Aswaja Katanya Toleran, Kenapa Hanya Karena Tidak Ikut TAHLILAN Kok Diusir Dari Kampungnya?

Tidak Ikut Ritual Tahlilan Di Anggap Murtad

Di Desa ini, Ikhwan Salafi Divonis Murtad dan Diusir dari Kampung

CIREBON – Nasib malang menimpa Yahya Dahlan (23). Warga desa Sampiran Blok Pelaosan Kabupaten Cirebon ini dipaksa pergi meninggalkan kampung halamannya lantaran dianggap mengikuti ajaran sesat.

“Kami semua ada 9 orang. Karena tidak mengikuti tahlilan dan marhabanan, warga menilai kami sesat bahkan sudah dianggap keluar dari Islam,” kata Yahya saat ditemui di studio Radio Kita Cirebon, Sabtu (22/8/2015).

Dua hari lalu, saat tengah malam, Yahya di gerebek oleh warga untuk segera meninggalkan desa tempat kelahirannya.

“Tengah malam saat saya sedang tidur didatangin oleh banyak orang, mereka minta agar saya dan kawan-kawan yang tidak biasa ikut tahlilan untuk bertaubat atau keluar dari kampung,” ujarnya.

Dihadapan ratusan warga, Yahya dan beberapa kawan sepengajiannya disidang dan diminta untuk membaca kalimat syahadat.

“Saya dianggap sudah keluar Islam, karena itu warga dan kyai setempat meminta saya masuk Islam kembali dengan mengucapkan syahadat, kalau tidak mengucapkan syahadat maka saya diminta pergi meninggalkan kampung,” terangnya.

Dari 9 orang yang dianggap mengikuti ajaran sesat itu, 2 diantaranya menuruti permintaan warga dengan mengucapkan syahadat.

“Yang 2 teman saya mau mengucapkan syahadat, kalau saya tidak, karena saya merasa muslim,” jelasnya.

Informasi yang beredar pada masyarakat, Yahya dan kawan-kawannya menjadi pengikut aliran Assunnah. Padahal Assunnah bukanlah sebuah aliran, melainkan sebuah Yayasan Islam yang cukup dikenal dalam bidang dakwah dan pendidikan di Kota Cirebon.

“Saya dibilang pengikut aliran assunnah oleh mereka,” tegasnya.

Lari ke Ponpes Assunnah

Melihat banyaknya tekanan dan intimidasi, Yahya dan kawan-kawannya pergi meminta pertolongan ke Ponpes Assunnah tempatnya menghadiri pengajian.

Sekretaris Yayasan Assunnah, Diding Sobarudin, membenarkan bahwa 2 hari lalu Yahya dan kawan-kawannya datang ke lembaganya untuk mencari perlindungan.

“Iya, mereka datang kesini. Padahal mereka ini anak muda dan mereka berperilaku baik, tapi warga mengusirnya karena ada perbedaan pandangan dalam agama,” ujar Diding.

Pihak Yayasan Assunnah sendiri mencoba untuk memediasi masalah ini dengan mendatangi Polsek dan mengundang tokoh setempat.

“Kami sudah coba mediasi di Polsek tapi gak ada yang datang dari pihak warga dan kyai,” terangnya.

Sampai saat ini pihak kepolisian belum menanggapi dengan serius sehingga akan melaporkan ke Polres.

“Pihak warga masih ngotot mengusir Yahya dan kawan-kawannya, ini harus lapor ke Polres,” paparnya.

Diding menyebutkan,Yahya dan beberapa kawan di desa tersebut dikenal baik dan tidak pernah bermasalah dengan warga setempat.

“Mereka ini para pemuda yang baik, gak pernah ada masalah, hanya mereka tidak mau menghadiri tahlilan. Kepada masyarakat pun bersikap baik,”tegasnya.

Seperti diketahui, Assunnah adalah Yayasan Islam berlandaskan Ahlussunnah Waljama’ah sesuai dengan pemahaman Salafussholeh di kota Cirebon yang telah berdiri sejak tahun 1994. Saat ini menaungi pendidikan formal jenjang TK,SD,MTS dan MA dengan jumlah siswa 1300 orang. (bms)

sumber : https://www.facebook.com/pages/Gema-Islam/584264778289580?fref=photo

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Sabtu,22 Agustus 2015/7 Dzulkaidah 1436H

Print Friendly