Aku Berilmu, maka Aku AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR

Pertanyaan:

Mudah-mudahan Allah memberikan kebaikan kepada Anda. Ucapan itu [ucapan berdakwah haruslah di atas bashirah, di atas ilmu] apakah menjadi hujjah bagi seseorang yang mengatakan, “Saya tidak mampu untuk amar ma’ruf nahi mungkar dan saya tidak memiliki bashirah [ilmu]”?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahu ta’ala menjawab:

Jika ia tidak memiliki ilmu, maka jangan ia lakukan. Akan tetapi, hendaklah ia belajar dan Allah akan membuka pintu ilmu untuknya. Ia berdakwah kepadanya. Ia memberi petunjuk kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللّٰهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدّيْنِ

“Siapa saja yang Allah kehendaki dengannya kebaikan, Allah akan jadikan ia paham agama.” (HR. Muslim no. 2699)

Beliau juga bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju Surga.” (HR. Al Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Dan ia diperintahkan untuk belajar. Adapun jika ia meninggalkan belajar dan berhujjah dengan itu, maka tidak.

Akan tetapi, selama ia belum belajar, ia tidak menyibukkan diri dengan dakwah kepada sesuatu yang tidak ia ilmui. Sebaliknya, ia harus belajar sampai ia memulai pada dirinya [menerapkan ilmu pada dirinya], sehingga ia mengamalkan ketaatan kepada Allah dan berhati-hati dari bermaksiat kepada Allah pada dirinya. Jadi, ia pelajari apa yang telah Allah wajibkan kepadanya dan apa yang telah Allah haramkan kepadanya. Setelah itu, ia ajarkan manusia.

Perkara-perkara tersebut terbagi menjadi dua.

Pertama, perkara-perkara zhahir yang diketahui seorang muslim yang tidak membutuhkan belajar. Ia mengetahuinya, karena tumbuh di tengah-tengah kaum muslimin. Tampak jelas di tengah-tengah mereka. Seperti perincian-perincian ibadah kepada Allah semata, meninggalkan bergantung kepada selain Allah, baik itu berhala-berhala, para nabi, ataupun para nabi.

Hal-hal itu diketahui oleh seorang muslim yang tumbuh di tengah-tengah manusia dari kalangan orang-orang yang bertauhid. Tidak bergantung kepada kuburan-kuburan dan para wali. Ia ketahui dengan sendirinya. Seperti haramnya zina, haramnya khamr, haramnya homoseksual, haramnya durhaka pada orangtua, haramnya memotong tali silaturahmi, dan haramnya kesaksian palsu.

Maka, itu semua diketahui oleh seorang muslim dengan bergaulnya ia di tengah kaum muslimin. Dan ini adalah perkara-perkara yang disepakati padanya. Tidak ada khilaf. Tidak ada pertentangan. Karena itu, memungkinkan ia untuk melarang orang yang berzina dan orang yang menyebarkan sarana-sarana zina. Ia larang sambil mengatakan, “Wahai saudaraku, ini tidak boleh untukmu. Ini kemungkaran. Ini haram atasmu. Di dalamnya, dapat mendatangkan bahaya dan murka Allah kepadamu. Di dalamnya, ada batas-batas syariat.”

Demikian pula, apa-apa yang memabukkan. Ia bisa melarang hal itu. Sebab hal tersebut perkara yang jelas. Dan dengan itu ia berdakwah di atas ilmu dan bashirah.

Demikian pula, ia bisa memperingatkan orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya. Ia bisa memperingatkan orang yang mencela kedua orangtuanya. Yang berperangai buruk kepada mereka dengan ucapan dan perbuatan. Yang menyembunyikan persaksian yang benar. Yang menyebarkan sarana-sarana riba dan yang lainnya. Akan tetapi, sebagian permasalahan riba tersamarkan untuk sebagian manusia.

Karena itu, sebagian orang jika memiliki ilmu tentang sesuatu, maka ia berilmu tentang itu. Boleh baginya untuk mendakwahkan hal itu. Jika ia berilmu tentang berbagai hal yang mungkar, maka ia juga terkait hal-hal itu berilmu. Ia berdakwah untuk meninggalkan hal-hal itu dan memperingatkan darinya.

Adapun permasalahan-permasalahan lainnya yang tersamarkan, seperti sebagian permasalahan riba dan muamalah, maka ini tidak disampaikan kecuali dengan ilmu. Juga sebagian syubhat yang terkait dengan kesyirikan dan sebagian hal yang samar yang terkait dengan kesyirikan. Karena itu, jangan tergesa-gesa, sampai dipelajari dan sampai diamati bersama teman-temannya. Dan jangan sombong, tetapi ia senang dengan bermusyawarah bersama teman-temannya, membahas bersama mereka, dan bertukar-pikiran bersama mereka terkait apa-apa yang mengganjal di dalamnya.

RUJUKAN: Abdus Salam bin Abdillah Alu Sulaiman (Ed). Al Fawa-id Al ‘Ilmiyyah min Ad Durus Al Baziyyah: Fawa-id min Syarh Taisir Al ‘Aziz Al Hamid, Durus ‘Ilmiyyah Syarahaha Samahatusy Syaikh Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Juz I. Beirut: Dar Ar Risalah Al ‘Alamiyyah. 1430H/2009M, halaman13-15.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 4 Juni 2015/16 Sya’ban 1436H

Print Friendly