Bahwa pada Umat-Umat yang Binasa Selalu Ada Pelajaran buat Kita

Dalam Mukhtashar Sirah Ar Rasul, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala mengatakan,

Tidak ada satu umat pun kecuali telah Allah utus ke tengah-tengah mereka rasul yang akan mengajak mereka untuk bertauhid dan melarang mereka dari kesyirikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, sudah betul-betul Kami utus pada setiap umat itu seorang rasul untuk menyerukan, ‘Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhi thagut-thaghut’.” (QS. An Nahl: 36)

Allah ta’ala juga berfirman,

ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَىٰ ۖ كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَّسُولُهَا كَذَّبُوهُ ۚ

“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Setiap datang rasul kepada umatnya, pasti akan didustakan oleh mereka.” (QS. Al Mu’minun: 44)

Dan ketika Allah menyebutkan  kisah-kisah di Surat Asy Syu’ara’ Allah ta’ala menutup setiap kisah dengan firmanNya,

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah). Akan tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”

Allah mengisahkan apa yang telah dikisahkan itu untuk kita [agar mengambil pelajaran] sebagaimana firmanNya,

 لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu betul-betul terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal. Bukanlah Al Qur-an itu kumpulan cerita yang dibuat-buat.” (QS. Yusuf: 111)

Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ingkari perbuatan sebagian orang dari umat tersebut. Allah ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka: Kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, Kaum Ibrahim, dan penduduk Madyan?” (QS. At Taubah: 70)

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada para sahabat beliau kisah-kisah tentang umat sebelum mereka agar mereka dapat mengambil pelajaran darinya

Demikian pula para ulama dalam menukilkan perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang terjadi antara beliau dan kaumnya. Apa yang beliau katakan kepada kaumnya dan apa yang kaumnya katakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama juga menceritakan perjalanan hidup para sahabat Rasulullah radhiyallahu ‘anhum, peristiwa-peristiwa yang terjadi antara para sahabat dan orang-orang kafir serta orang-orang munafik. Dan apa-apa yang mereka sampaikan tentang keadaan-keadaan para ulama setelah zaman para sahabat Rasulullah. Mereka lakukan semua itu agar mereka tahu, mana yang baik dan mana yang buruk.

Jika engkau memahaminya, maka, ketahuilah juga bahwa banyak rasul dan umat mereka yang tidak kita ketahui. Allah tidak mengisahkan mereka kepada kita.

Akan tetapi, Allah mengabarkan kepada kita kisah tentang kaum ‘Ad yang tidak pernah ada sebelumnya orang-orang seperti mereka. Ke tengah-tengah mereka itulah Allah utus Hud ‘alaihi as salam.

Keadaan mereka kemudian kita ketahui lewat apa yang telah Allah kisahkan di dalam kitabNya. Tauhid pun tegak di tengah para pengikut Hud sampai akhirnya lenyap setelah beberapa waktu yang kita tidak ketahui pasti lamanya.

Demikian pula tauhid tegak di tengah-tengah kaum Nabi Shalih. Sampai kemudian, tauhid itu lenyap di tengah-tengah mereka setelah beberapa waktu yang kita juga tidak ketahui pasti lamanya.

Setelah itu, Allah mengutus Ibrahim ‘alaihi as salam. Pada waktu itu, tidak ada seorang pun yang muslim di muka bumi ini. Lalu, terjadilah apa yang dilakukan oleh kaum beliau kepada beliau. Dan berimanlah kepada beliau istri beliau, Sarah. Kemudian, Luth ‘alaihi as salam. Dalam keadaan seperti itu, Allah menolong Ibrahim, meninggikan derajatnya dan menjadikannya pemimpin umat manusia.

Sejak munculnya Ibrahim, tauhid tidak pernah lenyap dari anak keturunannya, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Ibrahim ‘alaihi as salam menjadikan kalimat tauhid itu sebagai kalimat yang kekal di tengah keturunannya agar mereka kembali (kepada kalimat itu).” (QS. Az Zukhruf: 28)

Sumber: Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Mukhtashar Sirah Ar Rasul. Riyadh: Ri-asah Idarah Al Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’. 1423H/2002M, halaman 12-14.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Sabtu, 7 November 2015/24 Muharram 1437H

Print Friendly