Masturbasi atau Onani H A R A M ?

Pertanyaan:

Apa hukum masturbasi?

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullahu ta’ala menjawab:

Kita tidak ragu tentang haramnya praktek tersebut. Dan ini karena dua sebab. Sebab pertama, firman Allah ta’ala tentang ciri-ciri orang mukmin.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)

“Sungguh telah beruntung orang-orang mukmin itu. (Yaitu) mereka yang khusyuk dalam shalat-shalat mereka. Yang mereka itu berpaling dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Yang mereka itu menunaikan zakat-zakat mereka. Yang mereka menjaga kemaluan-kemaluan mereka. Kecuali, kepada istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Karena sesungguhnya mereka dalam hal ini tidaklah tercela. Maka, siapa saja yang mencari selain itu, maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mukminun: 1-7)

Imam Syafi’i menjadikan ayat ini sebagai dalil atas keharaman masturbasi.

Dan di dalam ayat itu juga Allah memberikan kepada orang-orang mukmin hak untuk melampiaskan syahwat mereka dengan dua jalan. Bisa dengan menikahi wanita-wanita merdeka dan bisa juga dengan mencampuri budak-budak dan sahaya-sahaya mereka.

Setelah itu, Allah berfirman,

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Maka, siapa saja yang mencari selain itu, maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mukminun: 7)

Maksudnya, siapa saja yang mencari jalan lain untuk melampiaskan syahwatnya di luar dua jalan tadi [menikah dan mengambil budak], maka ia adalah orang yang melampaui batas lagi lalim.

Sebab kedua, telah pasti secara medis bahwa masturbasi menimbulkan efek yang buruk. Juga, di dalam kebiasaan itu, terdapat bahaya bagi kesehatan. Apalagi, jika itu dilakukan setiap pagi dan petang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَضَرَرَ وَلاَضِرَارَ

“Jangan membahayakan dan jangan melakukan hal yang berbahaya”

Karena itu, tidak boleh bagi seorang muslim melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Dan di sini ada sesuatu yang harus disebutkan juga. Mereka yang selalu melakukan kebiasaan masturbasi telah terkena firman Allah ta’ala yang berbunyi,

أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

“Apakah kalian tukar sesuatu yang baik dengan sesuatu yang rendah?” (QS. Al Baqarah: 61)

Sungguh, telah datang dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ من اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنه أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لم يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فإنه له وِجَاءٌ

“Wahai segenap pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu menikah, hendaknya ia menikah. Sebab itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa yang tidak mampu, maka hendaklah shaum. Sebab itu dapat meredakan.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Sumber:  ‘Amr Abdul Mun’im Salim (Ed). Al Masa-il Al ‘Ilmiyyah wal Fatawa Asy Syar’iyyah: Fatawa Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani fil Madinah wal Imarat. Mesir: Dar Adh Dhiya’. 1427H/2006M, halaman 183-185.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Minggu,13 September 2015/29 Dzulkaidah 1436H

Print Friendly