Belum Memahami Islam Seorang Muslim yang Banyak Omong dan Bicara Sembarangan

Bahwa banyak omong dan bicara sembarangan itu akan berakibat fatal bagi seorang muslim, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Badr hafizhahullahu ta’ala membawakan sejumlah hadits Rasulullah dan perkataan para ulama salaf. Beliau mengatakan,

Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (hadits nomor 6474) dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

مَنْ ضَمِنَ لي ما بينَ لَحْيَيْهِ ورجليهِ ضَمِنْتُ لهُ الجنَّة

“Siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua jenggot dan kakinya, aku jamin untuknya Surga.”

Maksud “di antara kedua jenggot dan kakinya” adalah lisan dan kemaluan.

Meriwayatkan juga Imam Al Bukhari dalam Shahihnya (hadits nomor 6475) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (hadits nomor 74) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (Al Hadits)

Imam An Nawawi mengatakan dalam penjelasan hadits ini di Syarh Al Arba’in,

“Asy Syafi’i berkata, ‘Makna hadits ini, jika seseorang mau berbicara, hendaklah dipikirkan dulu. Jika jelas bahwa ucapannya itu tidak membahayakannya, berbicaralah. Tetapi jika jelas bahwa dalam ucapannya itu ada bahaya atau ia ragu tentangnya, maka tahan’. Dinukil juga dari sebagian ulama bahwa Asy Syafi’i pernah mengatakan, ‘Jika kalian yang membelikan kertas para malaikat pencatat amal, niscaya kalian akan banyak diam daripada banyak berbicara’.”

Dalam kitab Raudhatul ‘Uqala’ wa Nuzhatul Fudhala’ (halaman 45), Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al Busti mengatakan,

“Yang wajib bagi seorang berakal adalah senantiasa diam sampai dituntut untuk berbicara. Sebab, betapa banyak orang yang menyesal jika bicara dan betapa sedikit orang yang menyesal jika diam. Orang yang paling panjang deritanya dan paling besar musibahnya adalah orang yang diuji dengan lisan yang banyak omong dan hati yang tertutup.”

Ibnu Hibban juga mengatakan (halaman 47),

“Yang wajib bagi orang berakal adalah lebih menggunakan telinganya daripada mulutnya. Dan hendaklah diketahui bahwa dijadikan untuknya dua telinga dan satu mulut agar ia lebih banyak mendengar daripada banyak bicara. Sebab jika ia bicara, seringkali ia menyesal. Jika ia tidak bicara, tidaklah menyesal. Dan itu lebih mudah menarik apa yang belum ia ucapkan daripada menarik apa yang telah ia ucapkan. Kalimat itu jika sudah diucapkan akan menguasai dirinya dan jika belum diucapkan ia akan menguasai ucapannya.”

Dan beliau juga mengatakan (halaman 49),

“Lisan orang yang berakal itu di belakang hatinya. Jika ia hendak berkata, ia meminta pendapat hatinya. Jika bermanfaat baginya, ia katakan. Jika tidak, ia urungkan. Adapun orang bodoh, hatinya itu di ujung lisannya. Apa yang dikehendaki lisannya ia ucapkan. Tidaklah paham agama orang yang tidak bisa menjaga lisannya.”

Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (hadits nomor 6477) dan Imam Muslim dalam Shahihnya (hadits nomor 2988)—dan ini lafaz milik Imam Muslim—dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba betul-betul mengucapkan suatu kalimat yang tidak dipikirkan terlebih dahulu maknanya yang dengannya akan menjerumuskan dirinya ke dalam Neraka, lebih jauh daripada timur dan barat.”

Di akhir hadits wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi (hadits nomor 2616) dan beliau berkata, “Hadits hasan shahih,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Dan tidaklah tersungkur wajah-wajah manusia atau moncong-moncong mereka ke dalam Neraka, kecuali karena hasil perbuatan lisan-lisan mereka?”

Beliau ucapkan itu sebagai jawaban untuk pertanyaan Muadz radhiyallahu ‘anhu, “Wahai nabi Allah apakah kita akan ditulis dosa karena yang kita ucapkan?”

Al Hafizh Ibnu Rajab, dalam penjelasan hadits itu di kitab beliau, Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam (2/147), mengatakan,

“Yang dimaksud ‘hasil perbuatan lisan-lisan mereka’ adalah balasan terhadap perkataan-perkataan yang diharamkan dan akibat-akibatnya. Sebab sesungguhnya seseorang itu menanam berbagai ucapan dan perbuatannya yang baik dan yang buruk. Setelah itu, pada hari kiamat, ia akan memanen apa yang telah ia tanam itu. Karenanya, siapa yang menanam kebaikan dari itu ucapan atau amalan, ia akan memanen pahala. Dan siapa saja yang menanam keburukan dari ucapan dan amalan, ia nanti akan memanen penyesalan.”

Ibnu Rajab juga mengatakan (2/146), “Itu menunjukkan bahwa menahan, mengekang, dan menjaga lisan adalah pokok kebaikan seluruhnya. Dan siapa yang lisannya menguasai dirinya, maka sungguh lisannya itu menguasai, menentukan, dan mengekangnya.”

Dinukil dari Yunus bin Ubaid (2/149) bahwa beliau pernah mengatakan, “Belum pernah aku melihat seorang pun yang ia memikirikan apa yang ia ucapkan, kecuali kulihat kebaikan pada seluruh amalnya.”

Dari Yahya bin Abi Katsir, beliau pernah mengatakan, “Tidaklah baik perkataan seseorang itu, kecuali kulihat itu dari seluruh amalannya. Dan tidaklah rusak perkataan seseorang itu, kecuali kulihat itu pada seluruh amalannya.”

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya (hadits nomor 2581) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا : الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلا مَتَاعَ ، فَقَالَ : إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu, siapa orang yang bangkrut itu?”. Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut, di tengah kami, adalah orang yang tidak punya dirham dan harta apapun.” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, orang yang bangkrut di tengah umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat nanti membawa pahala shalat, shaum, dan zakat. Tetapi ia datang juga dengan dosa mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang yang ini. Maka, yang ini ditebus dengan pahalanya yang itu dan yang itu ditebus dengan pahala yang ini. Jika habis pahala-pahalanya sebelum ditebus semuanya, akan diambil dari kesalahan-kesalahan mereka dan dilimpahkan kepadanya. Setelah itu, orang tersebut dilempar ke dalam Neraka.”

Dan dalam Shahihnya (hadits nomor 2564), Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebuah hadits yang panjang yang di akhirnya,

بِحَسْبِ امْرِيْ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ كُلٌ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Cukuplah seseorang itu berbuat jahat ketika ia merendahkan saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lainnya haram darah, harta, dan kehormatannya.”

Imam Al Bukhari dalam Shahihnya (hadits nomor 1739) dan Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan—dengan lafaz milik Imam Al Bukhari—dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di depan orang-orang pada hari Idul Adha. Beliau bertanya,

فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا قَالُوا يَوْمٌ حَرَامٌ قَالَ فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا قَالُوا بَلَدٌ حَرَامٌ قَالَ فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا قَالُوا شَهْرٌ حَرَامٌ قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فَأَعَادَهَا مِرَارًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ

“Wahai manusia, hari apakah ini?”. Para sahabat menjawab, “Hari yang suci.” Beliau bertanya lagi, “Negeri apakah ini?”. Mereka menjawab, “Negeri yang suci.” Beliau kembali bertanya, “Bulan apakah ini?”. Mereka menjawab, “Bulan yang suci.” Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan-kehormatan kalian atas kalian haram, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di negeri kalian ini, di bulan kalian ini.” Beliau mengulanginya beberapa kali. Setelah itu, beliau tengadahkan kepala beliau dan bersabda, “Ya Allah, bukankah telah kusampaikan? Ya Allah, bukankah telah kusampaikan?”.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Maka, demi yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh itu adalah wasiat beliau kepada umat beliau. Karena itu, hendaklah yang mengetahuinya menyampaikan kepada yang tidak hadir, ‘Janganlah kalian sepeninggalku nanti kafir kembali. Masing-masing membunuh satu sama lain’.”

Imam Muslim dalam Shahihnya (hadits nomor 2674) meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa saja yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa terkurangi dosa mereka sedikit pun.”

Berkata Al Hafizh Al Mundziri, dalam At Targhib wa At Tarhib (1/65), sebagai catatan terhadap hadits, “Jika mati anak Adam, terputuslah amalnya kecuali salah satu dari tiga amalan ini…” (al hadits),

“Orang yang menulis ilmu bermanfaat baginya pahala dan pahala orang yang membacanya, menulisnya atau yang mengamalkan setelahnya selama masih ada tulisan dan yang mengamalkannya, karena hadits ini atau hadits yang semisalnya. Orang yang menulis sesuatu yang tidak bermanfaat yang mendatangkan dosa untuknya baginya dosanya dan dosa orang yang membacanya, menulisnya, atau mengamalkan setelahnya selama masih ada tulisan dan yang mengamalkannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits ([misalnya hadits] ‘Siapa yang mencontohkan kebaikan atau keburukan…’). Wallahu a’lam.”

Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (hadits nomor 6502) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

‘Sesungguhnya Allah berkata: Siapa yang memusuhi waliKu, maka sungguh Kuumumkan perang kepadanya…’.” (al hadits)

Sumber: Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad Al Badr. Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah. TTp: TPn. TTh, halaman 6-8.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat,20 November 2015/7 Safar 1437H

Print Friendly