SYIRIK DAN BID’AH ADALAH BIASA DALAM SYIAH

Cucu Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, pernah mengatakan dalam salah satu fatwa beliau,

Adapun penjulukan Syiah atas diri-diri mereka sebagai kaum Imamiyah, maka julukan itu tidaklah tepat untuk mereka. Namun yang tepat untuk mereka adalah Rafidhah [kelompok yang menolak], karena mereka menolak al haq dan menyelisihi pengikut al haq. Keumuman yang ada pada Rafidhah adalah melampaui batas terhadap ahlu bait, membangun masjid-masjid di atas kuburan, dan menyembah kuburan—selain mereka pun menyembah Allah ta’ala.

Sikap melampaui batas adalah dasar kesyirikan. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِيَّكُمْ وَ الْغُلُوّ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ

“Hati-hati kalian dari sikap melampaui batas. Sebab sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena melampaui batas.” [HR. An Nasa-i dalam Sunan An Nasa-i (3059) dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma]

Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَعنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُود وَالنَّصَارَى ، إِتَّخَذُواْ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِد

“Laknat Allah kepada Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah.” [HR. Al Bukhari nomor 435 & 436]

Dan Allah ta’ala telah melarang di banyak tempat di kitabNya untuk menyekutukanNya dalam beribadah, sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً

“Dan bahwasanya masjid-masjid itu hanya untuk Allah. Maka, janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. “ (QS. Al Jin: 18)

Allah ta’ala juga berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَداً  . قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلَا رَشَداً . قُلْ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَداً . إِلَّا بَلَاغاً مِّنَ اللَّهِ وَرِسَالَاتِهِ

“Katakan, [wahai Muhammad,] ‘Sesungguhnya aku hanya menyembah Rabbku dan aku tidak menyekutukan apapun denganNya’. Katakan, [wahai Muhammad,] ‘Sesungguhnya aku tidak mampu untuk datangkan satu mudharat pun kepada kalian dan tidak juga satu manfaat’. Katakan, [wahai Muhammad,] ‘Sesungguhnya aku, sekali-kali tidak seorang pun dapat melindungiku dari [azab] Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung dari selainNya. Namun, hanya penyampai [peringatan]  dari Allah dan risalahNya’.” (QS. Al Jin: 20-23)

Karena itu, jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak mampu mendatangkan mudharat dan manfaat kepada siapa pun, maka bagaimana pula ada orang lain yang diyakini bisa mendatangkan mudharat dan manfaat serta menujukan apa-apa yang dilarang oleh Allah dari itu ibadah-ibadah yang tidak pernah Allah berikan ke seorang pun hak untuk itu? [Ini,] sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan,

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kalian menyembah apa-apa yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak [pula] memberi mudharat kepada kalian—selain Allah. Sebab jika kalian berbuat yang seperti itu, maka sesungguhnya kalian—kalau begitu—termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus: 106)

Dan Allah ta’ala berfirman,

فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ

“Maka, janganlah engkau menyembah sesuatu selain Allah, sehingga engkau pun termasuk orang-orang yang diazab.” (QS. Asy Syu’ara’: 213)

Juga firman Allah ta’ala,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَومِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tidak dapat mengabulkan doanya hingga hari kiamat nanti dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka?”. (QS. Al Ahqaf: 5)

Dan firmanNya,

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan siapa saja yang menyembah Rabb lain selain Allah, sedangkan tidak ada suatu dalil pun baginya tentang hal itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya, orang-orang kafir itu tidaklah beruntung.” (QS. Al Mu’minun: 117)

Dan ayat-ayat tentang larangan mengibadahi sesembahan selain Allah dan ancaman akan hal itu sangat banyak dan tidak terhitung.

Jadi, Rafidhah seperti orang-orang selain mereka meninggalkan apa-apa yang diterangkan Al Qur-an tentang larangan beribadah kepada selain Allah. Rafidhah mengerjakan apa-apa yang telah Allah larang dan meyakini syirik besar ini sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling mulia, sehingga mereka pun menundukkan diri di sisi penghuni kuburan-kuburan itu dan mengagungkan mereka dengan pengagungan yang belum pernah ada misal sebelumnya. Rafidhah mengorbankan harta-harta berharga mereka untuk para penghuni kuburan itu, mewakafkan harta-benda sebagai bentuk mendekatkan diri kepada mereka, mempersembahkan hewan-hewan kurban untuk penghuni kuburan, menyembelih hewan-hewan sembelihan untuk penghuni kuburan, memuliakan penjaga kuburan sebagai penghormatan kepada penghuni kuburan, memberi para penjaga kuburan harta-harta sebagai bentuk mendekatkan diri kepada penghuni kuburan, berhaji ke kuburan-kuburan itu (mereka menamai perjalanan untuk beribadah di kuburan-kuburan tersebut sebagai haji) dan seterusnya dari kesyirikan nyata yang tidak diampuni oleh Allah—yang akan panjang penyebutannya.

Bersamaan dengan itu semua, Rafidhah melakukan penyelewengan terkait nama-nama dan sifat-sifat Allah. Mereka sama dengan Jahmiyah dan yang semisalnya. Mereka menyelisihi ahlus sunnah dalam banyak sunnah.

Ibnu Al Muthahhir menyusun kitab untuk membela kelompok Rafidhah. Ia menyebutkan banyak kesyirikan dan kesesatan mereka. Akan tetapi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membantahnya melalui kitab Minhaj As Sunnah dalam jilid-jilid besar, sehingga jadilah kitab itu ilmu bagi orang-orang yang bertauhid dan hujatan terhadap orang-orang yang menyimpang dari kelompok-kelompok bid’ah. Karena itu, mudah-mudahan Allah merahmati Syaikhul Islam. Sebab, sungguh, bantahan beliau itu betul-betul telah mencukupkan ahlus sunnah dari membantah seluruh pengikut kebidahan.

Jadi, kelompok Rafidhah tersebut—meski dalam persangkaan mereka terbagi menjadi dua belas kelompok—kesyirikan dan kebidahan adalah keumuman mereka. Walaupun sebagian mereka menganggap di tengah mereka ada satu kelompok yang hanya melakukan kebidahan dalam masalah lebih mengagungkan Ali bin Abi Thalib daripada kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum, saya meyakini bahwa semua kelompok Rafidhah tidak selamat dari kesyirikan dan kebidahan-kebidahan.

Sumber: “Fatawa lisy Syaikh Abdurrahman bin Hasan”, dalam Abdul Ilah bin Utsman Asy Syayi’ (Ed). Mulakhkhash Minhaj As Sunnah li Abil ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala: Talkhish Asy Syaikh Al ‘Allamah Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahhab. Riyadh: Maktabah Ar Rasyid. 1423H/2002M, halaman 149-153.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis,29 Oktober 2015/15 Muharram 1437H

Print Friendly