugi karena Allah, maka Allah-lah yang akan mengganti kerugian itu.

Sebaliknya, siapa saja yang disakiti karena bermaksiat, maka hendaknya ia cela dirinya sendiri. Dengan itu, ia akan sibuk dengan dirinya ketimbang mencela orang yang menyakiti dirinya.

Dan siapa saja yang disakiti karena mengambil haknya, maka hendaklah ia mengokohkan dirinya di atas kesabaran. Sebab usahanya untuk mendapatkan hak-haknya itu adalah sesuatu yang lebih pahit daripada kesabaran.

Jadi, siapa saja yang tidak bisa bersabar dengan terik matahari, hujan, salju, beratnya perjalanan, dan [ancaman] perampok jalanan, maka tidaklah usah ia berdagang. Inilah perkara yang diketahui bersama di tengah-tengah manusia bahwa siapa yang jujur dalam mencari sesuatu, maka ia akan bersabar dalam meraihnya sesuai kadar kejujuran dalam mencarinya.

Kesepuluh, hendaknya ia menyadari kebersamaan Allah dengannya apabila ia bersabar dan cinta Allah untuknya apabila ia bersabar. Demikian pula ridho Allah untuknya. Siapa saja yang Allah bersamanya, akan dilindungi dari berbagai macam gangguan dan bahaya yang tidak bisa itu dilakukan oleh seorang pun dari makhlukNya. Allah ta’ala berfirman,

وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (QS. Al Anfal: 46)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali Imran: 46)

Kesebelas, hendaknya ia menyadari bahwa sabar adalah setengah keimanan. Karena itu, janganlah dirinya mengeluarkan sebagian keimanannya hanya karena membela dirinya. Sebaliknya, jika ia bersabar, maka imannya akan terjaga, terlindungi dari kekurangan, dan Allah akan membela orang-orang yang beriman.

Keduabelas, hendaknya ia menyadari bahwa kesabarannya adalah ketetapannya atas dirinya sendiri—memaksa dirinya dan mengalahkan jiwanya, sehingga ketika dirinya bisa dikalahkan dan ditaklukkannya, maka ia tidak bisa diperbudak oleh jiwanya, tidak bisa ditawan,  dan tidak dilemparkan ke dalam berbagai kebinasaan.

Dan ketika ia menuruti jiwanya, mendengarkan jiwanya, dan terkekang oleh jiwanya, ia akan terus seperti itu sampai jiwanya membinasakannya, kecuali jika Allah merahmatinya. Karena itu, seandainya tidak ada sesuatu pada kesabarannya, kecuali dengan mengalahkan jiwanya dan setannya, maka pada saat itu tampak kekuasaan hatinya dan kekokohan tentara hatinya. Ia akan bahagia, kuat, dan mengusir musuh-musuhnya.

ketigabelas, hendaknya ia mengetahui bahwa jika ia bersabar, maka Allah menjadi penolongnya. Dan itu pasti. Sebab Allah adalah penolong orang-orang yang bersabar dan orang-orang yang menzaliminya dikembalikan kepada Allah.

Siapa saja yang membela dirinya, Allah kembalikan kepada diri orang itu sendiri, sehingga ia sendiri yang jadi penolongnya. Karena itu, mana [yang lebih baik]: Allah yang sebaik-baik penolong atau orang yang menolong dirinya sendiri yang selemah-lemah penolong?

Keempatbelas, kesabaran seseorang terhadap orang yang menyakitinya dan sikap menanggung semua itu akan menuntut orang yang menyakitinya itu menyadari kezalimannya, menyesalinya, meminta maaf kepadanya, dan orang-orang akan mencela orang yang zalim itu. Ia pun—setelah menyakiti—akan malu dan menyesal atas apa yang telah ia perbuat. Bahkan, ia akan menjadi pembelanya. Dan inilah makna dari firman Allah ta’ala,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tolaklah keburukan dengan apa yang lebih baik, sehingga orang yang tadinya memusuhimu akan menjadi teman yang setia. Dan itu tidaklah terjadi kecuali pada orang-orang yang bersabar serta tidak ada yang bisa melakukannya, kecuali orang yang memiliki karunia yang sangat besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Kelimabelas, terkadang membalas dan melawan [orang yang zalim] menjadi sebab bertambahnya kejahatan musuhnya itu, kekerasan diri musuhnya, dan pikiran tentang macam-macam gangguan yang akan dilakukan musuhnya lagi, sebagaimana ini telah disaksikan. Maka, jika seorang hamba bersabar dan memaafkan, ia akan selamat dari semua bahaya itu.

Dan orang yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih berbahaya untuk menolak satu bahaya yang lebih kecil. Berapa banyak orang yang membalas kezaliman dan melawannya, mendapatkan keadaan yang lebih sulit untuk diatasi oleh dirinya. Berapa banyak yang telah hilang dari jiwa, jabatan, dan harta-benda [karena ia membalas dan melawan]. Jika orang yang dizaliminya itu memaafkan, maka semua itu tidak akan hilang.

Keenambelas, siapa saja yang biasa membalas kezaliman dan tidak bersabar, niscaya akan terjatuh ke dalam kezaliman. Sebab jiwa tidak bisa berdiri di atas batasan adil yang wajib. Tidak secara ilmu dan tidak pula secara hasrat.

Terkadang, ia tidak kuat untuk berdiri di atas batasan al haq. Sebab kemarahan akan membuat orang yang marah itu tidak bisa berpikir tentang apa yang ia katakan dan ia kerjakan. Maka, ketika ia dizalimi dan sedang menunggu pertolongan dan kemuliaan, ia pun berubah menjadi orang yang zalim yang menunggu kemurkaan dan hukuman.

Ketujuhbelas, kezaliman yang menimpa orang yang dizalimi itu adalah sebab untuk menggugurkan dosanya atau mengangkat derajatnya, sehingga—jika ia membalas dan tidak bersabar—itu tidak membuat dosanya berguguran dan tidak pula mengangkat derajatnya.

Kedelapanbelas, maaf dan sabar adalah pasukan seorang hamba yang paling besar atas orang yang menzaliminya. Sebab, siapa saja yang bersabar dan memaafkan, maka sabar dan maafnya itu membuat orang yang menzaliminya terhina, merasa takut dan kecil di hadapannya dan di hadapan manusia—karena manusia tidak akan diam terhadap orang yang menzaliminya, meskipun orang yang dizalimi itu diam.

Akan tetapi, jika ia membalas kezaliman, akan hilang itu semua. Karenanya, engkau dapati kebanyakan orang apabila ia dihina atau diganggu ia ingin membalas. Apabila ia lakukan itu, ia akan tenang dan lepas beban yang ada padanya.

Kesembilanbelas, jika seorang hamba memaafkan orang yang zalim kepadanya, maka orang yang zalim itu akan merasa bahwa hamba tersebut lebih tinggi darinya dan lebih beruntung darinya. Orang yang akan terus dirinya lebih rendah dan cukuplah ini sebagai keutamaan dan kemuliaan untuk memaafkan.

Keduapuluh, jika seorang hamba memaafkan dan berlapang dada, maka ini adalah kebaikan. Kebaikan pun akan melahirkan kebaikan yang lain. Kebaikan yang lain itu akan melahirkan kebaikan lagi. Demikian seterusnya.

Karena itu, kebaikan-kebaikan orang yang dimaksud akan terus bertambah. Sebab balasan kebaikan adalah kebaikan pula, sebagaimana akibat keburukan adalah keburukan berikutnya. Dan terkadang sikap maafnya itu menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan yang abadi. Jika ia membalas kezaliman dan membela diri, akan hilang semua itu.

Sumber: Ibnu Taimiyah. Qa’idatun fi Ash Shabri. TTp: Darul Qasim. Tth, halaman 2-10.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Rabu,20 April 2016/12 Rajab 1437H

Print Friendly