Tidak Sembarangan Orang Bisa Memberikan TAHDZIR

Pertanyaan:

Apakah membicarakan orang-orang hizbi atau mengeluarkan tahdzir terhadap mereka terhitung haram? Apakah ini termasuk perkara yang khusus bagi ulama, bukan untuk para penuntut ilmu—meskipun telah jelas al haq bagi penuntut ilmu tersebut tentang orang yang dimaksud?

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullahu ta’ala menjawab:

Seharusnyalah seseorang itu bertanya kepada para ulama tentang perkara tersebut. Akan tetapi, SESEORANG YANG MEMBUAT LARI DARI AS SUNNAH, AHLUS SUNNAH, DAN MAJELIS PARA ULAMA DI-TAHDZIR.

Perkara jarh dan ta’dil—seseorang harus mengetahui sebab-sebab keduanya. Ia haruslah bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada apa yang ia ucapkan. Sebab, pada asalnya, harga diri seorang muslim itu mulia, sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sebab, sesungguhnya, darah-darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan-kehormatan kalian haram atas kalian, seperti haramnya hari kalian ini, haramnya bulan kalian ini, dan haramnya negeri kalian ini.”

Akan tetapi, AHLUL BID’AH TIDAK MENGAPA UNTUK DI-TAHDZIR OLEH PARA PENUNTUT ILMU DALAM BATAS-BATAS YANG BETUL-BETUL DIILMUINYA DENGAN KEADILAN.

وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُواْ

“Dan jika kalian berkata, maka berlaku adillah.” (QS. Al An’am: 162)

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian berlaku tidak adil. Berlaku adillah, sebab adil itu lebih dekat kepada ketakwaan.” (QS. Al Ma-idah: 8)

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat baik.” (QS. An Nahl: 90)

 

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu untuk menyampaikan al haq, walaupun itu pahit.

Bahkan, Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam kitabNya yang mulia,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاء لِلّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ إِن يَكُنْ غَنِيّاً أَوْ فَقَيراً فَاللّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُواْ الْهَوَى أَن تَعْدِلُواْ وَإِن تَلْوُواْ أَوْ تُعْرِضُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيراً

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun terhadap diri kalian sendiri, ibu, ayah dan kerabat-kerabat kalian. Jika ia (orang yang terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Karena itu, janganlah kalian ikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar-balikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah, Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS An Nisa’: 135)

Karena itu, haruslah adil dalam berbicara tentang orang-orang hizbi. Bukan maksud saya, engkau lihat mubtadi’, lalu engkau sibukkan kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahannya. Sebab, mubtadi’ tidak memiliki hak untuk engkau sebutkan kebaikan-kebaikannya. Dan kita sendiri tidak ada waktu untuk menyebutkan kebaikan-kebaikannya.

Telah saya sebutkan sebelumnya bahwa orang-orang Jum’iyyah Al Hikmah dan Jum’iyyah Al Ihsan sejalan dengan Ikhwanul Muslimin. Dan Ikhwanul Muslimin sejalan dengan pemerintahan. Dua yayasan tersebut adalah pintu masuk menuju Ikhwanul Muslimin, karena seseorang yang pergi dan masuk bersama orang-orang dari yayasan itu dalam waktu singkat mereka lalu terlihat tidak memiliki ilmu dan amal. Maksud saya, gaya-gaya pergerakan di medan dakwah. Bukan maksudnya mereka tidak tidak shalat. Mereka pun pergi ke Ikhwanul Muslimin. Apalagi, jika materi yang didapat lebih besar bersama Ikhwanul Muslimin, iming-iming gaji ketentaraan, dan kantor-kantor lembaga.

RUJUKAN: Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i. Tuhfah Al Mujib ‘ala As-ilah Al Hadhir waAl Gharib (Cet. IV). Shan’a: Darul Atsar. 1426H/2005M, halaman 186-187.


Sebab dilakukan jarh dan sebab dilakukan ta’dil [penerj.]

Tentang siapa ahlul bid’ah dan mubtadi’ itu, bisa kembali membuka pembahasan di dan juga di yang telah kami unggah beberapa pekan yang lalu. Adapun pengertian tentang bid’ah, bisa membuka dan juga . Sebagai pelengkap, buka kembali [penerj]

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat,10 April 2015/20 Jumadil Akhir 1436H

Print Friendly