Seseorang Disebut sebagai MUBTADI’ Kalau…

Pertanyaan:

Kapan seseorang disebut mubtadi’?

Syaikh Muhammad Ali Firkus Abu Abdul Mu’iz hafizhahullahu ta’ala menjawab:

 

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمّا بعد:

Ketahuilah, bid’ah itu tidak terjadi pada adat, karena adat mengikuti kebiasaan. Dan adat, meskipun disebut dengan bid’ah secara bahasa, namun tidak disebut bid’ah secara syar’i. Adapun yang datang dalil-dalil tentang pengingkaran dan peringatan terhadapnya, maka itulah bid’ah di dalam agama. Yaitu, beribadah kepada Allah dengan apa-apa yang tidak disyariatkan oleh Allah. Tidak juga datang tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khulafa’ ar rasyidin, karena firman Allah ta’ala,

 

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka agama yang itu tidak ditetapkan oleh Allah?” (QS. Asy Syura: 21)

 

Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Maka, hendaklah kalian pegang sunnah-ku dan sunnah khulafa’ rasyidin yang diberi petunjuk. Pegang-teguhlah itu dan gigitlah dengan gigi geraham.”

Tidak boleh menganggap mubtadi’ setiap orang—atau bermudah-mudahan dalam memutlakkan sebutan bid’ah kepada orang—yang jatuh ke dalam sebagian penyelisihan. Siapa yang mengerjakan keharaman atau terjatuh ke dalam maksiat disebut [sebagai] orang yang bermaksiat dan tidak setiap bermaksiat atau orang yang salah disebut mubtadi’.

 

Para salaf, mereka, hanya menyebut mubtadi’ kepada orang yang mengerjakan perbuatan mendekatkan diri kepada Allah tanpa ilmu dan hujjah, karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada contohnya, maka amalannya tertolak.”

Dalam riwayat lain,

 

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengerjakan amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalannya itu tertolak.”

Karena itu, sesungguhnya, siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam agama yang tidak ada dalil syar’i, maka ia adalah pelaku bid’ah.

Yang wajib adalah menyampaikan hujjah, menghilangkan segala yang terkait dengan bid’ah-nya—berupa syubhatsyubhat—dan menasehatinya sampai kembali dari apa yang ia lakukan. Jika enggan rujuk atau tidak mau menerima nasehat, maka pada dasarnya, ia adalah mubtadi’. Jika bid’ah-nya membuatnya kafir, maka ia dinasehati dengan cara yang lebih baik tanpa dicela apa yang ia yakini, karena Allah ta’ala berfirman,

 

وَلاَ تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kalian mencaci sesembahan yang mereka seru selain Allah, sehingga mereka pun mencaci Allah dengan permusuhan tanpa ilmu.” (QS. Al An’am: 108)

Jika tampak padanya kezaliman, sikap keras kepala dan sikap sombong, maka wajib menjelaskan kebatilannya tanpa mendebatnya. Lalu, wajib meng-hajr-nya, meskipun ia adalah orang fasik, karena sabda Rasulullah,

 

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk meng-hajr saudaranya lebih dari tiga hari.”

Selama ada mashlahat dalam meng-hajr-nya yang memberinya pelajaran agar rujuk dari kefasikannya, itu seperti obat untuk penyakit bid’ah-nya. Adapun jika bertambah maksiatnya dengan di-hajr itu dan makin sombong ia, terlebih lagi ketika kekuatan ahlul bid’ah jadi bertambah karenanya, sehingga ia makin condong kepada mereka dan kecil harapannya untuk kembali kepada al haq, maka tidak ada maslahat dalam meng-hajr-nya. Mashlahat justru dengan meninggalkan hajr kepadanya.

 

Dan ilmu tentang itu hanya di sisi Allah. Akhir ucapan ucapan kami adalah alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.

 

Aljazair, 12 Rajab 1426H, bertepatan dengan 26 Agustus 2005M

RUJUKAN: diakses pada tanggal 9 Maret 2015.

 

 

Khalifah yang empat: Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Al Khaththab, Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum. Ada juga ulama yang menambahkannya dengan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu [penerj.]

Diriwayatkan oleh Abu Dawud nomor 4607, At Tirmidzi nomor 2676, Ibnu Majah nomor 42 dari hadits Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anu. Disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ nomor 2549 dan As Silsilah Ash Shahihah nomor 937.

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam “Kitab As Sulhi” nomor 2697 dan Muslim dalam “Kitab Al Aqdhiyyah” nomor 1718 dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan Muslim dalam “Kitab Al Aqdhiyyah” nomor 1718 dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anhu.

Mengucilkannya [penerj.]

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam “Kitab Al Adab” nomor 6065 dan Muslim dalam “Kitab Al Birr wa Ash Shilah wa Al Adab” nomor 2558 dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Rabu,25 Maret 2015/4 Jumadil Akhir 1436H

Print Friendly