Peristiwa-Peristiwa Penting yang Terjadi pada Tahun Ketujuh Hijriah

Dalam kitab Amali fi As Sirah An Nabawiyyah, Al Hafizh Ibnu Ahmad Al Hakami rahimahullah menulis,

Pertanyaan:

Apa saja perang yang terjadi di tahun ketujuh hijriah?

Jawaban:

Di tahun ini, terjadi:

[1] Perang Dzi Qarad—berdasarkan [riwayat] Shahih Al Bukhari—dan ini terjadi di awal tahun ini.

[2] Kemudian, tiga hari setelah itu, Perang Khaibar sebagaimana Salamah bin Al Akwa’ menerangkannya dan tidak ada yang tertinggal dari yang membaiat Rasulullah dalam Baiat Ridhwan kecuali Jabir bin Abdillah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan untuknya bagian dari ghanimah Khaibar. Benteng-bentengnya ditaklukan, harta-harta penduduk Khaibar dijadikan ghanimah. Beliau membagi setengahnya untuk pasukan perang dan setengahnya lagi untuk yang tinggal di Madinah—beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kepada yang tidak ikut Perang Khaibar seizin orang-orang yang ikut perang itu. Beliau kemudian mempekerjakan penduduk Khaibar dengan setengah dari hasil kebun Khaibar. Di perang ini, daging-daging keledai jinak diharamkan dan diharamkan juga nikah mut’ah—ada yang mengatakan setelah itu. Di perang ini, terjadi kisah daging domba yang beracun dan bicaranya daging tersebut. Di perang ini, Ja’far bin Abi Thalib tiba bersama kaum muhajirin Habasyah. Ikut bersama mereka utusan kaum Asy’ari. Di perang ini, Abu Hurairah masuk Islam. Ketika pulang dari Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai rumah tangga beliau dengan Shafiyyah radhiyallahu ‘anha dan mengepung penduduk Wadil Qura. Beliau pun menaklukkan mereka dan mempekerjakan mereka seperti penduduk Khaibar. Beliau kemudian mendapatkan fayu dari wilayah Fadak—beliau tidak menjatahkannya untuk pasukan yang berjalan kaki dan yang mengendarai tunggangan.

***

Pertanyaan:

Apa saja pasukan yang diutus di tahun ini?

Jawaban:

Di tahun ini, [diutus:]

[1] Pasukan Abu Bakar Ash Shiddiq ke Fazarah

[2] Pasukan Umar bin Al Khaththab ke Hawazin

[3] Pasukan Abdullah bin Rawahah ke Yusair bin Razam dan yang bersamanya, maka beliau radhiyallahu ‘anhu pun membunuh mereka

[4] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Usamah bin Zaid ke daerah-daerah di sekitar Juhainah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencelanya habis-habisan karena membunuh orang yang mengucapkan syahadat

[5] Pasukan Abul Hadrad ke Al Ghabah

[6] Pasukan yang pemimpinnya memerintahkan bawahan-bawahannya untuk masuk ke dalam api untuk menguji ketaatan mereka dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَطَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam memaksiati Allah” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

[7] Satu pasukan ke Bani Sulaim

[8] Di tahun ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Umrah Qadha’ di bulan Dzulqa’dah seperti yang telah disepakati dan dalam perjalanan pulangnya beliau memulai rumah tangga beliau dengan Maimunah—mereka berdua telah selesai ihram

[9] Di tahun ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan putri beliau, Zainab, kepada Abul Ash bin Ar Rabi’—yang waktu itu telah masuk Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikannya ke akad yang pertama berdasarkan pendapat yang shahih.

Rujukan: Al Hafiz Ibnu Ahmad Al Hakami. Amali fi As Sirah An Nabawiyyah. TTp: TPn. TTh, halaman 49-52.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat,15 Juli 2016/9 Syawal 1437H

Print Friendly