Tanda-Tanda Kebahagiaan dan Tanda-Tanda Kesengsaraan pada Seorang Muslim

Tentang tanda-tanda kebahagiaan dan tanda-tanda kesengsaraan pada diri seorang muslim, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullahu ta’ala mengatakan,

Termasuk tanda-tanda kebahagiaan dan keberhasilan adalah ketika seorang hamba bertambah ilmunya bertambah pula tawadhu‘ dan kasih-sayangnya, ketika ia bertambah amalnya bertambah pula rasa takutnya kepada Allah dan kehati-hatiannya, ketika ia bertambah umurnya berkurang pula rakusnya [kepada dunia], ketika ia bertambah hartanya bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya, dan ketika ia bertambah kekuasaan dan kedudukannya bertambah pula kedekatannya dengan manusia dan kesediaannya menolong orang-orang serta tawadhu‘-nya kepada mereka.

Termasuk tanda-tanda kesengsaraan adalah ketika seseorang bertambah ilmunya bertambah pula ketakaburan dan kesombongannya; ketika ia bertambah amalnya bertambah pula keangkuhannya, sikap meremehkan manusia dan selalu menganggap baik dirinya; ketika ia bertambah umurnya bertambah pula ketamakannya [kepada dunia]; ketika ia bertambah hartanya bertambah pula kerakusan dan keengganannya untuk berbagi harta; dan ketika ia bertambah kekuasaan dan kedudukannya bertambah pula ketakaburan dan kesombongannya.

Itulah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan semua itu Allah uji hamba-hambaNya, sehingga sejumlah orang berbahagia dengannya dan sebagian lain merana karenanya. Demikian pula kemuliaan-kemuliaan yang menjadi cobaan dan ujian, seperti kekuasaan, kerajaan, dan harta-benda. Tentang nabiNya, Sulaiman ‘alaihis salam, ketika beliau melihat singgasana Ratu Balqis di istana beliau, Allah ta’ala berfirman,

ُهَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُر

“Ini [semua] keutamaan dari Rabbku untuk mengujiku, ‘Apakah aku bersyukur ataukah aku kufur?’.” (QS. An Naml: 40)

Karena itu, kenikmatan-kenikmatan adalah cobaan dan ujian dari Allah. Terlihat dengannya syukur orang yang bersyukur dan kekufuran orang yang kufur, sebagaimana ujian-ujian adalah musibah-musibah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah yang menguji dengan berbagai kenikmatan, sebagaimana menguji dengan berbagai musibah. Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْأِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلا

“Adapun manusia, jika Rabbnya mengujinya dengan memuliakan dan memberinya kenikmatan, maka ia akan mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Adapun jika mengujinya dengan menyempitkan rejekinya, maka ia mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali tidak.” (QS. Al Fajr: 15-17)

Maksudnya, tidak setiap yang Aku lapangkan rejekinya, Aku muliakan, dan Aku beri kenikmatan itu adalah bentuk pemuliaan dariKu untuknya. Dan juga tidak setiap yang Aku sempitkan rejekinya dan Aku coba ia itu adalah bentuk penghinaan dariKu.

Sumber: Muhammad Aziz Syams (Ed). Al Fawa-id lil Imam Abi Abdillah Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub Ibnu Qayyim Al Jauziyyah (691 – 751 H). Mekkah: Dar ‘Alim Al Fawa-id. 1429 H, halaman 227-228.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 5 November 2015/22 Muharram 1437H

Print Friendly