Lagi, Seseorang Itu disebut MUBTADI’ Kalau…

Syaikh Ali bin Muhammad bin Nashir Al Faqihi hafizhahullahu ta’ala juga mengatakan:

Mubtadi’ adalah orang yang mengada-adakan bid’ah, mendakwahkannya, mencintai dan memusuhi karenanya. Kadang-kadang, bid’ah membuat kafir pelakunya. Kadang-kadang juga, tidak membuat kafir pelakunya.

Adapun hukum terhadap orang yang telah dipastikan keislamannya dengan kefasikan, kebidahan, atau kekafiran, termasuk dari perkara-perkara yang diperingatkan oleh Allah dan rasulNya. Telah shahih datangnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau,

مَنْ قَالَ لِأَخٍيْهِ : يَا كَفِرُ ، إِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِك ، وَ إِلاَّ رَجَعَت عَلَيْهِ

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai, Kafir’, jika tidak benar seperti itu, akan kembali kepadanya.” [HR. Muslim, “Kitab Al Iman” (1/79), hadits no. 111]

Karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan,

“Tidak boleh seseorang mengafirkan seorang pun dari kalangan kaum muslimin, meskipun ia salah dan keliru, sampai disampaikan kepadanya hujjah dan terang baginya apa yang menjadi hujjah itu. Siapa yang diyakini benar keislamannya, ia akan selalu seperti status Islamnya itu, kecuali setelah disampaikan hujjah dan dihilangkan syubhatnya.” [Majmu’ Al Fatawa (12/466)]

Adapun yang telah keluar dari petunjuk dan agama yang benar, lalu engkau lihat ia mengerjakan amalan-amalan yang menyelisihi syariat, maka berlaku untuknya hukum yang lain sesuai apa yang ia kerjakan dari penyelisihan-penyelisihan itu. Bisa kafir secara jelas atau munafik.

RUJUKAN: Ali bin Muhammad bin Nashir Al Faqihi. Al Bid’ah: Dhawabithuha wa Atsaruha As Sayyi’ fil Ummah. Kairo: Darul Minhaj. 1423H/2002M, halaman 23-24.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Sabtu,28 Maret 2015/7 Jumadil Akhir 1436H

Print Friendly