Perjalanan Hijrah Rasulullah dan Abu Bakar Ash Shiddiq Menuju Yatsrib atau Madinah

Dalam Al Fushul fi Sirah Ar Ar Rasul, setelah menceritakan tentang turunnya izin kepada kaum muslimin untuk hijrah ke negeri tempat orang-orang Aus dan Khazraj berada serta berduyun-duyunnya para sahabat Rasulullah pergi ke sana, Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala mengatakan,

Tidak tersisa di Mekkah dari kalangan kaum muslimin, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Ali radhiyallahu ‘anhuma. Dua sahabat ini tinggal sesuai perintah Rasulullah kepada mereka. Selain mereka, hanya tersisa sahabat yang tertahan oleh orang-orang musyrik Quraisy.

Abu Bakar menyiapkan bekalnya dan bekal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menunggu sampai Allah ‘azza wa jalla mengizinkan rasulNya berhijrah. Karena itu, pada suatu malam, orang-orang musyrik bertekad untuk menyerang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka menjaga pintu. Jika Rasulullah keluar, akan mereka bunuh.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati mereka, tidak seorang pun dari mereka yang melihat beliau. Telah datang sebuah hadits bahwa Rasulullah menaburkan debu ke atas masing-masing kepala mereka. Setelah itu, beliau pergi ke rumah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Mereka menyelinap keluar melalui pintu kecil yang ada di rumah Abu Bakar pada malam hari. Abu Bakar [sendiri] telah menyewa Abdullah bin Uraiqith. Orang ini adalah seorang penunjuk jalan dan pandai mencari jalan pintas. Ia ahli dalam mencari jejak menuju Madinah.

Rasulullah dan Abu Bakar memercayainya untuk tugas tersebut. Bersamaan dengan itu, Abdullah bin Uraiqith masih memeluk agama kaumnya. Rasulullah dan Abu Bakar pun menyerahkan kepadanya tunggangan-tunggangan mereka dan berjanji menemuinya di Gua Tsur setelah tiga hari kemudian.

Ketika Rasulullah dan Abu Bakar tiba di gua, Allah butakan orang-orang Quraisy dari kabar mereka berdua. Karena itu, orang-orang Quraisy tidak tahu ke mana mereka berdua pergi. Adalah Amir bin Fuhairah yang menggembalakan kambing untuk Abu Bakar, sedangkan Asma’ putri Abi Bakar membawakan untuk Rasulullah dan Abu Bakar bekal makanan menuju gua. Abdullah bin Abi Bakar mencari tahu kabar yang beredar di Mekkah. Lalu, ia pergi menemui Rasulullah dan Abu Bakar membawa kabar. Mereka berdua pun dapat lebih berwaspada.

Orang-orang musyrik datang ke bukit Tsur dan sekitarnya mencari Rasulullah dan Abu Bakar. Sampai-sampai, mereka lewat di depan pintu gua dan kaki-kaki mereka dekat dengan Rasulullah dan Abu Bakar.

Namun, Allah butakan mereka dari pintu gua itu. Ada yang mengatakan, wallahu a’lam, sesungguhnya laba-laba bersarang di pintu gua dan dua ekor merpati betina bersarang di muka pintu. Itulah takwil atas firman Allah ta’ala,

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jika kalian tidak menolong Muhammad, maka sungguh Allah telah menolongnya. [Yaitu] ketika orang-orang kafir [musyrikin Mekkah] mengusirnya sedang ia salah satu dari dua orang. Ketika keduanya berada di dalam gua, di waktu ia berkata kepada temannya, ‘Jangan engkau sedih. Sesungguhnya Allah bersama kita’. Maka, Allah pun menurunkan ketenangan kepadanya dan menolongnya dengan tentara yang engkau tidak melihatnya. Al Qur-an menjadikan orang-orang kafir rendah dan kalimat Allah-lah yang tinggi. Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.” (QS. At Taubah: 40)

Dan yang demikian adalah ketika Abu Bakar, karena semangatnya yang kuat, menangis pada waktu lewat orang-orang musyrikin. Beliau mengatakan, “Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang mereka melihat ke arah kaki-kaki mereka, niscaya akan melihat kita.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu tentang dua orang yang ketiganya adalah Allah?”.

Ketika berselang tiga hari, datang kepada mereka Abdullah bin Uraiqith dengan dua hewan tunggangan. Mereka pun segera mengendarainya. Abu Bakar membonceng Amir bin Fuhairah, sedangkan Abdullah bin Uraiqith Ad Dili mengendarai tunggangannya di depan Abu Bakar dan Rasulullah.

Orang-orang Quraisy menetapkan bahwa siapa saja yang datang membawa salah satu dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, baginya seratus ekor unta.

Ketika Rasulullah dan Abu Bakar melewati kampung Bani Mudlij, Suraqah bin Malik bin Ju’syum—pemuka Mudlij—melihat mereka. Ia pun segera menunggangi kuda pacunya dan mengejar mereka.

Ketika sudah dekat dengan mereka, ia mendengar bacaan Al Qur-an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkali-kali menoleh ke Suraqah—kuatir akan keselamatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak menoleh. Maka, berkatalah Abu Bakar, “Wahai Rasulullah, itu Suraqah bin Malik hampir menyusul kita.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendoakan keburukan atas Suraqah. Dan terjerembablah kaki depan kuda Suraqah. “Aku tahu, yang membuatku seperti ini adalah akibat doa kalian berdua. Maka, berdoalah kalian untukku. Bagi kalian, aku akan membantah tentang keberadaan kalian berdua,” kata Suraqah bin Malik.

Maka, Rasulullah mendoakan kebaikan untuk Suraqah. Kepada Rasulullah, Suraqah meminta dibuatkan surat jaminan. Abu Bakar pun menuliskan untuknya di atas lembaran kulit. Suraqah pulang menemui kaumnya dan mengatakan, “Sudah cukup sampai sini.”

Dan kelak Suraqah datang pada musim Haji Wada’ sebagai seorang muslim. Ia ajukan surat jaminan yang dituliskan untuknya itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menepati apa yang telah dijanjikan kepada Suraqah. Dan ia pantas untuk mendapatkannya.

Dalam perjalanan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati kemah Ummu Ma’bad. Rasulullah berbincang dengannya. Ummu Ma’bad pun melihat tanda-tanda kenabian pada seekor kambing. Kambing yang dimaksud mengeluarkan susu yang banyak di saat musim paceklik itu yang ini sesuatu di luar akal manusia.

Sumber: Abul Fida’ Ismail bin Umar Ibnu Katsir Al Qurasyi. Al Fushul fi Sirah Ar Rasul: Juz I (Cet. III). Kuwait: Ghuras. 1430 H/2009 M, halaman 75-78.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Selasa,17 November 2015/4 Safar 1437H

Print Friendly