Tidak Usah Bingung Dengan Berbedanya Puasa Arafah, Idhul Adha,.. Mudah Saja,.Ikuti Saja Putusan Pemerintah

Puasa Arafah, Berbeda yang Dulu dan Kini

Puasa Arafah bisa berbeda fatwa dan pendalilannya yang dulu dan kini. Begini ceritanya. 

Di Tahun 2011

  1. Puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan pada saat jamaah Haji sedang melakukan wuquf di Arafah bukan pada hari lainnya, apalagi mengingat selisih waktu antara Arab Saudi dan Indonesia hanya ± 4 jam.
  2. Fatwa Tarjih Muhammadiyah tidak menyinggung tanggal 9 Dzulhijjah terkait Puasa Arafah, bahkan tidak ada kalimat yang bertuliskan “9 Dzulhijjah” sama sekali.
  3. Meminta agar Pemerintah dan ormas Islam menggunakan mathla Makkah dalam penentuan awal Hijriah atau Hari Raya.
  4. Tidak ada keharusan bagi Muhammadiyah untuk mengikuti mathla di negerinya masing-masing (seperti Indonesia).
  5. Semestinya mengikuti keputusan Mufti Kerajaan Arab Saudi, karena informasi pengumuman dari Makkah sudah bisa didapatkan dengan mudah, bahkan 1-2 hari sebelum wukuf sudah tersiarkan.

Sumber:

Di Tahun 2015

  1. Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah di wilayah Indonesia sesuai dengan hasil perhitungan metode hisab wujudul hilal.
  2. Puasa Arafah tidak harus bersamaan dengan jama’ah haji yang sedang berwuquf di Arafah.
  3. Tidak harus menggunakan mathla’ Makkah, sebagai contoh penduduk kota Sorong Papua yang berbeda waktu 6 jam dengan Makkah maka gunakan mathla’ Sorong, bukan mathla Makkah.
  4. Gunakan dan sesuaikan kalender Hijriah dengan mathla’ di negerinya masing-masing untuk penduduk di luar mathla Makkah seperti Sorong Papua Indonesia.
  5. Boleh berbeda dengan keputusan Mufti Arab Saudi karena kabar dari Makkah bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Sumber:

Berarti kalender tidak bisa diubah karena sudah baku. Kalau fatwa, argument dan dalil? Bisa disesuaikan dengan kondisi barangkali. Yang penting bisa pandai beralasan, mungkin.

 

Saudi Arabia Memakai Hisab, Namun …

Saudi Arabia juga pakai Kalender Hijriyah, namun tak sekaku itu, masih bisa dikoreksi dengan rukyatul hilal. Karena semestinya yang dijadikan standar adalah rukyatul hilal.

Perhatikan kata Prof. T. Djamaluddin, “TIDAK ADA model astronomis tentang wujudul hilal. Silakan cari di berbagai literatur astronomi, termasuk googling. Terminologi WH hanya ada di Muhammadiyah. Arab saudi menggunakan konsep serupa hanya untuk kepraktisan kalender sipil, bukan untuk penentuan waktu ibadah. TIDAK ADA di belahan dunia mana pun yang menggunakan konsep WH untuk penentuan waktu ibadah.” (Sumber: ). Baca juga: .

Kalau Saudi Arabia bisa mengoreksi kalender sipilnya yang memakai standar Wujudul Hilal dengan rukyatul hilal, beranikah Muhammadiyah mengoreksi seperti Saudi Arabia?

Yang wajib dipahami, hisab hanyalah perkiraan, bukan jadi standar utama dalam menentukan awal bulan. Ibaratnya seperti perkiraan cuaca. Jika diperkirakan hujan, belum tentu turun hujan. Makanya ulama kita, terutama dari kalangan Syafi’iyah sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Jangan pakai hisab sebagai patokan utama. Hisab itu hanyalah perkiraan.

Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan, “Tidaklah mereka –yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenal hisab kecuali hanya sedikit dan hisab itu tidak dipakai. Karenanya, beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan rukyatul hilal untuk menghilangkan kesulitan dalam menggunakan ilmu astronomi pada orang-orang di masa itu. Seterusnya hukum puasa pun selalu dikaitkan dengan rukyatul hilal walaupun orang-orang setelah generasi terbaik membuat hal baru (baca: bid’ah) dalam masalah ini.”

Ibnu Bazizah pun mengatakan, “Golongan (yang berpegang pada hisab sebagai rujukan utama dalam penentuan awal bulan, pen.) adalah madzhab yang keliru. Sungguh syariat Islam telah melarang seseorang untuk terjun dalam ilmu nujum. Karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (zhon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) bahkan bukan sangkaan kuat. Seandainya suatu perkara dikaitkan dengan ilmu hisab, sungguh akan mempersempit karena tidak ada yang menguasai ilmu tersebut kecuali sedikit.” (Lihat Fath Al-Bari, 4: 127)

Perkataan di atas bukan kami yang berkata, namun ulama besar yang mengutarakan. Bahkan hal ini didukung dengan perkataan beliau sendiri yang menyatakan bahwa beliau tidak mengenal hisab padahal hisab sebenarnya sudah ada di zaman beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080, dari ‘Abdullah bin ‘Umar).

Semoga Allah beri hidayah untuk merenungkannya.

Kenapa Jadwal Waktu Shalat Memakai Hisab?

Kenapa kalau dalam jadwal shalat memakai hisab boleh, kalau dalam penentuan awal bulan hijriyah tidak?

Jawaban simpelnya, jadwal waktu shalat itu memakai petunjuk posisi matahari dan itu setiap hari bisa berulang sehingga mudah diperkirakan. Sedangkan penentuan awal Ramadhan dengan bulan. Keduanya jelas berbeda, ditambah pula berbeda dalil.

Jawaban tambahan, yang dibebankan oleh syariat kepada kita dalam penentuan waktu-waktu shalat adalah menyesuaikan dengan posisi aktual (waqi’ al haal), misalnya maghrib adalah ketika matahari sudah tenggelam, dst. Perhitungan hisab dalam hal ini memberi informasi posisi aktual (waqi’ al-haal) bahwa pada jam sekian matahari dalam posisi sudah tenggelam, atau semacamnya. Berbeda dengan masalah menentukan awal bulan, yang dibebankan syari’at kepada kita adalah melihat hilalnya bukan mengetahui posisi aktual (waqi’ al haal) -nya. Ini sama sekali berbeda. (Sumber: )

Rukyatul Hilal dan Sidang Itsbat Hanya Buang-Buang Uang

Kalau ada lagi yang mengatakan, rukyatul hilal itu buang-buang biaya karena sidang itsbat sekali saja menghabiskan biaya besar.

Jawabannya, buang biaya karena mengikuti ajaran Rasul itu tak disebut boros. Sama halnya menghabiskan biaya besar untuk haji. Dan penulis yakin pula, untuk hisab pun mengeluarkan biaya yang tak kecil untuk membiayai pakarnya.

Ajaran rukyatul hilal telah terdapat dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

Ikutlah Pemerintah yang Sudah Menempuh Prosedur yang Benar

Ikut pemerintah RI biar tidak ragu karena penetapan pemerintah sudah tepat sesuai syariat:

Puasa Arafah, 9 Dzulhijjah 1436 H: Rabu, 23 September 2015

Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1436 H: Kamis, 24 September 2015.

Apalagi keputusan di atas sesuai keputusan Saudi Arabia untuk wukuf di Arafah pada hari Rabu dan Idul Adha pada hari Kamis.

Solusi gampangnya untuk masalah ini, kembalikan keputusan hari raya pada pemerintah. Baca . Dalil-dalil tentang hisab dan hilal .

Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah mudahkan beramal shalih.

Selesai disusun di pagi hari, 7 Dzulhijjah 1436 H di

Penulis:

Artikel

sumber : http://rumaysho.com/11914-puasa-arafah-berbeda-yang-dulu-dan-kini.html

 

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Senin,21 September 2015/7 Dzulhijjah 1436H

Print Friendly